
Jodi dan Harin telah sampai di pulau Bali. Mereka tengah menempuh perjalanan ke salah satu hotel bintang lima di daerah kuta Bali. Dimana di hotel itu tempat Harvan dan Delima menginap.
Jodi mendapatkan lokasi Harvan dan Delima menginap tentunya dari teamnya yang melakukan pengawalan terhadap meraka.
Harvan tidak tahu kalau hari itu Jodi dan putrinya datang ke tempat yang sama untuk membalas dendam karena telah dikelabui.
Betapa senangnya putri kecil itu saat menginjakan kaki untuk pertama kalinya di pulau Bali.
“Kau senang sayang?.” Tanya Jodi.
“Iya om aku sangat senang sekali.”
“Ayo sekarang kita masuk kamar dulu untuk istirahat kemudian nanti kita menemui ayah dan ibu mu.”
“Apa ayah dan ibu juga ada disini om?.”
“Iya mereka sudah menunggu kita di sini.”
Terpancar keceriaan pada wajah anak itu kala ia mendengar bahwa ayah dan ibu nya telah menunggu mereka. Padahal sebenarnya tidak sama sekali, karena ayah dan ibu nya tengah Honey Moon di tempat ini berdua saja, tanpa tahu kalau kehadiran putrinya justru akan mengejutkan mereka.
Bukan secara kebetulan Jodi memesan kamar tepat di sebelah kamar hotel Harvan, tapi segalanya telah ia rencanakan bersama team nya, agar pembalasan yang ia buat semakin sempurna.
‘Siap-siap luh ya sebentar lagi kena serangan jantung luh, haha.’ Bathin Jodi.
Kemudian Jodi dan Harin masuk ke dalam kamar mereka. Betapa senangnya saat Harin memasuki kamar mewah itu.
“Waw! Kerem sekali om kamarnya.” Harin membulatkan bola matanya saat melihat interior dari kamar yang akan ia tinggali bersama om nya itu.
“Kamu suka sayang?.”
“Suka sekali om. Oya terus kamar ayah dan ibu dimana om?.”
“Kamar ayah dan ibu di sebelah sayang.”
“Oya?? Apakah aku boleh menemui ayah dan ibu sekarang om?.”
“Tentu saja boleh sayang… tapi bagaimana kalau kita kasih kejutan kepada mereka.”
“Seperti apa kejutannya om?.”
“Kalau ayah dan ibu tanya, kamu bersama siapa datang? Katakan kamu datang sendiri.”
“Baik om.”
“Ya sudah sana, temui ayah dan ibumu nanti om nyusul.”
‘Mampus luh haha.’ Bathin Jodi yang ditujukan kepada Harvan.
Kemudian Harin berlalu keluar kamarnya menuju kamar sebelah. Sementara Jodi membereskan barang dirinya dan Harin yang ia bawa.
Di kamar sebelah nampak Harvan tengah melakukan ritual penyatuan diri dengan istrinya. Pada saat mereka tengah menikmati setengah permainan ritualnya, di tengah jalan tiba-tiba mereka mendengar suara pintu kamar di ketuk oleh seseorang.
Karena tengah menikmati pergulatannya Harvan tidak mendengar dengan jelas suara ketukan itu, lain hal nya dengam Delima, ia mendengar jelas pintu kamar mereka di ketuk dan mengejutkannya.
“Sayang… ada yang mengetuk pintu.” Kata Delima menepuk dada suaminya yang tengah asik melakukan gerakan tarik ulur.
“Hm… aku tak mendengarnya sayang… oh.”
“Hentikan dulu, coba kau dengar sayang.”
“Kamu salah dengar kali sayang oh… oh..”
“Sayang… buka dulu pintunya ayo, nanti kita lanjut lagi.”
“Lagi tanggung ini sayang Mh… ah…”
__ADS_1
“Tuh dengar ketukannya semakin keras.”
Karena Delima terus berbicara membuat konsentrasinya buyar dan memang benar ketukan pada pintu itu sekarang terdengar jelas olehnya.
“Ah… ganggu saja! Siapa sih ah.” Sedikit kesal Harvan beranjak dari atas tubuh Delima, kemudian ia mengambil bathrobe lalu memakainya dan berjalan ke arah pintu kamar. Sementara Delima masuk kedalam kamar mandi.
Sesampainya di depan pintu kamar, kemudian Harvan membukanya, betapa terkejutnya saat ia melihat sosok kecil berdiri di depan pintu tersenyum dan berteriak kepadanya.
