Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Teringat kembali akan cinta pertama


__ADS_3

Dan malam pun tiba. Angin malam yang terasa menusuk tulang menerpa tubuh kokoh yang tengah mematuk diri pada balkon kamar. Entah apa yang di pikirkan dalam isi kepalanya dan gemuruh dalam hatinya.


Yang jelas wajah tampan itu tengah merenungi segala masalah yang terjadi padanya. Tidak ada hati lain tempat mengadu hanya sepi dan sendiri yang ia rasakan. Padahal kemarin saja ia baru melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita. Namun itu tidak membawanya pada keadaan yang seharusnya di saat-saat seperti ini pasangan jiwa lah yang seharusnya menjadi tempat berkeluh kesah.


‘Tidak lagi sendiri namun tetap merasa sendiri. Harga yang harus di bayar mahal karena ego diri menorehkan sedikit luka, namun tak mengapa karena sadar akan ke alfaan terjadi tanpa sadar. Menginginkan hati yang mengerti di saat keluh kesah terjadi namun tak ada tempat disana. Biarkan saja seperti ini karena aku tengah belajar menikmati ini semua. Andai waktu dapat di putar kembali, aku akan meminta biar aku yang mati dan membiarkannya tetap hidup. Karena ketiadaannya membuat aku resah. Ku kira aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi, ternyata tidak! Namun bayangan cinta pertama tak kunjung hilang karena merasakannya tiada cacat sedikitpun. Namun aku tak harus membiarkan diri ini tenggelam bersamanya. Karena di depan sana putri kecil yang tersisa tengah membutuhkan uluran tanganku untuk menyambangi masa depan bersama.’


‘Teruntuk satu hati yang datang kemudian, maafkan aku jika perasaanku padamu tak sama seperti perasaanku padanya. Karena ia sudah terlalu dalam mengisi relung hatiku dan ia tak mau pergi. Mungkin diriku lah yang menahannya untuk pergi karena ia begitu sangat berarti. Tapi walau demikian aku pun menginginkan dirimu. Kenapa? Entah lah.. aku belum juga menemukan jawabannya. Aku tak mudah jatuh cinta dan cintaku berhenti di cinta pertamaku… maaf, mungkin dengam berjalannya waktu, cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan kita.’


‘Jika aku pernah melakukan sesuatu yang bergairah padamu. Dan ku akui bahwa itu adalah nafsuku yang tidak terbendung. Kuharap kau mengerti itu. Aku tidak ingin melupakannya dan ku pastikan dia tak ‘kan bisa terlupakan. Dan jika saja kau tahu, bahwa aku menerimamu masuk kedalam kehidupanku, semata karena aku mengabulkan permintaannya. Biarlah ini menjadi rahasiaku yang tak perlu kau tahu karena bisa jadi akan menyakitkan bagimu.’


*‘Intan Permata tak ‘kan pernah terhapus di dalam diri dan ingatan, Ia akan selalu ada di hati ini.’*


Setelah angin malam terasa semakin dingin ia rasakan, akhirnya ia masuk ke dalam ruangan kamarnya dan merebahkan diri di atas tempat tidur, sendiri dan menyepi.


Harvan melelapkan tubuhnya di kamar dengan sejuta kenangan yang telah di torehkan oleh mendiang sang istri.


Sementara itu di kamar lain, nampak Delima pun gelisah, tak juga ia dapat memejamkan mata. Entah apa yang mengganjal dalam pikirannya. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamar.


Tumbuh perasaan rindu dalam dirinya, dimana biasanya lelaki yang menjadi suaminya itu selalu menggodanya dan bersikap mesra padanya, namun kali ini tidak.


Lelaki itu kini lebih dingin seperti tak bergairah lagi akan dirinya.


‘Ada apa dengan diriku ini! Kenapa tiba-tiba saja aku merindukan kehadirannya yang selalu menggodaku. Lalu kenapa sekarang ia bersikap dingin padaku? Padahal sebelum kita menikah dia selalu menginginkan diriku. Tapi setelah menikah kenapa sikapnya malah menjadi dingin. Apa karena sikapku yang seolah membiarkannya? Atau karena memang dia tak menginginkanku? Ah… aku benci dengan keadaan ini. Apa aku harus datang sendiri ke dalam kamarnya dan meminta maaf? Ish tapi itu terkesan seperti aku hendak menggodanya. Lalu sampai kapan aku di biarkan seperti ini? Jangankan bersikap mesra padaku, berkata pun tidak.’


