Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Lelaki menangis


__ADS_3

Suasa hati yang bergemuruh kini tengah dirasakan Jodi. Marah, benci, dan kecewa kini menjadi satu. Tanah basah yang mewangi seolah menjadi permadani sebagai pijakan lelaki yang tengah menangis, melangkahkan kaki gontai nya kedalam sebuah bar ditengah Ibukota.


Jodi duduk dimeja bar yang semakin malam semakin ramai. Segala rasa ia tumpahkan disana dengan menenggak minuman yang entah sudah berapa sloki ia habiskan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanpa ia melihat siapa yang menghubunginya, cepat-cepat ia matikan ponsel tersebut. Ia tak ingin siapapun mengganggu malam kelabu miliknya.


Setelah ia puas melampiaskan segala kekecewaannya pada minuman, ia pergi meninggalkan bar itu dengan sejuta harapan bahwa kejadian ini adalah hanya mimpi.


Ia pacu kuda besinya dalam keadaan mabuk dengan kecepatan tinggi. Memecah gelapnya jalanan ibu kota, iya kembali pulang, namun tempat yang ia jadikan kembali adalah rumah mewah Harvan.


Ia masuki rumah itu dengan langkah gontai. Pada saat ia hendak melangkah ke kamarnya, ia melewati pintu kamar Harvan, tepat pada saat ia melintas pintu itu dibuka dari dalam.


Harvan memandangi Jodi didepan pintu kamarnya.


“Elo gak pulang kerumah?.” Tanya Harvan.


“Gak Har, gue pengen disini.” Jawabnya tanpa melihat kearah Harvan.


“Pasti elo minum banyak, Istirahatlah.” Kata Harvan.


Sejenak mereka terdiam, kemudian,


“Har, gue sudah menemukan pembunuh Intan, elo siap gak lihat dia besok dikantor polisi?.” Tanya Jodi, yang posisi tubuhnya masih membelakangi Harvan.


“Iya, kita besok berangkat bareng kesana. Makasih banyak Jodi, elo udah banyak bantu gue.” Kata Harvan sembari menepuk pundak Jodi dari belakang.


“Ya.” Jawab Jodi pelan, kemudian ia melangkah menuju kamarnya di rumah itu.


Kemudian mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing.


*


*


Hari telah pagi. Tidak seperti biasanya, di ruang makan mereka saling diam, hanya terdengar suara Harin yang tengah menikmati sarapannya dengan ocehan kecilnya.


Jodi menikmati sarapannya dalam diam, begitu pun Harvan. Harvan tak ingin banyak bertanya, karena ia tahu bahwa asistennya itu tengah dirundung masalah yang belum ia ketahui.


Sarapan pun telah selesai, akhirnya mereka memasuki kuda besinya, dan kuda besi pun melaju meninggalkan kediaman mereka.


Sepanjang perjalanan mereka diam hanya terdengar ocehan Harin yang tengah meraba-raba wajah ayahnya.

__ADS_1


Tak lama, kuda besi mereka pun sampai di halaman parkir gedung kantor. Lalu mereka pun melangkah memasuki gedung kantor itu.


“Kapan kita ke kantor polisi untuk melihat pembunuh itu Jod?.” Tanya Harvan.


“Kita tunggu pihak kepolisian menghubungi kita Har.” Kata Jodi.


“Baiklah.” Jawab Harvan.


Lalu mereka memasuki ruangannya masing-masing.


*


*


Saat yang mendebarkan tiba. Jodi yang telah dihubungi pihak kepolisian siang itu, membawa Harvan yang memangku Harin dengan kuda besinya.


Lemas kaki Jodi saat menginjakkan kaki di halaman kantor polisi itu. Sementara hati Harvan berdegup kencang menunggu saat-saat melihat wajah si pembunuh dan wajah dalang dibelakang kematian istrinya itu.


Setelah mereka berbincang dengan kepala kepolisian, kemudian mereka dibawa ke sebelah ruang interogasi, dimana pada saat penyidik menginterogasi pelaku kejahatan, mereka dapat melihat dari kaca diruangan itu.


Kepala kepolisian, dua petugas kepolisian, Jodi dan Harvan yang memangku Harin, telah siap menunggu di depan kaca yang dapat melihat si pelaku.


Sementara Harvan pun merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak? Vivi adalah wanita yang ia kenal dekat yang notabene adalah istri dari asistennya itu yang telah ia anggap sebagai saudara sendiri, telah tega membunuh istri tercintanya, ia tak habis pikir kenapa Vivi tega merencanakan pembunuhan itu kepada Instrinya.


