Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Sampai jumpa


__ADS_3

Hidup memang sulit di terka. Entah hari esok kita masih bisa merasakan kebahagia atau tidak. Namun itu lah kenyataan nya bahwa susah dan senang akan selalu silih berganti pada setiap makhluk.


Hari ini adalah 40 hari setelah kepergian Harvan. Di kediamannya semua telah berkumpul, diantaranya adalah, pak Budi dan bu Irma orang tua Harvan, Jodi serta dua orang notaris yang akan menyampaikan wasiat yang Harvan tinggalkan.


Dari sekian banyak harta peninggalan Harvan diantaranya adalah perusahaan-perusahaannya, tanah dan bangunan yang berada di dalam dan luar negeri, serta aset-aset lainnya. Harvan berikan sebagian pada orang tua nya, istrinya yang sekarang (Delima), putrinya, beberapa yayasan anak yatim dan panti jompo, Revy putrinya Selvy, dan tak lupa juga untuk Jodi.


Kok Othor mah gak kebagian ya? 😃🤭 gak papa othor mah ngayal lagi aja nanti🤪


Dengan rinci dan teliti notaris membacakan wasiat yang ditinggalkan pria baik itu. Semua di buat terkejut atas wasiat tersebut. Bagaimana tidak? Bukan karena othor gak kebagian 🤣, tetapi mereka sangat tidak menyangka kalau Harvan telah mempersiapkan segalanya untuk masa depan orang-orang yang dekat dengan nya.


Hanya saja pada kesempatan ini timbul kebimbangan dalam benak pak Budi karena ia bingung, bagaimana mengurusi seluruh perusahaan Harvan yang tersebar di dalam dan luar negeri itu, mengingat pak Budi masih menjabat sebagai pejabat di pemerintahan pusat sehingga tidak mungkin dapat mengurusi perusahaan putranya, apalagi mengingat cucunya sebagai pewaris masih sangat muda. Akhirnya pak Budi meminta kesediaan Jodi untuk mengurus perusahaan Harvan sampai putrinya tumbuh dan siap untuk memegang perusahaan tersebut.


Awalnya Jodi menolak, karena kepergian sahabat sekaligus Boss nya itu membuat ia merasa tidak bersemangat lagi untuk bekerja sehingga ia memutuskan ingin melepaskan pekerjaan dari perusahaan tersebut. Namun karena pak Budi memohon pada Jodi, akhirnya dengan terpaksa Jodi mau menerimanya asalkan semua yang mengontrol dari kemajuan perusahaan itu adalah pak Budi sendiri.


Akhirnya mereka bersepakat dan sedikit masalah pun dapat di atasi.


Sementara itu, Selvy dan Revy yang mendengar bahwa mereka mendapatkan bagian dari harta peninggalan Harvan, tak henti-hentinya mereka bersyukur.


Sungguh, Segala yang berada di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya. Sejauh apa pun dan berada di tangan siapa pun! Jika sesuatu itu memang rejeki kita, cepat atau lambat sesuatu itu akan datang pada kita.


Namun, sekuat apapun kita ingin meraih sesuatu, jika memang bukan untuk kita, sampai mati pun kita tak akan pernah mendapatkannya.


Mereka yang mengenal Harvan sangat bersyukur telah menerima sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


Harta hanya titipan, dan harta tidak akan pernah bisa di bawa mati kecuali kita memberikannya kepada yang berhak. Maka itu akan menjadi bekal kita di kampung akhir dan akan menjadi kifarat dosa-dosa kita.


Datang akan pergi


Lewat 'kan berlalu


Ada 'kan tiada… bertemu akan berpisah


Awal 'kan berakhir


Terbit 'kan tenggelam


Pasang akan surut…. bertemu akan berpisah


Hey, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu.

__ADS_1


^^^(Lagu Endank Soekamti)^^^


..................


Sementara itu waktu yang kian bergulir dan sampailah pada keputusan pengadilan atas pembunuhan yang di lakukan Reyhan terhadap Harvan.


