Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Demam


__ADS_3

Hari menjelang pagi. Nampak pada kediaman Harvan sedikit berbeda. Biasanya Delima dan putri kecilnya selalu melengkapi riuhnya aktivitas dapur tapi kali ini tidak. Pasalnya sang ibu setelah kejadian semalam ia jatuh sakit. Tubuhnya demam dan menggigil.


Delima masih terbaring di kamar di temani Harvan yang duduk di sampingnya, sementara Harin terlihat sudah rapi, sepertinya putri kecil itu telah mandi bersama ayah tercintanya.


“Maaf hari ini aku tidak bisa melakukan aktivitasku.” Kata Delima.


“Ya gak apa-apa, kau demam jadi kau harus istirahat. Aku sudah menelepon dokter pribadi mungkin sebentar lagi datang.” Kata Harvan.


“Maaf aku jadi merepotkan.”


“Gak ada yang merasa di repotkan, kamu jangan berpikiran macam-macam sayang. Pokoknya kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih kembali.”


Delima mengangguk pelan, kemudian “Kenapa kau masih disini? Bukan kah kau harus kerja? Jodi pasti sudah menunggu di bawah.”


“Aku ingin menemanimu di rumah, pekerjaan kan ada Jodi, dia bisa menghendle kerjaan aku kok.”


“Sayang, aku gak apa-apa, nanti juga baikan. Kamu Berangkatlah.”


“Aku tidak mau kerja. Di kantor juga gak akan konsen kalau kamu sakit. Lagi pula hari ini tidak ada meeting, jadi pekerjaan buatku hari ini santai.”


Tok tok suara pintu d ketuk, dari balik pintu terlihat Jodi menampakan wajahnya. Kemudian wajah nya mengisyaratkan sebuah pertanyaan, karena Harvan berada di kamar putrinya dan belum berpakaian stelan kantor.


Lalu Harvan meminta ijin pada Delima untuk berbicara dengan Jodi. Akhirnya Harvan dan Jodi pergi menuju ruang makan meninggalkan Delima yang terbaring di kamar.


“Dia demam.” Kata Harvan.


“Demam? Rasanya kemarin gak apa-apa. Jangan-jangan demam efek karena benteng pertahanannya udah elo jebol ya? haha.” Kelakar Jodi sembari mengambil menu sarapannya.


“Ah gila luh! Bukan Jod, semalam kita cerita banyak hal mengenai masalahnya dan teman dia yang bernama Intan itu. Dia syok setelah tahu bahwa Intan temennya itu adalah istri gue.”


“Serius luh! Jadi mereka orang yang sama?!.” Jodi sedikit terkejut.


“Iya, semalam gue kasih lihat dia video dan foto-foto Intan. Yang bikin dia syok adalah bahwa ternyata selama ini dia ketemu sama Intan yang sudah meninggal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.”


“Pantas saja kalau begitu. Terus elo udah telepon dokter Wisnu? Buat periksa dia?.”


“Udah.. katanya si Wisnu masih prakter abis praktek dia baru ke sini.”


“Oh syukur deh kalau gitu. Oya? Terus elo tanya masalah dia gak?.”


“Iya gue tanya juga dan dia cerita semuanya.” Kemudian Harvan menceritakan semua masalah yang Delima ceritakan padanya waktu malam tadi.


“Oke. Gue juga percaya sama apa yang Delima bilang. Ya udah gue mau suruh team gue buat nyelidikin si Almira sama pengusaha itu.”


Akhirnya setelah selesai sarapan, Jodi berangkat ke kantornya sendiri sementara Harvan tinggal di rumah untuk menemani Delima.


Setelah Jodi meninggalkannya, Harvan membawa sarapan untuk Delima.


“Den biar saya saja yang bawa keatas.” Kata bu Nanah.


“Tidak usah bu biar saya saja.” Lantas Harvan berlalu ke kamar dimana Delima tengah berbaring dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Delima.

__ADS_1


Pada saat Harvan masuk kedalam kamar nampak Delima yang tengah berbaring dengan ponsel di tangannya sedikit terkejut dan menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya. Harvan menyadari hal itu.


Kemudian ia duduk di sebelah Delima dan menyodorkan telapak tangannya sebagai isyarat agar Delima menyerahkan ponselnya.


“Jangan ada rahasia lagi di antara kita, mana aku ingin lihat apa yang kamu lihat tadi!.”


“Ta-tapi…” Delima tak meneruskan kata-katanya karena ia melihat sorot mata tajam suaminya seakan memaksanya untuk menyerahkan ponselnya itu. Dengan terpaksa ia menyerahkan ponselnya.


Delima menundukkan pandangannya setelah ponselnya itu sudah berada di tangan suaminya. Terlihat wajahnya mulai memerah saat sang suami mulai melihat-lihat layar ponselnya.


Harvan menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya kala ia mengamati layar ponsel milik Delima.


“Jadi ini yang membuat kamu tadi terkejut hehe… Sejak kapan kamu mencuri gambarku diam-diam hah?.” Delima masih diam dan terlihat wajahnya semakin memerah.


“Tapi tidak ada foto kita sedang berdua.” Kemudian Harvan mendekat dan selfie bersama Delima menggunakan ponsel tersebut. Beberapa pose telah di ambil bahkan sengaja Harvan membuat foto pada saat ia tengah menciumi Delima.


