Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Pernikahan mendadak


__ADS_3

Hari Sabtu yang cerah mengantarkan Harvan dan Jodi serta putri kecil Harin ke rumah emak.


Entah mengapa Selama dalam perjalanan, Harvan merasakan hatinya berdebar hebat, ia pun tak mengerti kenapa bisa seperti itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari 5 jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


“Akhirnya kalian sampai juga di sini.” Kata emak.


“Emak sudah menunggu kita ya?.” Ujar Jodi.


“Bukan emak yang menungggu kalian, tapi seseorang telah menunggu untuk kalian jemput.”


Harvan dan Jodi saling berpandangan, mereka tidak mengerti dengan apa yang di katakan emak barusan saja.


“Siapa mak?.” Tanya Harvan penasaran.


“Nanti juga kalian akan tahu, dan emak ingin berbicara sama kalian berdua sekarang juga, ada hal penting yang harus emak katakan.”


“Baik mak.” Jawab mereka kompak.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.” Jawab seisi rumah.


“Siti… bawa Harin ke padepokan untuk latihan.”


“Baik mak, ayo sayang kita ke padepokan.” Siti membawa Harin menuju padepokan.


Sementara Emak, Harvan dan Jodi, akan memulai perbincangan seriusnya.


“Harvan! Terpaksa Emak akan menikahkan kamu hari ini juga!.” Kata emak yang membuat Harvan dan Jodi tersentak.


“Apa mak! Menikah!.” Harvan membulatkan bola matanya.


“Iya, kamu harus emak nikahkan sekarang juga!.”


“Ta-tapi kenapa mak tiba-tiba saja emak ingin menikahkan saya?.” Harvan masih dalam keadaan terkejutnya.


“Karena kalau di biarkan setan dalam tubuhmu itu akan semakin menggila.”


“Emak dengan siapa akan menikahkan saya? Apa tidak sebaiknya kita rundingkan dulu?.”


“Untuk kali ini tidak ada perundingan pokoknya kamu harus menikah agar terhindar dari pada zina!.”


“Iya tapi dengan siapa mak? Seingatku aku tidak pernah berzina dengan siapa pun.”


“Coba elo ingat-ingat Har! Kali aja elo lupa kalau elo udah ber zina dengan seseorang.” Jodi menyambung pembicaraan antara emak dan Harvan.


“Sialan luh! Selama ini elo kan tahu gue gak pernah dekat sama cewek.”


“Ya kali aja di belakang gue, gue kan gak tahu.” Kata Jodi mengatai dengan senyuman tersungging di sudut bibirnya.


“Nanti wanitanya akan emak bawa ke sini.” Kata emak serius.

__ADS_1


“Gak bisa gitu dong mak, masa datang-datang saya langsung emak nikahkan, apa lagi dengan orang yang gak aku kenal.” Protes Harvan.


“Kamu pikir emak tidak tahu kelakuan mu Harvan!.”


“Kelakuan yang mana mak?!.”


“Kau pernah hampir memperkosa seorang wanita!.”


“Apa! Emak gak salah! Gak ada wanita yang pernah akan saya perkosa mak! Emak aneh-aneh aja ah.” Harvan sedikit kesal pada emak.


“Nah luh, akhirnya ketahuan ya? Ternyata elo lebih bajingan dari pada gue, haha.” Ledek Jodi.


“Diem luh ah! Bikin suasana jadi kacau aja!.” Bentak Harvan.


“Mak, aku tidak pernah dekat dengan wanita mana pun selain Intan.”


“Benar kah? Coba kamu ingat-ingat kembali.” Desak emak.


“Benar mak, cuman memang akhir-akhir ini ada seorang wanita yang menjadi pembimbing Harin, apa maksud emak Delima?.” Kata Harvan sedikit mendapatkan jawaban dari semua tanda tanya dalam hatinya.


