Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Ngerjain mereka


__ADS_3

Hari telah pagi, dengan tersenyum indah sang surya menampakan diri, memberikan semangat baru bagi setiap makhluk dengan cahayanya yang terang namun tak menyilaukan.


Pagi ini Harvan bersama keluarga akan kembali ke Jakarta. Jodi yang telah duduk di belakang kemudi telah siap membawa kuda besi mereka, Delima dan Harin duduk pada jok belakang, sementara Harvan duduk di sampai Jodi.


Setelah pamit pada emak mereka pun pergi meninggalkan kota kecil itu menuju Ibukota.


Di dalam perjalanan hanya terdengar obrolan Harin dan Delima, sementara Harvan dan Jodi hanya mendengarkan mereka, walau kadang terdengar Harvan dan Jodi berbicara berdua membicarakan urusan pekerjaan mereka.


Tidak ada obrolan antara Harvan dan Delima, mereka masih saling diam.


Singkat waktu, sampailah mereka di kediaman mereka. Delima langsung membawa Harin ke dalam kamarnya sementara Harvan dan Jodi duduk di ruangan tengah.


“Kalian masih perang dingin Ya? Kok sepanjang perjalanan diem-dieman.” Ujar Jodi.


“Sepertinya dia masih marah sama gue Jod.”


“Udah biarin aja, cewek memang kayak begitu nanti juga baik sendiri.” Hibur Jodi.


“Iya. Gue sadar kok gue yang salah. Gue gak kepikiran kalau dampaknya akan besar seperti ini.”


“Gak apa-apa Har anggap saja ini pelajaran buat kita semua. Yang penting kan sekarang Delima sudah ada di tengah-tengah kita lagi.”


“Iya sih, dan yang terpenting adalah Harin, dia sekarang sudah tidak murung lagi setelah kehadiran Delima.”


“Oya Har, gue masih tanda tanya sama Delima yang katanya ia di antar Intan ke pondok emak, apa Delima tahu kalau dia di antar kesana sama istri elo yang udah meninggal?.”


“Gue juga gak tahu Jod, Delima hafal Intan gak ya? Nanti kalau hubungan gue udah membaik sama dia, gue mau tanya masalah itu. Soalnya waktu gue terakhir mimpi juga, Intan bilang dia yang berusaha mempengaruhi Delima untuk masuk ke kehidupan gue, berarti mereka pernah bertemu bukan cuma sekali ya kan? cuman yang jadi pertanyaan, Delima tahu gak kalau Intan itu istri gue dan udah meninggal.”


“Iya gue juga mikir nya gitu Har, oya terus apa yang mau elo lakukan dengan urusan Delima yang belum beres sama pengusaha itu Har?.”


“Elo harus cari informasi selengkap mungkin Jod, entah memang Delima atau bukan yang berusaha membunuh pengusaha itu, yang jelas kita sekarang harus ikut campur karena Delima sekarang statusnya istri gue. Kalau memang bukan Delima pelakunya, kita harus cari tahu siapa pembunuh yang sebenarnya, terus kalau misalkan memang benar Delima orangnya yang berusaha melakukan pembunuhan itu pasti ia punya alasan sampai ia melakukan itu, dan itu tugas kita untuk membantunya sampai tuntas juga.”


“Oke, kalau gitu nanti gue hubungi team gue yang lagi menyelidiki kasus Delima. Har, elo harus banyak sabar ya? Hidup elo itu masalahnya gak berenti-berenti.”


“Yah namanya juga orang hidup Jod, pasti punya masalah cuma beda-beda aja kadarnya. Hanya saja kebetulan masalah yang rumit selalu ada pada gue, dan gue harus hadapi itu semua. Gue bisa kuat salah satunya karena gue punya elo Jod.”


“Hehe… gue gak sia-sia kan ada di kehidupan elo?.”


“Gak Jod, elo bener-bener penolong buat gue.”


Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba mereka melihat penampakan Delima yang menuruni anak tangga dengan menggendong Harin.


Mereka terdiam memperhatikan Delima yang berjalan ke arah dapur.


“Ibu mau masak dulu, kamu sama ayah dulu ya sayang?.” Kata Delima pada putrinya lantas memberikan putrinya pada Harvan namun tak mengucapkan sepatah kata pun pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.


Harvan menerima Harin dari pangkuan Delima. Kemudian membawanya duduk. Sementara Delima terlihat membuat dua cangkir kopi. Setelah selesai membuat kopi tersebut, di simpannya kopi itu di atas meja tempat Jodi dan Harvan duduk namun tetap tanpa berkata apa-apa.


“Ibu, aku juga mau minuman.” Pinta gadis kecil itu.

__ADS_1


“Kau mau minum apa sayang?.” Tanya Delima.


“Aku mau juice strobery ya bu.”


“Iya sebentar ibu buatkan dulu ya sayang.”


Sementara Jodi dan Harvan memperhatikan gerak gerik Delima yang tidak bicara pada mereka berdua.


“Benar kan dia masih marah sama gue?.” Bisik Harvan pada Jodi.


“Iya masih bungkam aja, hehe.” Jawab Jodi dengan berbisik pula.


“Sikap yang kayak gitu tuh yang bikin gue tambah gemes aja hehe.”


“Iya, yang kayak begitu bisa berentinya kalau elo bikin dia enak hahay.”


“Gila luh.”


“Coba aja entar malem kalau elo gak percaya.”


“Gue masih gak berani deketin dia Jod, takut di serang hehe.”


“Haha, nanti cerita malam pertama babak belur terulang lagi dong haha.”


