
Sekarang adalah hari dimana Harvan telah berjanji pada puntrinya untuk membawa ia ke rumah emak. Gadis kecil itu merindukan tempat yang bersejarah bagi kedua orang tuanya. Ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan sosok emak yang banyak diceritakan oleh sang Ibu melalui videonya, video yang ibunya buat sebelum ajal menjemputnya.
Setelah menempuh perjalanan empat jam lamanya Jakarta-Palabuhanratu, akhirnya Harvan dan putrinya juga Jodi sampai di tempat tujuan.
Betapa senangnya Sang putri kecil kala ia melihat lautan dengan ombaknya. Hal yang baru ia lihat sepanjang hidupnya.
“Ayah, ayo kita ke pantai.” Ajak Harin menarik tangan ayahnya.
“Sebentar sayang, kita datangi Emak dulu ya?.” Kata Sang Ayah.
“Baiklah.” Jawab sang Anak.
Kemudian mereka bertiga berjalan menuju pondok emak.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam”
Pintu pondok itu terbuka. Nampak Emak membukakan pintu pondoknya.
“Nak Harvan?.” Sapa Emak sedikit terkejut kala melihat wajah yang sudah lama tak pernah ia lihat.
“Iya Mak, kami datang mengunjungi Emak.” Kata Harvan.
“Ya Allah, lama sekali kita tidak bertemu ya Nak Harvan, mari masuk.” Kata Emak.
Lalu Harvan yang memangku Harin serta Jodi masuk ke ruang tamu pondok Emak setelah bersalaman. Emak memandangi Harin dengan mata yang berkaca-kaca.
“Buyutku, kau mirip sekali dengan ibumu nak.” Kata emak yang dengan lekat memandangi Harin. Harin tersenyum pada Emak seraya turun dari pangkuan sang Ayah dan mendekat pada Emak.
“Hai nenek, benar kah aku mirip dengan ibu?.” Tanya Harin mendekat pada Emak dan berlendot di pangkuan Emak.
“Iya sayang, kamu mirip sekali dengan ibumu, kau cantik dan rendah hati.” Puji Emak.
Harvan dan Jodi memperhatikan kedekatan Harin dengan Emak, padahal mereka baru saja bertemu.
“Nenek, apakah ibu dulu tinggal disini bersama nenek? Ibu bilang Nenek mengajari banyak hal pada ibu, dan aku disuruh ibu untuk datang pada Nenek. Aku juga ingin belajar seperti apa yang nenek ajarkan pada ibu.” Bawel Harin yang tanpa cadel.
“Iya sayang, dulu ibumu tinggal disini lama sekali, sampai akhirnya ibumu menjadi pendekar dan memiliki ilmu andalan yang tak terkalahkan. Pasti sayang, Emak akan mengajarkan padamu, ilmu-ilmu yang telah diajarkan pada ibumu.” Jelas Emak.
“Wah hebat sekali ya ibuku, aku mau seperti ibu.” Kagum Harin pada ibunya.
Harvan dan Jodi memperhatikan obrolan mereka, kemudian
“Oya Mak, bagaimana kabar Padepokan?.” Tanya Jodi.
“Alhamdulillah Padepokan semakin maju Nak Jodi, sekarang Siti dan Suaminya juga ikut melatih pendekar-pendekar Emak.” Jelas Emak.
__ADS_1
“Wah bagus dong kalau begitu Mak.” Kata Harvan.
“Iya karena semakin banyak murid-murid Emak, jadi Siti yang pegang khusus untuk anak-anak.” Kata Emak.
“Emak gak ke Padepokan?.” Tanya Jodi.
“Ini Emak baru mau pergi.” Jawab Emak.
“Ya sudah saya ikut ya Mak?.” Ujar Jodi
“Boleh.” Kata Emak.
“Harin mau ikut om Ijong ke Padepokan sayang?.” Tanya Sang Ayah.
“Ayah, aku ingin main ke pantai dulu, bagaimana kalau ke Padepokannya nanti saja.” Ujar Sang anak.
“Baiklah,” kata sang Ayah, kemudian, “Jod. Elo berangkat saja duluan sama Emak ya? Nanti gue sama Harin nyusul.” Kata Harvan.
“Ya udah, ayo Mak kita berangkat sekarang.” Ajak Jodi pada Emak. Kemudian Jodi menggandeng emak keluar dari pondok Itu, disusul Harvan dan Sang anak.
Jodi dan Emak berlalu menyusuri pantai menuju Padepokan Emak, sementara Harvan dan Sang anak berjalan menuju pantai.
“Harin sayang sini, kita ketempat sana, dulu Ayah dan Ibu selalu duduk disana.” Ajak Harvan pada Sang putri seraya menunjuk tempat dimana Ia pernah bersama Sang Istri menorehkan kenangan indah mereka.
Lalu Harin duduk diatas batu karang tepat di tempat pada saat itu ibunya duduk ditempat itu, sementara Harvan duduk disamping anaknya, sama pada saat dulu bersama Ibu putrinya itu.