“Eh Har, emang elo sempet mau perkosa Delima ya?.” Bisik Jodi dengan terus melancarkan ledekannya.


“Sialan luh! Gak ada ah! gue gak pernah mau merkosa dia.”


“Mungkin menurut kamu, kamu tidak berniat memperkosanya, tapi apa yang kamu lakukan adalah merupakan bentuk dari suatu pemaksaan padanya dan itu tidak ada bedanya dengan usaha pemerkosaan, jadi untuk menjaga agar kejadian tersebut tidak akan berdampak lebih jauh lagi, kamu terpaksa harus menikahinya.” Tegas emak.


“Nah loh!.” Sela Jodi.


“Diem gak luh!.” Harvan menjuruskan telunjuknya pada wajah Jodi.


“Sekarang emak mau tanya! Bagaimana perasaanmu terhadap nya?.” Tanya emak, dan Harvan terdiam sepertinya ia tengah berpikir.


“Jangan kau katakan kau tidak mencintainya setelah apa yang kau lakukan padanya. Jika kau katakan itu, maka kau tak ubahnya seperti bajingan-bajingan di luar sana.” Bentak emak.


“Nah loh!.” Sambung Jodi dengan tatapan puasnya, sementara Harvan membalas tatapan Jodi dengan mata elangnya yang siap mencabik-cabik Jodi.


“Jujur mak awalnya perasaan saya biasa saja namun setelah semakin hari, perasaan saya semakin tumbuh dan saya merasa bahwa kehadirannya sangat berarti buat saya dan Harin, hingga setiap saya berada di dekatnya, saya merasa nyaman bahkan kehadirannya sudah tidak bisa di bedakan lagi apakah dia Delima atau Intan. Saya selalu ingin memperlakukannya seperti saya memperlakukan Intan dan membuat saya tidak bisa mengontrol emosi saya.” Harvan mengatakan isi hatinya pada emak dengan sejujur-jujurnya.


“Jika begitu keadaannya. Kau harus segera menikahinya.” Kekeh emak.


“Tapi dia sudah tidak ada lagi di rumah mak.” Jelas Harvan.


“Iya dia sudah tidak ada di rumah kalian tapi dia ada di tempat ini sekarang!.” Jelas emak.


“Apa mak! Dia ada di sini!!.” Harvan terkejut mendengar apa yang telah emak katakan, ia menatap Jodi yang sama terkejutnya dengan Harvan.


“Beneran mak dia ada disini?.” Tanya Jodi masih tidak percaya. “Bagaimana dia bisa sampai sini mak .” Sambung Jodi terheran.


“Intam yang membawanya kemari.” Jawab emak.


“Apa Intan?! Jadi benar mak Intan memang ada hubungannya dengan kedatangan Delima ke rumah kami?.” Harvan kembali terkejut.


“Iya, Delima mengatakan pada emak, saat dia pergi dari rumah pengusaha itu, di tengah malam ia bertemu dengan Intan, bahkan Intan yang menyuruhnya untuk menjadi pembimbing Harin.”

__ADS_1


“Pantas saja kemarin malam aku mimpi bertemu dengan Intan dan Intan mengatakan hal yang sama. Lalu bagaimana bisa Intan bertemu dengam Delima mak, bukankah Intan sudah meninggal?.” Tanya Harvan terheran-heran.


“Mungkin Intan khawatir akan keadaan kalian jadi dia perlu turun tangan untuk menyelesaikan segalanya. Setelah segalanya selesai dia akan tenang di sana. Lalu sekarang bagaimana Harvan? Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?.” Jelas emak.


“Dimana Delima sekarang mak? Saya ingin bertemu dengannya, saya harus minta maaf padanya.” Kata Harvan.


“Emak akan mempertemukan kalian kalau kamu serius mau emak nikahkan sama dia.” Jawab emak.