Pengadilan memutuskan menjatuhkan hukuman mati pada Reyhan Karena ia telah melakukan pembunuhan berencana, dan tindak pidana pembunuhan berencana diatur dalam Pasal 340 KUHP, yaitu: “Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun kurungan penjara.”


Orang tua Reyhan histeris saat mereka mendengar putusan pengadilan tersebut. Namun itu lah ganjaran dari kejahatan yang dilakukan oleh putranya.


...............


SATU TAHUN KEMUDIAN


Berangsur-angsur kesedihan yang Harin alami sedikit demi sedikit pulih. Setiap hari Jodi lah yang mengurusinya, menjaganya dan merawatnya seperti ayahnya sendiri.


Seperti biasa, putri kecil itu akan ikut ke kantor manakala Jodi bekerja.


Sementara Delima masih mengalami Depresi dan ia di rawat di salah satu rumah sakit yang khusus menangani guncangan psikologis yang ia alami.


Semenjak kepergian suaminya, ia hanya membeku dengan tatapan kosongnya, air matanya tak henti-hentinya mengalir sejak kejadian itu. Sungguh Malang nasib Delima yang alami syok berat yang menimpanya.


Harin dan Jodi setiap minggu selalu menyambangi Delima ke tempat perawatan tersebut.


Tidak lupa juga Jodi selalu mengantar Harin ke pondok emak tepi pantai untuk berlatih bela diri setiap ada kesempatan dan waktu luang.


Begitulah kegiatan putri kecil Harin dan Jodi sepeninggalan Harvan. Namun karena Jodi selalu merasa sedih dan selalu di bayang-bayangi oleh Harvan dan Intan apabila memanggil putri itu dengan sebutan Harin, mengingat Harin itu adalah nama pemberian orang tuanya yang di ambil dari nama mereka masing-masing yaitu Harvan Intan.


Begitu pun dengan putri kecil tersebut, panggilan Harin dirasakan terlalu berat olehnya sehingga semenjak ayahnya meninggal ia menjadi anak yang pendiam. Namun setelah Jodi mensiasati memanggil putri kecil itu dengan panggilan Berli, itu membuatnya merasa menjadi manusia baru yang mampu move on dari segala kesedihannya.


“Sayang.. ayo sarapan!.” Jodi membuka pintu kamar putri kecil itu kemudian menggendongnya dan membawanya ke ruang makan.


Dalam pangkuan Jodi, putri kecil itu sarapan bersama pada piring yang sama pula dengan Jodi.


Jodi melirik dan memandangi kursi yang berada di hadapannya yang biasanya di tempati oleh Harvan.


‘Har.. saat-saat ini kita menjadi terbiasa kursi elo kosong. Gue rindu becanda kita saat sarapan Har dan itu tak akan pernah ada lagi. Gue inget saat istri elo meninggal dan elo ngurusin putri elo sendiri, dan sekarang gue ada di posisi itu. Pantas saja elo senang menjadi ayah sekaligus ibu, ternyata rasanya sungguh luar biasa. Har… makasih elo udah percaya sama gue, dan gue janji gak akan menyia-nyiakan kepercayaan elo.’ Bathin Jodi.


“Kenapa om?.” Suara Berlian menggugah lamunan Jodi yang memperhatikan kursi di hadapannya.


“Tidak apa-apa sayang, om hanya teringat ayahmu.” Jawab Jodi menghela nafas.


“Kira-kira ayah sedang apa ya sekarang om? Aku juga rindu ayah.”


“Ayah sudah bahagia di sana bersama ibumu Berli.” Jawab Jodi yang tidak sadar kalau putri kecil itu menganggap bahwa Delima lah ibu nya, ia belum tahu kalau Intan lah ibu lahirnya.


“Ibu? Bukannya ibu lagi di rawat di rumah sakit om?.”


Mendengar pertanyaan putri kecil itu Jodi sedikit terkejut dan membuatnya gugup.”Oh, Mh.. maksud om ayah sudah bahagia di alam sana sayang.”