“Ayah, apakah ibu ada diseberang Samudera sana?.” Tanya Sang anak.
“Iya sayang. Ilmu ibumu kini menyatu disana bersama angin.” Kata sang ayah yang ingatannya kembali pada masa dimana ia memandangi Samudera itu dengan Sang Istri.
“Ayah, apakah aku bisa menyebrang ke Samudera sana untuk menemui ibu?.” Tanya Sang Anak kembali.
“Bisa sayang, tapi nanti setelah kau belajar banyak ilmu pada emak.” Jawab Sang ayah.
“Apa Ayah rindu pada Ibu?.” Tanya Sang Anak.
“Tidak sayang, karena ibumu selalu hadir dalam mimpiku dan Ia ada didalam hati kita.” Jelas sang Ayah.
“Ibu… kembalilah..” teriak Harin pada hamparan lautan. Harvan memandangi putrinya, ia tahu putrinya rindu akan pelukan sosok ibu, ia tahu putrinya ingin bermanja pada sang Ibu seperti ia bermanja dipangkuannya.
“Kenapa kau memanggil ibu agar kembali sayang?.” Tanya sang Ayah menahan sedih dihatinya.
“Ayah, aku ingin sekali saja Ibu peluk aku.” Kata sang Anak.
DUG
__ADS_1
Dada Harvan berdebar, betul dugaannya atas keinginan anaknya itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Meski putrinya tiap hari melihat wajah ibunya dalam video, tapi itu tidak akan pernah cukup membuat hati seorang anak terpuaskan, ia sadar itu! karena pelukan seorang ibulah yang akan membuat seorang anak merasa tenang.
“Pelukan Ibu sama hangatnya dengan pelukan ayah sayang.” Kata Harvan dengan mata yang berkaca-kaca mencoba mengalihkan keinginan sang anak yang mungkin tak kan pernah dapat terkabulkan.
Sang Putri terdiam, memandangi deburan ombak dan merasakan semilir anginnya. Sang ayah memandangi putrinya lalu ia memeluknya.
“Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu dengan ibu sayang, hanya saja sekarang belum saatnya.” Ujar Harvan pada putrinya.
“Aku ingin saatnya cepat terjadi Ayah, pasti aku sangat bahagia sekali, ada ayah dan ibu disampingku.” Kata Harin seraya menatap kearah Samudera berharap seseorang datang padanya. Ya. Seorang ibu yang selalu ia rindukan pelukannya.
Untuk beberapa saat mereka terdiam, hanya deburan ombak yang terdengar dan merasakan kilauan patamorgana pada pandangannya.
“Ibu sangat Menyayangimu sayang, sama seperti sayang ayah padamu.” Ujar sang Ayah seraya mencium kepala anaknya.
“Coba kau pejamkan matamu sayang, dan Peluklah aku, bayangkan bahwa ibumu yang tengah memelukmu.” Bisik Harvan pada putrinya. Ia peluk putrinya dengan hangat lalu Harin memejamkan matanya dengan membalas pelukan sang Ayah.
“Ibu, aku menyayangimu, terima kasih untuk pelukannya ibu. Suatu hari nanti saat kita bertemu, aku ingin pelukan seperti ini lagi.” Kata sang Anak setengah berbisik.
Meleleh Hati Harvan mendengar ucapan Putrinya itu. Hingga tak terasa buliran bening merambah diantara pipinya. Rasa rindu dan haru bercampur menjadi satu. Ada rasa kasihan yang tumbuh dalam hatinya kepada Sang anak yang tidak pernah merasakan pelukan sang Ibu.
Namun ia sadar bahwa ini adalah nasib yang tertulis untuknya dan putri tercintanya.
Lalu ia bawa putrinya yang berada didalam pelukannya, meninggalkan tepi pantai itu menuju pondok emak.
Ia rebahkan tubuh putrinya pada dipan pondok itu, dikecup dan dipeluknya tubuh kecil yang tengah terlelap itu, hingga terbawa ke alam mimpi.
*
*
“Ayah, ayo kita ke Padepokan.” Kata Harin pada Ayahnya yang terjaga dari terlelapnya.
Ayahnya masih memejamkan mata, kemudian pelan-pelan iya buka matanya karena terusik suara nyaring ditelinganya.
“Eh, anak ayah sudah bangun?.” Harvan beranjak dari pembaringannya lalu duduk pada sisi dipan itu.
“Aku dari tadi sudah bangun ayah.” Ucap putrinya.
“Oya?, kenapa tak bangunkan ayah?.” Harvan meraih putri cantiknya keatas pangkuannya.
“Aku tidak ingin ganggu ayah, ayah pulas sekali tidurnya.” Putri kecil itu memandangi wajah sang Ayah.
“Hehe, iya ayah sedikit lelah, sejuk sekali tiduran pada dipan ini membuat terlelap, tapi sekarang ayah sudah segar. Ayo kita pergi ke Padepokan.” Ajak sang Ayah.
Lalu Harvan membawa putrinya dalam pangkuan menuju pesisir pantai. Menyusurinya menuju Padepokan.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1