“Haha, iya, nasib nasib, dapat bini pendekar semua.”


“Iya bener, terus udah gitu nama bini elo bagus-bagus Har, nama batu mulia semua, yang pertama Intan Permata, yang kedua Mustika Mirah Delima. Lah gue gak kebagian.”


“Eh anjir, si zamrud kan preman yang suka nongkrong di depan komplek situ Har, haha… ogah gue nama itu.”


“Haha.. lagian elo sirik aja.”


Lalu Delima datang ketengah-tengah mereka memberikan juice strobery untuk putrinya dan sontak menghentikan gelak tawa mereka berdua.


“Ini sayang minumannya.. habiskan ya?.” Kata Delima pada putrinya. Sementara Harvan memandangi wajah wanita itu yang saling berdekatan pada saat memberikan minuman pada putrinya itu.


Lalu Delima kembali ke dapur hendak memasak untuk makan siang mereka. Tiba-tiba terdengar suara ponsel Jodi berbunyi, kemudian Jodi merogoh ponselnya dari kantong celananya dan menerima panggilan ponselnya.


Hanya sebentar Jodi berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


“Siapa Jod?.” Tanya Harvan.


“Dari lawyer Har, katanya sidang lanjutan akan di gelar minggu depan.” Jelas Jodi.


“Oke, elo suruh aja dia besok ke kantor, kita bicarakan strategi untuk menghadapi mereka nanti di persidangan.”


“Iya udah gue bilangin tadi.”


“Bagus.”

__ADS_1


*


Sementara itu di tempat lain, Selvy dan Reyhan pun mendapatkan kabar yang sama dari pengacara mereka. Bahwa sidang lanjutan akan di gelar minggu depan.


Terlihat Reyhan dan Selvy sangat berapi-api, mereka sangat bersemangat sekali mendapatkan kabar tersebut dari pengacara mereka.


“Haha… waktunya semakin dekat untuk menguasai semuanya, aku sudah sangat tidak sabar sekali untuk menikmati semuanya.” Kelakar Selvy.


“Tentu saja sayang… secepatnya apa yang sekarang si Harvan miliki akan menjadi milik kita haha.” Di sambung kelakar Reyhan.


“Jika anak itu sudah berada di tangan kita, siap-siap saja si Harvan dan seluruh orang-orang terdekatnya mati dan saat itu lah semua kekayaannya jatuh ke tangan kita haha.” Kelakar kompak mereka.


Terlihat Reyhan tengah mengelus-elus dua senjata api yang telah ia dapatkan dari seseorang. Dan senjata itu sudah dapat di pastikan akan di gunakan untuk membunuh Harvan dan putrinya juga orang-orang yang berniat menghalangi mereka.


Mereka pikir untuk merebut harta kekayaan seseorang dapat dengan mudah mereka ambil alih melalui cara mereka?. Merela tidak sadar bahwa hanya dengan mengandalkan akta kelahiran saja itu tidak lah cukup tanpa adanya data pendukung untuk meyakinkan pengadilan.


Mereka tidak terpikirkan kalau Harvan dan Jodi pun tengah mempersiapkan sesuatu yang akan membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa di pengadilan.


Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa merekalah yang akan memenangkan perkara ini dan dapat menguasai harta kekayaan milik Harvan.


Dan yang paling akan mengejutkan mereka adalah kehadiran Delima di sisi Harvan, Delima yang memiliki wajah mirip dengan Intan tentunya akan membuat mereka sangat terkejut dan menganggap bahwa Intan belum meninggal.


Dan itu akan membuat mereka harus terus memikirkan cara kembali untuk melakukan pembunuhan, karena bukan hanya Harvan dan putrinya yang harus mereka bunuh tetapi Delima yang wajahnya mirip dengan Intan pun tentunya akan menjadi penghalang baru bagi mereka.


Dan semua itu sudah di pikirkan matang-matang oleh Jodi. Untuk memberikan kejutan pada mereka, Jodi membuat sebuah rencana.


“Har, gue pengen ngerjain si Reyhan sama si Selvy.” Kata Jodi.


“Ngerjain gimana?.”


“Coba Elo kirimin foto atau video terbaru Delima pada si Aldo, terus suruh si Aldo kirimin itu foto ke si Reyhan, suruh dia akting bilang ke si Reyhan seolah-olah Intan belum meninggal.”


“Iya bener gimana ya reaksi mereka, gue jadi pengen tahu.”


“Ya udah elo hubungi sekarang si Aldo.”


Kemudian Harvan menghubungi Aldo. Ia menceritakan semuanya pada Aldo tentang pernikahannya dengan Delima. Lalu menyuruh Aldo memperlihatkan pada Reyhan video kebersamaan Harvan dan putrinya saat bersama Delima.


Dan Aldo pun membumbui cerita pada Reyhan bahwa sebenarnya Intan masih hidup. Tentu saja informasi yang Aldo sampaikan membuat Reyhan dan Selvy geram.


“Bangsat!! Sialan!! Bisa-bisanya mereka menipu kita bahwa wanita sialan itu telah mati!.” Pekik Selvy.


“Benar-benar setan mereka itu! Lihat saja gue bersumpah akan membunuh mereka semua! Mereka akan mati ditangan gue!.” Teriak Reyhan.


Tanpa mereka tahu, kemarahan mereka di ketahui oleh Harvan dan Jodi melalui penyadap pada ponsel mereka.


“Udah elo rekam Jod?.” Tanya Harvan.


“Udah Har, ini akan jadi barang bukti buat kita seandainya nanti mereka bikin ulah.” Jelas Jodi.

__ADS_1


“Bagus.”


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2