
Setelah acara akad nikah Jodi dan Vivi di gelar pagi tadi di kediaman mempelai wanita, kini waktunya acara resepsi pernikahan mereka yang di gelar di salah satu hotel bintang lima di ibu kota.
Para tamu mulai berdatangan satu persatu, mereka memasuki ballroom hotel bintang lima tersebut. Tak terkecuali Harvan dan Intan yang sudah terlebih dahulu hadir di sana.
“Sayang.. kita belum menggelar resepsi pernikahan kita. Pasti kamu ingin juga kan seperti Jodi dan Vivi?.” Tanya Harvan pada Intan.
“Aku gak mau sayang, lagi pula resepsi gak begitu penting buatku, yang terpenting kan kita sudah akad, dan yang paling penting adalah keselamatan dari pernikahan itu sendiri. Semua itu sudah cukup buatku sayang.” Jawab Intan.
“Aku sudah cukup bahagia sekarang sayang, menjadi istrimu dan kita sebentar lagi akan di karuniai anak. Semua itu buatku adalah nikmat yang sangat besar. Tak terlintas di benakku dulu, Aku akan sebahagia ini hidup bersamamu, mengarungi bahtera bersama. Di kelilingi oleh orang-orang yang sayang sama kita, maka nikmat mana lagi yang aku dustakan?, sekarang yang ingin aku lakukan adalah mengabdi padamu sayang.” Sambung Intan.
Harvan terdiam mengamati setiap kata yang dilontarkan istrinya.
“Kau sudah banyak melakukan yang terbaik untukku. Seandainya saat itu kau tidak menemukan aku, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku. Kau adalah anugerah paling sempurna untukku sayang.. kau melengkapi segala kekuranganku, kau jadikan aku ratu dihatimu, apakah itu masih kurang?.. bagiku itu sudah lebih dari cukup. Semua yang kau lakukan untukku adalah bentuk kasih sayang Allah padaku. Aku sangat bersyukur atas semua ini sayang.. bahkan, jika menurut keyakinan mereka akan ada kehidupan kedua, aku lebih memilih di kehidupan yang akan datang, kembali bersamamu dalam keadaan apapun.” Ucap Intan kembali.
Harvan memandangi istri tercintanya. Ia tak bisa berkata apa-apa.
“Hidup ini hanya sebentar sayang. Menurut waktu akhirat kita hidup di dunia ini hanya 1,5 jam saja. Dan kita hidup di dunia ini di antara waktu adzan dan iqomah, itu artinya hidup kita sangat sangat singkat. Maka, jika kita tak pandai bersyukur saja, hidup itu tak ada artinya. Lalu bagaimana agar hidup ini berarti? Yaitu dengan menerima segalanya tanpa perlu meminta. Aku tidak pernah meminta pada Tuhan untuk di berikan suami yang tampan, baik dan kaya, tapi Tuhan berikan itu, ialah kau orangnya. Maka aku harus minta apa lagi padaNya?! Yang tidak ku minta saja Ia berikan padaku.. maka bodohlah aku, jika aku terus meminta dan meminta pada Tuhan, hal lain yang sebenarnya tidak aku butuhkan.” Ucap Intan.
“Tuhan sangat tahu apa yang kubutuhkan, maka ia berikan dirimu untukmu. Sudah! Aku tidak inginkan apa-apa lagi. Karena Tuhan sudah memenuhi kebutuhanku.” Tutur Intan kembali.
“Ya sayang.. aku mengerti.” Jawab Harvan seraya memeluk istrinya dengan penuh kasih.
“Ayo kita datangi mereka.” Ajak Intan, menarik tangan Harvan mendekati pasangan pengantin.
Kemudian Intan dan Harvan mendekat pada Jodi dan Vivi. Mereka memeluk pasangan pengantin itu.
“Eh..eh.. kenapa elo mewek Jod.” Kata Harvan pada Jodi yang tengah memeluknya.
“Gue gak nyangka Har, gue bisa sampai di posisi sekarang.” Kata Jodi berlinang air mata saat di peluk Harvan.
“Yaelah.. buaya insaf mewek di acara resepsi nya haha.” Kelakar Harvan menggoda Jodi.
“Anjir lo! Gue sedih tau! Elo malah ketawain gue.” Kata Jodi.
“Lagian elo ngapain mewek Jod, elo gak rela ngelepasin titel buaya?. Haha.” Hibur Harvan.
“Sialan lo ah! Boss kampret.. gue terharu tau gak sih lo!.” Seru Jodi.
“Haha.. baru kali ini gue lihat buaya mewek.. syukur deh sekarang buaya insaf nambah satu haha.” Gelakgak Harvan.
“Sayang, jangan di godain terus dong kasian dia lagi terharu biru gitu.” Kata Intan pada Harvan.
“Aku aneh aja sayang.. seumur hidup baru lihat dia nangis haha.”ujar Harvan.
__ADS_1
“Iya nih laki elo, godain laki gue sampe nangis gitu.. tanggung jawab lo Har.” Kata Vivi.
“Eh dia nangis sendiri kali, tanya aja sendiri haha.” Jawab Harvan.
“Sayang udah ya jangan nangis, malu di lihat orang, masa nangis nya baru sekarang, yang ada juga harusnya tadi waktu ijab kabul.” Kata Vivi.
“Gak tahu kenapa ini gue jadi nangis gini sayang.” Kata Jodi pada istrinya.