“Ayaaaah.” Teriak Harin dengan merentangkan tangannya hendak memeluknya, refleks Harvan meraih tubuh kecil itu memangkunya serta menciumnya, rasa kesal karena aktivitas bersama istrinya terganggu hilang seketika.
“Sayang ayah… kamu ada disini nak.” Harvan membulatkan matanya, ia tak percaya kalau putrinya kini ada di hadapannya. Benar saja jantungnya hampir copot karena kehadiran putrinya begitu mengejutkannya. Kemudian ia bawa tubuh mungil itu masuk kedalam kamarnya.
“Kamu kapan sampai sayang? Dengan siapa kamu datang? Kenapa tak kabari aya terlebih dahulu sayang?.” Dengan pelukan eratnya Harvan menanyai putri kecilnya.
“Kata om Ijong ayah yang menyuruhku untuk datang kesini karena ayah dan ibu telah menungguku disini.”
Mendengar ucapan putrinya ia langsung merekatkan giginya, “Jodiiiii…… awas kau!!!!.” Bathin kesal Harvan.
“O-oh iya, Mh ayah menyuruh om kamu untuk menyusul kesini hehe.. Dimana kamarmu sayang?.”
“Di sebelah, ayah.”
Mendengar ada suara anak kecil tengah berbincang dengan suaminya segera Delima keluar dari kamar mandinya. Delima pun di buat terkejut dengan kehadiran Harin.
“Sayang… kamu disini??.” Delima langsung meraih tubuh kecil itu dari pangkuan suaminya lantas menciumnya.
“Kau tidak bilang padaku kalau anak kita akan nyusul kesini?.” Tanya Delima pada Suaminya.
“Hehe.. kejutan sayang.” Jawab Harvan seraya menggaruk kepalanya meski tak gatal, ia sedikit gugup. Padahal dia pun merasa terkejut dengan kehadiran putrinya dan tidak tahu kalau putrinya akan datang hari itu.
“Iya ibu… kata om Ijong kita akan buat kejutan untuk ayah dan ibu.” Kejujuran melesat dari bibir mungil gadis kecil itu membuat Harvan ingin cepat membunuh asistennya itu.
“Tahu tidak?! Kalian telah berhasil membuat ayah dan ibu terkejut sayang.” Kata Delima seraya menciumi putrinya itu, kemudian
“Baiklah sayang kamu bersama ibu dulu disini ya? ayah mau menemui om kamu dulu di kamar sebelah.” Kata Harvan seraya masuk kedalam kamar mandi hendak memakai pakaiannya, tak berapa lamu ia keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan memakai pakaian santainya.
“Ngapain luh disini?!.” Kata Harvan dengan berkacak pinggang memasang muka kesalnya.
Mendengar suara Harvan Jodi membalikan badannya.
“Eh elo ada disini Har?.” Ledek Jodi seolah terkejut melihat kehadiran Harvan.
“Sialan luh anjir!! Drama!!.” Harvan menyerang dengan meninju lengan Jodi. Namun Jodi mampu menangkisnya.
“Haha… surprise…..” kelakar Jodi.
“Heh bajingan! Kenapa elo gak kabari gue dulu kalau mau kesini?!.”
“Elo sendiri gak kabari gue kalau lagi honeymoon di sini. Pake pura-pura segala urusannya belom kelar. Gue tahu masalah Delima selesai dari kemaren-kemaren tahu gak luh! Kenapa gak jujur aja sih! Gak mau di ganggu honeymoon nya gitu?.”
“Eh ngapain juga gue kasih tahu elo ya?.”
“Ya udah… jangan protes juga kalau gue sekarang ada disini dong.”
“Sialan luh! Ganggu gue aja!.”
“Eh gue gak bakalan ganggu acara ritual elo tahu! Tapi minimal kabarin gue sama putri elo, enak aja luh seneng-seneng disini sementara di sana putri elo nunggu elo balik! Elo gak kasihan sama dia hah!.”
“Eh gue mau ajak dia kesini buat nyusul tapi gak sekarang-sekarang ini, elo aja yang sok tahu, langsung nyusul aja kesini.”
“Terus sekarang gimana? Mau usir gue gitu dari sini, oke gue balik lagi sama Harin sekarang.”
“Gila luh!!.” Harvan merebut minuman di tangan Jodi dan menenggaknya lantas duduk di atas kursi yang berada di balkon tersebut.
