Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Penembakan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Saatnya keluarga Harvan meninggalkan Bali dan kembali pulang ke Ibukota. Harvan terpaksa mengikuti keinginan putrinya menikmati indahnya Bali sampai beberapa waktu. Dan hari ini adalah hari dimana mereka harus kembali pulang.


Dari semenjak pagi Harin tidak lepas dari pangkuan ayahnya begitu pun Delima yang selalu nempel pada suaminya itu. Sementara Jodi hanya bisa menghela nafas memperhatikan keakraban mereka.


“Nasib… nasib…. Beginilah hidup sang solo karier.” Celoteh Jodi yang tengah duduk di antara mereka yang tengah menikmati sarapan pagi di restoran hotel tempat mereka menginap.


“Derita loh! Haha.” Timpal Harvan.


“Sayang… sini lah dengan om, biarkan ibumu yang bersama ayahmu. Bukan kah om yang mengajakmu kemari hm?.” Kata Jodi mengiba pada Harin.


“Sabar om, aku lagi ingin deket ayah, setiap hari kan om gendong aku.” Jawab Harin.


“Tapi sayang… kalau kamu gak ada dekat om serasa ada yang hilang… ayo lah sayang sini mendekat.”


“Om ini manja sekali ya. Sebentar saja lah om. Sekarang kan aku jarang tidur sama ayah, jadi pagi ini aku ingin menghabiskan waktuku di pangkuan ayah.”


“Iya kak Jodi, biarin saja lah, kayak gak pernah gendong Harin saja.” Sambung Delima.


“Ah kalian ini ya… sepertinya senang sekali lihat aku sendiri seperti ini.”


Kemudian mereka menikmati sarapan paginya sampai selesai. Setelah selesai, mereka meninggalkan restoran hotel mewah tersebut dan berlalu menuju halaman parkir hotel.


Mobil yang akan mereka tumpangi telah menunggu disana. Terlihat pelayan hotel memasukan semua barang bawaan mereka disusul kemudian dengan mereka memasuki mobil tersebut.


Dan kendaraan yang membawa mereka pun meninggalkan hotel tersebut menuju ke tempat dimana jet pribadi mereka telah menunggu mereka.


Singkat cerita mereka pun kini telah naik kedalam jet pribadi mereka yang akan membawa mereka pulang.


Di dalam penerbangan Jodi masih saja duduk sendiri tanpa Harin, putri kecil itu tak lepas dari pangkuan ayahnya.


“Ayah aku sayang sekali pada ayah.” Kata Harin memeluk erat sang ayah.


“Ayah juga sangat sayang padamu putri kecilku.” Harvan mencium wajahnya. Sementara Delima duduk di samping melingkarkan tangannya pada lengan suaminya dengan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar suaminya.


Jodi yang melaihat penampakan itu, membuang mukanya ke sisi jendela pesawat.


“Ish… anggap saja gue gak ada lah.” Gerutu Jodi pelan tapi masih terdengar oleh Harvan.


“Elo itu kenapa sih Jod dari tadi marah-marah terus.”


“Kembaliin cewek gue ah.” Kata Jodi pada Harvan meminta Harin untuk di berikan padanya.


“Dia nya yang gak mau Jod, bosen kali dia lihat muka elo terus haha.” Kelakar Harvan, kemudian,

__ADS_1


“Sayang… kasihan tuh om Jodi sendiri, kamu gak mau duduk sama om kamu itu?.” Sambung Harvan pada putrinya.


“Nanti saja ayah, sekarang aku sedang ingin bersama ayah.”


“Sayang… apa kau tak kasihan pada om mu ini. Om gak ada teman ini.”


“Hehe… kak Jodi ini lucu kayak anak kecil saja.” Kata Delima.


Begitulah suasana di dalam pesawat, yang entah kenapa hari itu Harin nempel terus pada ayahnya membuat Jodi cemburu.


Singkat cerita, mereka sudah sampai di Ibukota. Terlihat mereka turun dari jet pribadinya dan 4 mobil sudah menunggu di area landing tersebut.


Satu mobil di persiapkan khusus untuk membawa mereka, sementara tiga mobil lagi khusus untuk sepuluh orang team Jodi yang Ia siapkan untuk melakukan pengawalan kepulangan mereka.


Keempat mobil itu berlalu meninggalkan area landing jet pribadi mereka. Mobil paling depan adalah mobil yang di tumpangi oleh 3 orang pengawal, mobil di baris ke dua adalah mobil yang di tumpangi Jodi, Harvan, Delima dan Harin. Sementara mobil yang di baris ke tiga dan empat di tumpangi oleh pengawal lainnya.


Mereka menikmati perjalanan mereka, keempat mobil melintasi jalan tol yang tidak begitu ramai oleh arus kendaraan, sampailah mereka keluar dari gerbang tol.


Tanpa mereka ketahui dari jarak beberapa puluh meter di luar jalan tol, dua orang berkendaraan sepeda motor mulai mengikuti mereka. Dialah Reyhan dan Arman. Apa yang akan dilakukan mereka? Sepertinya Reyhan akan melakukan penembakan yang sudah ia rencanakan sejak jauh-jauh hari.


Mereka terus saja mengikuti iring-iringan mobil yang membawa Harvan sekeluarga, mereka sengaja berbaur dengan pengendara sepeda motor lainnya, sehingga Harvan dan Jodi juga team nya tidak menyadari kalau mereka tengah di ikuti.