“Maafkan gue Har, gue bener-bener gak tahu kalau dia wanita yang jahat, gue telah dibutakan oleh cinta sehingga tidak bisa melihat kejahatan dihatinya. Gue kalah Har, gue malu sama elo dan keluarga elo. Gue gak tahu harus menaruh muka gue dimana. Gue tidak pernah menyangka sedikitpun kalau istri gue sendiri ternyata dalang dibalik pembunuhan Intan. Gue bener-bener kecewa Har, dia sudah menghancurkan gue sehancur-hancurnya, dia sudah meluluh lantakkan perasaan gue. Elo pasti sangat kecewa sama gue. Elo berhak marah sama gue Har.” Kata Jodi menghentikan ucapannya karena tidak kuat menahan luka dihatinya.


Harvan hanya diam terpaku menyaksikan segalanya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Ia peluk erat putrinya dengan dada yang tersengal menahan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


Perlahan Jodi melangkah menuju ruang interogasi itu. Ia masuk dan menatap wanita dihadapannya yang terborgol yang juga menatap dirinya.


“Sayang, aku bisa jelaskan ini semua..” Kata Vivi dengan penuh pengharapan.


Jodi memalingkan wajahnya seraya melemparkan telapak tangannya.


“Cukup! Gue gak mau denger elo ngomong apapun! Elo udah hancurin hati dan perasaan gue! Dan yang paling sadis! Elo sudah dengan tega memisahkan seorang bayi dengan ibunya! Gue gak akan memaafkan elo seumur hidup gue! Elo memang wanita yang gue cinta! Tapi mulai detik ini, gue haramkan tubuh gue menyentuh elo lagi! Gue gak mau lihat muka elo lagi! Gue harap elo bisa kooperatif dengan pihak yang berwajib! Dan perlu elo ingat! Sehebat apapun pengacara yang akan mendampingi elo! Gue pastikan, elo tidak akan pernah bisa keluar dari jeratan hukum. Sampai gue mati, gue akan mengusut tuntas kejahatan elo, sekalipun elo istri gue, gue gak akan lepasin elo, ingat itu!.” Ujar Jodi dengan amarah yang membuncah.


“Tolong, bisakah saya berbicara dengan Harvan?.” Pinta Vivi pada Jodi.


Jodi tidak menjawab apapun, ia berlalu meninggalkan Vivi yang tertunduk malu di ruangan interogasi itu. Kemudian Jodi mendatangi ruangan dimana Harvan tengah menyaksikan kemarahan Jodi tadi dari kaca tembus pandang.

__ADS_1


“Dia pengen bicara sama elo.” Kata Jodi pada Harvan dengan tertunduk tak berani menatap mata Harvan.


Harvan diam sembari memeluk erat tubuh putrinya itu. Dengan wajah yang dingin ia berlalu meninggalkan ruangan itu, keluar pergi menuju halaman parkir.


Melihat sikap Harvan, Jodi mengikutinya, kemudian bersama-sama masuk kedalam kuda besinya.


Didalam mobil mereka membisu, tak ada sepatah kata pun yang mereka lontarkan. Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Hingga mereka melintasi sebuah Mall,


“Jod, kita makan siang di Mall, Harin senang kalau dia makan disitu.” Kata Harvan.


“Oke, kita makan disitu.” Jawab Jodi seraya memarkirkan mobilnya di Mall tersebut.


Akhirnya mereka pun memasuki food court yang berada didalam Mall tersebut.


Disela-sela mereka menikmati makan siangnya, Jodi memandangi Harin yang tengah disuapi Ayahnya.


“Harin, maafkan om ya?, om telah memelihara pembunuh ibumu didalam rumah sendiri.” Kata Jodi dengan tatapan penuh sesal.


“Tidak apa-apa om, ini semua sudah takdir. Om sama sekali tidak salah, lagi pula Harin dan Ibu sudah memaafkan mereka kok.” Jawab Sang ayah mewakili putrinya.


“Terima. Kasih ya Harin, kalian memang manusia pilihan yang sangat istimewa. Om sangat senang bisa mengenal kalian.” Ucap Jodi menahan haru di hatinya.


“Harin, katakan pada om. Apa yang harus om lakukan terhadap mereka? Apapun yang Harin inginkan, akan om lakukan.” Sambung Jodi.


“Sudah banyak yang om lakukan untuk kami, om jangan pernah mengotori tangan om untuk mereka yang tidak berguna, biarkanlah hukum yang berbicara pada mereka.” Jawab Harvan mewakili anaknya sembari menyuapi anaknya dan melahap makanannya.


Jodi terdiam memandangi Harvan dan Harin. Tak ada yang bisa iya katakan lagi. Hanya memandangi mereka berdua sembari menikmati makan siangnya.


Jodi.



Harvan.



💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Air mata lelaki lebih jujur dari pada air mata wanita.

__ADS_1


Ia akan menangis, mana kala ia sudah merasakan sangat, sangat sakit dan terlampau kecewa.


__ADS_2