__ADS_1


“Ya pasti ayah sedang bahagia… tapi kasihan ayah sendiri disana.” Ujar Berlian yang terlihat wajah nya menjadi bersedih. Jodi ingin menceritakan bahwa sebenarnya Delima adalah ibu sambungnya dan ibu kandung Berlian sebenarnya adalah Intan, hanya saja ia bingung bagaimana mengatakannya. Namun ia mencoba berusaha menjelaskan pelan-pelan pada putri kecil itu.


Kemudian ia mengambil ponselnya yang tidak jauh dari piring di depannya. Lalu membuka galery ponselnya.


“Sayang… coba lihat ini.” Jodi memperlihatkan foto Harvan dengan Intan. “Yang bersama ayahmu ini adalah ibu yang melahirkanmu sayang, namanya Intan permata. Ia cantik kan? Wajahnya mirip denganmu.” Mendengar penuturan Jodi, Berliam mengernyitkan dahinya.


“Intan Permata? Bukannya nama ibuku Delima?.” Ia sedikit tidak mengerti dan seperti tengah berfikir.


“Ya… Ibu Delima adalah ibu yang mengasuhmu, ia istri ayahmu juga yang wajahnya mirip dengan ibumu. Sementara ibu yang melahirkanmu, sekarang sedang bahagia bersama ayahmu, jadi kau tak perlu sedih memikirkan ayahmu karena ada ibumu di sana. Ibumu pergi saat melahirkanmu sayang…” Jodi mengamati reaksi Berlian.


Putri kecil itu sedikit terkejut namun ia terlihat masih bingung.


“Setelah sarapan, kita ke makan ayahmu ya? Dan kau akan lihat, di samping makan ayahmu ada makam ibumu.” Jelas Jodi yang terus mengamati perubahan air muka putri kecil itu.


“Ja-jadi.. ibuku sudah meninggal om? Dan ibu Delima bukan ibuku?.” Ujarnya yang matanya mulai meremang.


“Sayang… ibu Delima dan ibu Intan itu keduanya adalah ibumu. Tetapi yang melahirkanmu adalah ibu Intan dan mereka memiliki wajah yang sama.”


Kemudian setelah selesai sarapan, Jodi membawa putri kecil itu ke pemakaman ayahnya.


Singkat cerita, sampailah mereka di sebuah pemakaman elit.


Jodi membawa Berlian ke sebuah komplek pemakaman keluarga yang luas. Dan membawanya berdiri di hadapan dua kuburan yang berdampingan.


Jodi menunjukan kepada Berlian makam kedua orang tuanya, dari situlah Berlian mengetahui sejarah orang tua nya.


Berlian terpaku dalam pangkuan Jodi, memandangi kedua kuburan yang ada di hadapannya.


“Mereka adalah ayah dan ibumu sayang… mereka tengah menikmati kebahagiaannya disana, Jadi kau tak perlu bersedih lagi, ayahmu tidak sendiri, dia sedang bersama ibumu… Dan mereka menginginkan kau bahagia disini, om yang akan membuatmu bahagia.” Jelas Jodi.


Kemudian Jodi membawa pergi putri kecil itu meninggalkan pemakaman tersebut.


...T A M A T...


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih Readers tersayang yang telah mengawal perjalanan kehidupan Harvan Hartawan sampai akhir hidupnya.🥰🥰🥰


Bagaimana nasib putri kecil Berlian Putri Harin melanjutkan hidupnya?



Jawabannya ada di sini👆🏻


Novel “Aku Hanya Inginkan Om” menceritakan bagaimana Putri dari Harvan menjalani hidupnya yang penuh dengan drama. Ceritanya gak kalah seru, sedih, kocak dan tentunya sebagai bumbu ada adegan 17+ & 21+ harap bijak menyikapinya ya gais😁🤭


Jadi jangan lewatkan sekuel ini👆🏻


Makasih atas atensinya dan mohon maaf atas segala kekurangannya🙏🏻

__ADS_1


Wassalam😇


__ADS_2