“Nah sekarang di ponselmu sudah ada foto kita berdua, kamu bisa kapan saja melihatnya. Sekarang ayo makan dulu.” Kata Harvan menyerahkan ponsel Delima kembali dan mulai menyuapi Delima.


“Aku bisa makan sendiri.” Delima masih malu tertangkap basah oleh suami ketika dia tadi tengah memandangi wajah suaminya dalam ponsel.


“Aku ingin menyuapimu hari ini.” Delima tak bisa menolak dan membuka mulutnya.


“Mulai saat ini tidak usah malu lagi padaku. Sekarang kan kau sudah jadi istriku dan kau adalah nyonya di rumah ini. Jadi kau harus terbiasa.” Jelas Harvan.


“Dan satu lagi! Aku tak mengijinkanmu bekerja. Jadilah ibu rumah tangga yang baik, tugasmu menjaga dan mendidik anak-anak kita serta menjaga kehormatanku dan nama baikku. Kau mengerti?.” Kata Harvan dan Delima mengangguk.


“Jika kau ingin kerja karena sayang dengan ilmu yang telah kau raih, nanti akan ada waktunya kau berkarier. Namun saat ini aku masih melarangmu untuk bekerja. Ku harap kau patuh padaku.” Sambung Harvan yang kembali menyuapi istrinya.


“Aku akan patuh apa pun itu.”


Ditengah-tengah kebersamaan mereka terdengar pintu di ketuk. Ternyata bu Nanah memberi tahu kalau dokter pribadi mereka telah datang dan hendak memeriksa Delima.


Setelah di persilahkan akhirnya dokter Wisnu memeriksa Delima. Walaupun pada saat melihat Delima dokter Wisnu sedikit terkejut karena wajahnya mirip dengan Intan namun setelah Harvan menjelaskan, dia akhirnya mengerti.


Dokter Wisnu memeriksa Delima kemudian setelah selesai, ia memberikan obat penambah darah dan penurun panas kemudian ia pergi meninggalkan kediaman mereka.


Sepeninggalan dokter Wisnu, Harvan mengambil obat tersebut dan memberikan pada Delima untuk di minumnya.


“Jangan terlalu berlebihan memperlakukan aku, aku baik-baik saja hanya sedikit demam kok. Aku gak mau merepotkanmu.” Kata Delima pada sang suami karena merasa dilayani dan itu membuat ia merasa tidak enak.


“Kau harus mengerti aku sayang… aku memang seperti ini. Jika suatu saat aku sakit perlakukanlah diriku seperti aku memperlakukanmu saat ini.”


“Baik aku pasti melakukannya. Dari dulu kau seperti ini?.”


“Iya aku selalu memperlakukan orang-orang yang ku cintai seperti ini.”


“Pantas saja kalian saling mencintai, karena kalian memperlakukan satu sama lain dengan indah.”


“Kau suka caraku seperti ini?.”


“Wanita mana yang tak suka di perlakukan seperti ini? Kau sangat romantis suamiku.”

__ADS_1


“Selain romantis aku tampan dan mapan iya kan?.”


Delima mengangguk seraya tersenyum. Kemudian,


“Dan satu lagi, permainan ranjangku sangat memuaskan.” Mendengar itu dada Delima berdegup kencang dan terlihat ia sedikit salah tingkah.


“Hehe… kau jangan takut, aku lembut memperlakukan wanitaku. Apa kau mau coba sekarang?.” Goda Harvan. Terlihat wajah Delima kembali memerah dan Harvan menyunggingkan senyumannya.


“Kalau kau belum siap aku tidak akan memaksamu. Lagi pula sekarang kau sedang sakit. Aku akan melakukannya saat kita sama-sama telah siap. Jadi kau jangan takut.”


“Ma-maaf… aku belum bisa….”


“Aku mengerti sayang… aku pun belum bisa melakukannya dan aku belum siap. Ku harap kau mengerti juga.” Kata Harvan seraya mencium wanitanya.


“Sekarang Istirahatlah dan jangan pikirkan macam-macam. Aku akan menemani putri kita dulu.”


“Biarkan dia belajar disini, aku tidak mau sendiri.” Pinta Delima.


“Baiklah aku akan bawa dia kesini.” Kata Harvan yang kemudian keluar dari kamar itu untuk menemui putrinya dan membawanya ke kamar. Karena sewaktu tadi Delima di periksa oleh dokter, Harin di bawa bu Nanah ke taman samping rumah.


Tak lama Harvan kembali ke kamar membawa putrinya dalam pangkuan.


“Kata dokter ibu sakit apa?.” Tanya gadis kecil itu seraya naik ke atas tempat tidur dimana ibunya terbaring.


“Ibu gak sakit apa-apa sayang…. Hanya demam saja.” Jawab Delima.


“Sayang, ayo disini jangan ganggu ibu, biarkan ibu istirahat. Hari ini biar ayah yang menemanimu belajar.” Harvan memanggil putrinya untuk mendekat ke arahnya yang berada pada sofa.


Delima memandangi suami dan putrinya yang tengah duduk di sofa itu. Tak terasa menetes buliran bening pada kedua pipinya, “Terima kasih Intan. Aku janji akan menjaga mereka berdua dan mencintai mereka seperti cintamu pada mereka.” Bathin Delima.


Harvan



Delima



Intan



Jodi



Harin



💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan🤗


Makasih🥰


__ADS_2