Lalu pikirannya kembali membayangkan pada saat suaminya itu selalu menggodanya. Tersungging senyum manis di bibirnya.


‘Aku merindukan sikapmu yang seperti kemarin Suamiku. Kenapa kau biarkan aku tenggelam dalam buaian rindu yang seolah menyiksaku. Sepertinya saat ini aku sangat menginginkan pelukanmu. Deru nafasmu masih terasa di telinga ini, saat kau mencumbuiku.’


Rasa yang membuat ia merindukan belaian sang lelaki yang kini telah menjadi suaminya semakin kuat ia rasakan. Semakin dalam dan semakin mendorongnya untuk membawa dirinya mencari keberadaan sosok itu.


Entah ia sadar atau tidak, langkahnya membawa ia keluar kamar itu menuju kamar dimana sosok itu tengah terlelap.


Setelah ia membuka pintu kamar, lalu ia masuk kedalamnya. Ia pandangi sosok gagah yang tengah terlelap itu.

__ADS_1


Perlahan ia mendekat dan duduk di samping tubuh kekar itu. Ia arahkan pandangannya pada wajah tampan tersebut dan mendekatkan wajahnya pada wajah yang menyiratkan kerinduan untuk memadu kasih.


Dengan penuh hati-hati jemarinya ia jamahkan pada wajah itu. Dan berbisik.


“Maafkan aku yang merindukanmu saat ini. Kau tahu? Betapa bahagianya aku saat kau menyatakan bahwa kau menginginkanku, lalu kau menjadikan aku halal bagimu. Aku tidak ingin berpura-pura tak butuh dirimu. Namun sebagai wanita aku merasa langkahku terbatas untuk menggapaimu. Dengan sejuta keberanian aku menuju padamu. Meski malu namun ku tahan karena rasa ini memaksaku untuk terus menghampirimu. Aku tahu aku tak sebaik wanita pujaanmu, aku sadar aku memiliki banyak kekurangan yang tak bisa kau bandingkan dengannya, namun aku memiliki satu keyakinan bahwa cintaku padamu sama dengan cintanya padamu. Aku tak peduli akan perasaanmu padaku, entah kau hanya menginginkan tubuhku saja atau tidak sama sekali. Yang jelas, mengabdi padamu itu adalah tujuanku. Tak kau sentuh pun tak apa asal aku dapat melihatmu setiap hari dan menjadi menjaga buah cinta kalian. Meski selamanya akan seperti ini, mencintaimu dalam diam, menginginkan mu tanpa kata, dan kau tak pernah menghiraukan aku, itu tak masalah bagiku. Karena aku sudah terlanjur mencintaimu. Cinta yang aku rasakan ini sudah cukup bagiku, dan ku kira aku tak perlu meminta lagi padamu untuk kau cintai.” Gumam Delima.


Lama sekali ia pandangi wajah suaminya itu. Setelah ia puas memandangi, perlahan ia kecup bibir kokoh itu lalu ia berlalu kembali kedalam kamar dimana putri kecilnya berada.


Sementara sepeninggalan Delima terlihat Harvan menyunggingkan senyuman di bibirnya dalam keadaan mata yang masih terpejam. Entah apa yang membuat ia tersenyum, apakah ia mendengar apa yang Delima bisikan dan menciumnya? Atau ia tengah bermimpi indah? Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu.


Tak terasa pagi pun tiba. Nampak suasana di dapur terlihat sibuk dengan aktivitas mempersiapkan untuk sarapan pagi tuannya.


Delima yang di bantu oleh dua orang asistennya tengah menghidangkan menu pada meja makan. Tak lama turun dari lantai atas Harvan dan Jodi melangkah menuju ruang makan.


Dug… berdegup hati Delima saat melihat sosok suaminya dan beradu pandang dengannya. Ia melihat suaminya meraih putrinya yang berada pada mini bar dan membawanya ke meja makan.