Harvan terdiam. Lalu emak berkata kembali, “Baiklah, mungkin kamu perlu merenungkannya, pikirkanlah dahulu, setelah kamu dapat jawabannya baru kita bicara lagi.” Kata emak, lantas berlalu meninggalkan mereka berdua, namun sebelum emak menutup pintu ia berkata, “Emak akan pergi ke padepokan dulu melihat para Satria berlatih, kalian istirahat dulu.” Lalu emak menutup pintu dan pergi meninggalkan pondoknya menuju Padepokan.


Sepeninggalan emak Harvan diam mematuk diri dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan pandangan menengadah pada langit-langit.


Sementara Jodi memperhatikan diamnya Harvan, lalu ia mengajak Harvan bicara,


“Har, gimana? Elo harus putuskan sekarang juga, iya elo jawab iya, enggak elo harus bilang enggak! Emak memikirkan kelangsungan hidup kalian juga Har, sama hal nya seperti gue. Seandainya elo bersedia menikah dengan Delima, ayo kita sama-sama bantu dia menyelesaikan masalahnya dengan pengusaha itu. Bukannya hal yang baik kalau dia terbantu masalahnya sama kita, di banding dia menyelesaikannya sendiri? Elo masih tega sama dia Har? Sementara dia begitu tulus menyayangi putri elo itu?.” Ujar Jodi.


Setelah Harvan lama berfikir dengan dibantu masukan-masukan dari Jodi akhirnya dia memutuskan, “Oke Jod, gue siap nikah sama dia asal Harin bahagia.” Kata Harvan.


“Beneran karena Harin doang? Bukan karena elo juga berharap bisa bonen sama dia? Haha.” Ledek Jodi.


“Anjiiir! Sialan luh! Haha.” Tinju Harvan pada lengan Jodi.


“Nah gitu dong, baru itu namanya Boss gue.”


“Thanks ya Jod elo bener-bener sodara gue yang sebenarnya.” Kata Harvan seraya memeluk Jodi.


“Jangan mewek luh.” Goda Jodi.


“Sialan! Siapa yang mewek anjir! Haha.” Sahut Harvan.


“Ya kali aja sekarang elo mewek bahagia gak seperti kemarin mewek kehilangan haha.”


“Seneng luh ya? Elo bisa habis-habis ledek gue sekarang?.”


“Abisnya elo maen rahasia-rahasiaan sama gue, Emangnya gue gak tahu apa setiap hari elo nyipok dia terus gak kenal tempat.”


“Eh Emangnya gue anak ABG yang setiap jadian sama seseorang harus bilang-bilang? Toh akhirnya gue gak bilang juga elo tahu sendiri kan?.”


“Iya sih, cuman lucu aja elo sama gue kayak maen kucing-Kuningan haha.”


“Habisnya elo tuh tukang ledekin orang, jadi gue males mau ngomong juga.”


“Ga apa-apa Har, yang penting sekarang Delima udah ketemu dan masalah elo satu-satu kelar. Oya gue mau kasih tahu team gue yang bodoh itu dulu, kalau Delima udah ketemu. Takutnya dia nemuin orang-orang yang aneh lagi nanti.” Kata Jodi, lantas ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.


Setelah ia menghubungi seseorang kembali ia berbicara dengan Harvan,


“Emang elo ketemu dimana sama orang baru itu Jod?.” Tanya Harvan mengenai anak baru yang menjadi anggota team Jodi.


“Dia titipan seseorang yang berpengaruh Har, gue gak enak kalau nolak, makanya si Reno itu gue suruh belajar dulu di dampingi sama team yang udah profesional.” Jelas Jodi.


“Oh gitu… ya udah gue istirahat dulu sebentar ya Jod.” Kata Harvan hendak berlalu ke dalam kamar.


“Oke, gue juga mau istirahat, badan pada pegel. Lumayan perjalanan ke sini melelahkan.”

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua masuk kedalam kamar masing-masing yang telah emak siapkan untuk mereka.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


__ADS_2