Keempat mobil yang membawa mereka melaju dalam kecepatan sedang karena tempat tujuan mereka sudah hampir dekat. Di situlah Reyhan mendapat kesempatan untuk melakukan penembakan itu.


Secepat kilat motor itu mendekat ke sisi jendela belakang mobil baris ke dua. Secepat itulah Reyhan yang duduk di belakang motor mengarahkan senjatanya,


Dor..Dor…dor..


Reyhan menembaki seisi mobil baris kedua dengan membabi buta dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi hingga para pengawal tidak sempat untuk menghadang aksi penembakan itu.


Betapa terkejutnya Jodi dan teamnya. Dengan cepat Jodi menepikan mobilnya dan menangkup tubuh Harin. Lalu ia mengambil ponselnya menghubungi team nya dan memerintahkan untuk mengejar pengendara motor tersebut.


“Kejar mereka! Gue gak mau tahu! Hidup atau mati. Mereka harus kalian dapat!.” Teriak Jodi.


Namun betapa tersentaknya Jodi kala melihat pada Jok bagian belakang. Nampak dari pandangannya Harvan dan Delima sudah berlumuran darah. Dengan cepat Jodi membawa mobilnya dalam kecepatan yang sangat tinggi menuju rumah sakit terdekat. Dengan deru nafas memacu Jodi membawa kendaraan itu.


Sementara team yang berada di mobil lain tengah mengejar motor yang membawa Reyhan.


“Sayang… pegangan yang kuat ya? Jangan lihat kebelakang… pejamkan matamu sayang.” Kata Jodi pada Harin. Sementara Harin terlihat syok karena mendengar suara tembakan tadi. Putri kecil itu menangis namun tak bersuara, tatapan matanya kosong dengan wajah pucat pasi.


“Sayang… tutup matamu dan telingamu sayang…” sekali lagi Jodi berkata pada Harin dengan mulut yang bergetar.


Sementara itu pada Jok belakang terlihat Delima yang meringis kesakitan dengan luka tembak pada pundaknya. Dan Harvan dengan luka tembak yang lebih dari dua lubang peluru bersarang di tubuhnya. Dengan mulut bergetar dan terlihat darah mengalir deras dari mulut Harvan, sekuat tenaga ia mengatakan sesuatu pada Jodi,

__ADS_1


“Jo-Jod… to-tolong jaga putri gue, gue pe-percaya sama elo…” dengan darah yang mulai membanjiri tubuhnya Harvan terbata-bata.


“Please… bertahan Har. Elo jangan ngomong gitu, elo harus hidup.” Jodi tidak kuat mengatakan itu, air matanya mulai menetes dari matanya.


“Jod, gue udah gak kuat… elo harus janji sama gue, sayangi putri gue tolong jaga dia baik-baik.” Tak berdaya Harvan tergelepar lemas. Sementara Delima yang berada di samping Harvan sepertinya ia sudah pingsan karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.


Sementara Harin yang duduk di samping kemudi menutup matanya rapat-rapat dan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Tubuh kecil itu itu nampak gemetar dengan air mata yang deras membasahi pipinya.


Sementara Jodi terus memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Sampai akhirnya ia sampai di sebuah rumah sakit. Dengan tergesa ia turun dari mobil dan berlari ke pintu samping kiri meraih Harin dalam pangkuannya lalu bergegas pergi memanggil petugas rumah sakit.


Dengan sigap beberapa petugas rumah sakit membawa dua blankar menuju mobil yang terdapat Harvan dan Delima yang terluka disana, kemudian mereka membawa tubuh Harvan dan Delima keruang IGD rumah sakit tersebut.


Dengan langkah gontai Jodi memangku tubuh Harin mengikuti dua blankar yang membawa tubuh Harvan dan Delima menuju IGD.


Di peluknya dengan erat tubuh kecil itu dengan perasaan kalutnya. Kemudian duduk di kursi tunggu tidak jauh dari ruang IGD.


Hancur hatinya pedih bathin kala ia melihat sahabat sekaligus Boss nya itu bersimbah darah. Baru saja pagi tadi mereka bercanda memperebutkan putri kecil itu, kini tubuh itu terkapar dengan luka tembakan di tubuhnya.


Kemudian perlahan Jodi merogoh ponselnya di saku celananya dan menghubungi pak Budi dan bu Irma yang tiada lain adalah orang tua Boss nya, setelah menghubungi mereka, Jodi pun menghubungi orang-orang kantor dan orang-orang yang bekerja di rumah mereka.


Semakin erat pelukannya pada putri kecil dalam pangkuannya itu. Tubuh kecil itu kini alami syok. Ia menangis namun tak bersuara hanya dapat menelungkupkan wajahnya pada dada bidang sang om.


“Tenang sayang… semua akan baik-baik saja.” Jodi menguatkan hati putri kecil itu dengan mencium pucuk kepalanya.


“Ada om disini.. kamu aman sayang.”


Tiba-tiba ponsel Jodi mendapatkan panggilan masuk.


“Hallo John, bagaimana?.”


“Mereka udah kita tangkap Boss.”


“Bagus! Siapa mereka?.”


“Reyhan dan temannya.”


“Jangan dulu dibawa ke kantor polisi! Kalian siksa dulu mereka.”


“Siap Boss.”


Dengan mata yang memerah Jodi meremas ponselnya.


‘Sialan elo Rey! Apa yang ada di otak elo hingga elo tega lakuin ini semua! Abis sekarang elo Rey! Gue akan buat elo membusuk di penjara.’ Bathin Jodi.

__ADS_1


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


__ADS_2