“Udah berapa ronde dari pertama datang kesini sampai hari ini? Hem! Haha.”
__ADS_1
“Pertanyaan gak penting tahu gak?!.” Harvan dengan wajah kesalnya.
“Ya udah sana lanjutin, gue mau jalan-jalan sama Harin.”
“Gimana urusan kantor?.”
“Ada Diana yang handle. Gue sama Harin juga butuh hiburan, dan gue pastikan gak bakalan ganggu elo. Harin tidur sama gue di sini. Jadi elo gak usah khawatir.”
“Iya tapi kalau ada Harin Delima pasti pengen tidur sama Harin, Jod.”
“Tenang aja, nanti gue yang urus. Oya gimana kasus Delima?.” Tanya Jodi mengganti topik pembicaraan.
“Katanya elo udah tahu? Emang si John gak ngasih tahu?.”
“Dia cuma ngasih tahu urusannya sudah selesai doang, tapi belum cerita proses nya.”
“Ya gitu… Ketahuannya dari keterangan mereka aja yang berbelit-belit. Ternyata yang bunuh pengusaha itu asistennya sendiri. Dan si Almira sama sekali tidak tahu menahu kalau yang bunuh itu asistennya, makanya dia nuduh Delima langsung.”
“Motif pembunuhannya apa? Kok bisa asistennya bunuh Boss nya?.”
“Motif pembunuhannya di latar belakangi karena rasa cemburu si asisten, karena memang si asisten punya hubungan sama si Almira itu. Di akhir kebongkarlah semua. Dan sekarang si Almira depresi. Waktu itu Delima cuma di mintai keterangan selama tiga hari, dan di hari ketiga itu ketahuan siapa pembunuhnya, akhirnya kita pulang dari Surabaya kesini.” Jelas Harvan.
“Jadi kalian cuma tiga hari doang di sana?”
“Iya.”
“Sisanya kalian tinggal disini?.”
“Iya.”
“Jahat luh ya? Bersekongkol sama team gue? Bisa-bisanya kalian drama sampai gue gak tahu gitu.”
“Surprise…… hehe.”
“Surprise… Surprise…. Apaan kayak gini? Hem!.” Gerutu Jodi.
“Hehe.. Sorry Jod, tadinya memang gue mau pulang cuman kepalang tanggung mumpung di Surabaya jadi langsung aja kita kesini.”
“Pantesan gue curiga beberapa hari kok kagak ada kabarnya tuh kasus, gak tahunya memang udah kelar. Sialan luh semua!.”
“Heh! Tapi kan elo udah balas dengan ngasih Surprise juga ke kita, tiba-tiba aja bawa Harin suruh masuk kamar gue padahal tadi gue lagi enak-enaknya! Gak bisa apa nunggu waktu sebentar aja!.”
“Mana gue tahu kalau elo lagi enak-enak! Coba kalau elo jujur sama gue gak bakalan tuh acara enak-enaknya jadi enek, hah!.”
“Udah ah pokoknya besok kita balik!.”
“Apa! Enak aja! Elo aja tuh sama Delima yang balik, gue sama Harin baru datang masa langsung balik lagi. Pokoknya gue ijin seminggu di sini sama Harin!.”
“Heh! Lama banget… kerjaan gimana tuh elo tinggalin?.”
“Kan elo mau balik! Ya udah elo yang kerja sono.”
“Eh gue heran ya sama elo, berani bener luh sama gue, kayaknya cuma elo deh di dunia ini asisten yang berani ngebantah sama Boss nya!.”
“Bodo amat! Pecat pecat deh gue ah.. sono ah gue mau istirahat, balikin Harin kesini entar ganggu kalian lagi!.”
“Sialan luh!.”
“Bodo…..” Kata Jodi seraya berlalu dari balkon menuju ke tempat tidur dan langsung membenamkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut.
“Heh! Kalau bukan karena bokap gue! Elo udah gue pecat luh tahu gak!! Hih!!.” Harvan melempar bantal ke kepala Jodi lantas meninggalkan kamar itu.
Setelah Harvan keluar dari pintu kamar, “Mampus luh! Gue kerjain haha.” Kata Jodi yang kemudian membalikan tubuhnya tiarap di atas tempat tidur.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Jangan lupa Like, favorite, hadiah, Vote & komen nya gais🤗
Haturnuhun 🥰