Biasanya Harvan memandangi Delima setiap ia duduk disana namun kali ini tidak. Ia sibuk dengan putri kecilnya.


“Kau mau makan bersama ayah sayang?.” Tanya sang ayah pada putrinya itu.


“Baik sayang.” Kemudian Harvan mengambil sarapannya sendiri, Delima yang asalnya akan mengisi piring suaminya itu terdiam saat melihat piring itu sudah terisi oleh nasi goreng buatannya.


Ia melihat Harvan menyuapi putrinya kemudian ia duduk di sebelah putrinya itu.


Jodi menangkap penampakan Harvan yang berbeda kali ini. Namun ia tak ingin banyak bicara dan berusaha memakluminya.


Setelah selesai sarapan, Harvan dan Jodi beranjak dari menja makan menuju halaman depan rumahnya dimana kuda besi mereka telah menunggunya.


Seperti biasa Delima membawa Harin dalam pangkuannya manakala ayah dari anak itu akan berangkat ke kantor.


Harvan pamit dan mencium putrinya, Delima berharap Harvan seperti sebelumnya menariknya dan menciumnya untuk pamit, tapi kali ini tidak, Harvan hanya mengatakan,


“Aku pamit ya? Kalian baik-baik di rumah.” Lantas ia berlalu menuju kuda besinya, dan masuk kedalamnya lalu kuda besi itu membawanya pergi hingga tak terlihat lagi.

__ADS_1


Delima menghela nafas panjang lalu ia membawa putrinya masuk kedalam rumah untuk mulai membimbingnya belajar.


Sementara itu di dalam mobil Jodi memulai pembicaraan di antara mereka.


“Gue lihat elo cuekin Delima, kenapa?.” Tanya Jodi penasaran.


“Gak ah biasa aja.”


“Memangnya gue gak tahu apa? Biasanya kan sebelum berangkat pamit-pamitan dulu di balik tirai hehe, dan meninggalkan lipstik di bibir elo?.” Jelas Jodi namun Harvan diam sejenak, kemudian,


“Entah lah Jod, gue rasa itu gak perlu, gue gak mau dia ngerasa terganggu sama sikap gue.”


“Lah itu kan kebiasaan yang seharusnya suami istri lakukan? Memang aneh ya, dulu sebelum halal di pepet terus sampai dapat, eh sekarang giliran udah halal dianggurin, jangan-jangan malam pertama pun belum terjadi lagi, gak ngerti gue!.”


“Bukan begitu Jod, gue kira untuk melakukan hal itu kita berdua harus sama-sama nyaman sementara aku sama dia masih terikat masalah masing-masing. Gue pengen itu terjadi saat kita berdua sama-sama telah terbebas dari masalah kita.”


“Oh begitu… gue pikir elo udah hilang nafsu haha.”


“Enak aja luh!.”


“Gue mau konsen dulu sama masalah gue Jod, setelah masalah gue selesai baru ngurusin masalahnya Delima.”


“Apa mungkin elo gak mau ngelakuin hal itu karena elo takut dan khawatir bahwa dia yang berusaha membunuh pengusaha itu?.” Selidik Jod.


“Gak juga sih, sekarang gue cuma belum siap aja melakukannya.”


“Siapa tahu dengan mantap-mantap bisa menjadi penyemangat elo Har?.”


“Iya sih, cuman gue lagi gak tertarik aja. Masalah gue cukup menyita pikiran gue.”


“Kalau urusan masalah elo sama duo dajjal itu kan ada gue Har, jadi elo gak usah mikirin macam-macam. Semaksimal mungkin gue akan melakukan yang terbaik.”


“Ya tapi tetap aja kepikiran mau gimana juga Jod. Dan gue juga gak mau elo bekerja sendiri sementara ini kan masalah gue. Jadi gue pengen kita sama-sama memperjuangkan ini. Bukan kah itu sudah menjadi komitmen kita?.”

__ADS_1


“Iya gue ngerti deh. Ayo kita turun.” Kuda besi yang membawa mereka akhirnya sampai di halaman parkir gedung kantor tempat mereka bekerja. Dan mereka berdua pun berlalu meninggalkan halaman parkir menuju kedalam gedung tersebut.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2