“Itu tandanya elo sekarang bener-bener sadar akan hidup elo Jod.” Ujar Harvan.
“Iya kali ya har. Gue sadar, dulu gue banyak dosa.” Kata Jodi.
“Lupakan masa lalu Jod, kita song-song masa depan.” Semangat Harvan.
“Iya Har, gue bahagia banget hari ini, Vivi bawa berkah buat gue.” Ujar Jodi.
“Lebih baik jadi mantan buaya Jod, dari pada mantan orang beriman.” Kata Harvan.
“Sekarang gue senang Jod, karena udah bisa lihat elo punya bini. Elo gak sendiri lagi sekarang.” Sambung Harvan.
*
Malam itu pesta resepsi pernikahan Jodi dan Vivi, semakin ramai manakala artis Ibu kota ikut memeriahkan acara resepsi mereka. Semua hadirin ikut bersenandung bersama-sama. Tak terkecuali Harvan dan Intan. Tetapi tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan gerak-gerik mereka.
Seseorang yang memperhatikan Harvan dan Intan dari kejauhan itu, berbaur dengan tamu undangan yang lain. Matanya tak lepas sedetik pun dalam pengintaiannya, sesekali ia berjalan dari satu sisi ke sisi lain untuk memperhatikan kedua orang yang ia maksud.
“Sekarang berbahagialah kalian! Tunggu sampai nanti kalian menangis seumur hidup dalam penyesalan.” Gumam lelaki itu yang kemudian pergi meninggalkan kerumunan orang yang menghalangi tubuhnya dari target yang ia intai.
Lelaki itu pergi dengan langkah pasti yang tentunya dengan membawa dendam di hatinya.
*
*
Malam pun semakin larut. Acara resepsi pernikahan Jodi dan Vivi pun berakhir dengan lancar. Satu persatu tamu undangan beserta pasangannya berlalu kembali keharibaannya. Begitu pun dengan Harvan dan Intan.
“Jod, kita pulang dulu ya, selamat menempuh hidup baru, semoga keluarga kalian sakinah, mawadah dan warahmah.” Kata Harvab pada Jodi.
“Amiin. Thanks ya boss.” Jawab Jodi.
Kemudian Harvan dan istrinya pun meninggalkan tempat itu. Menuju kediamannya.
Sesampainya di rumah, Intan langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
__ADS_1
“Sayang, Mandilah dulu.” Kata Harvan.
“Aku lelah sayang, malas beranjak kemana-mana lagi.” Jawabnya dengan mata terpejam.
“Ya minimal cuci muka dulu sayang, itu baju juga belum ganti.” Kata Harvan membujuk istrinya. Tapi tak ada jawaban mungkin Intan terlalu lelah.
Kemudian Harvan pergi ke kamar mandi, mengambil wash lap dan air hangat dalam wadah kecil, pelan-pelan ia membuka pakaian istrinya dan mengelap tubuhnya dengan wash lap, setelah selesai memakaikan istri kesayangannya itu pakaian malam, setelah selesai ia selimuti istrinya. ia pandangi wajah lelah istrinya itu dan menciumi keningnya.
Kemudian Harvan berlalu ke kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya, setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia memakai celana tidurnya, lalu merebahkan tubuhnya seraya memeluk tubuh istrinya. Dan ia pun terlelap dalam buaian mimpi.
Malam pun semakin larut menyelimuti sepasang suami istri itu dalam lelapnya. Hingga pagi menjelang.
Intan membuka matanya, kembali rasa mual menyerang dirinya, bergegas ia beranjak ke kamar mandi dan memuntahkan segala yang berada dalam perutnya.
Harvan terjaga dalam tidurnya, mendengar istrinya berada di kamar mandi ia bergegas mendekat dan memijat tengkuk istrinya.
“Sayang mual lagi ya?.” Tanya Harvan.
“Hm um.” Jawab Istrinya.
“Sabar ya sayang.” Kata Harvan seraya mengelus rambut istrinya dan memapah ke tempat tidurnya.
“Ini minum dulu sayang.” Ujar Harvan memberikan minum pada istrinya yang terlihat lemas itu. Kemudian Intan pun meminum air yang di berikan suaminya dan kembali merebahkan tubuhnya.
“Masih mual sayang?.” Tanya suaminya.
“Sekarang udah gak sayang.” Jawabnya pelan.
“Mungkin si jabang bayi pengen di tengokin sama ayahnya sayang hehe.” Canda Harvan.
Kemudian Intan menarik suaminya dan mengelus wajah suaminya itu.
“Sekarang pelan-pelan ya sayang karena ada dia di dalam.” Ucap Intan dengan mesra.
“Iya, kamu juga jangan berisik ya sayang nanti dia nangis, kamu kan suka berisik hehe.” Kata Harvan.
“Ish apaan sih.” Kata Intan, yang langsung di serang sang suami dengan ciuman bertubi-tubi dan tangan suami yang sudah mulai bergerilya di tubuhnya.
Dan terjadi lagi ritual serangan fajar yang suara nya bersahutan mesra menyaingi suara burung di luar sana.
*
*
__ADS_1
Begitu pun di tempat lain, di mana sang pengantin pun sedang menikmati fajar pengantinnya. Entah sudah ke berapa kalinya sejak malam mereka memadu kasih. Seakan tak kenal lelah menikmati keindahan bersama dalam ikatan suci mereka.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