Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Munich, Jerman


__ADS_3

Munich merupakan ibukota sekaligus kota terbesar di state Bavaria. Secara geografis kota ini terletak di sebelah utara pegunungan Alpen Bavaria, di tepi sungai Isar, wilayah selatan Jerman. Munich merupakan kota asal salah satu club sepak bola utama Eropa, yaitu Bayern Munchen dengan stadionnya, Allianz arena. Bandara internasional utama dikota ini adalah Munich AirPort atau Flughafen Munchen (MUC). Merupakan bandara tersibuk ke-enam di dunia.


Siang itu terlihat pesawat yang ditumpangi Reyhan landing di Munich AirPort. Setelah menempuh waktu penerbangan selama 16 jam Jakarta-Jerman. Akhirnya Reyhan sampai di kota tersebut.


Selvy dan anaknya Revy juga kedua orang tuanya tinggal di Kota tersebut. Para pengamat yang melakukan kurasi dalam penyusunan daftar menganggap Munich sebagai kota yang berkualitas untuk hidup karena nyaman untuk berbisnis sekaligus bersantai.


Sistem trasportasinya juga terencana dan bersih, begitu juga jalan rayanya yang aman untuk dilintasi. Kota ini memiliki belasan Universitas bertaraf Internasional sehingga banyak kantor pendidikan disana, yang membuat banyak pula tercipta lapangan pekerjaan. Karena itu kota Munich lebih dipadati oleh penduduk asing di banding kota Berlin.


Setelah menaiki kereta Inter City, tibalah Reyhan di sebuah rumah besar di kota tersebut. Rumah itu adalah rumah yang di tempati Selvy beserta anaknya dan juga Ayah dan Ibunya.


Reyhan memasuki rumah itu seperti sudah terbiasa, malah terkesan seperti rumahnya sendiri. Sampai di tengah rumah, Ia disuguhkan dengan penampakan seorang anak perempuan yang berusia kira-kira 5 tahun. Ya anak itu adalah Revy, anaknya dari Selvy tanpa ikatan pernikahan.


Tidak jauh dari Revy yang sedang bermain boneka, duduk seorang wanita paruh baya. Ia adalah ibunya Selvy yang bernama Marlish. Sementara Selvy tengah membawa makanan yang akan diberikan pada ibunya. Melihat Reyhan datang, Selvy sedikit terkejut.


“Wozu ist er gekommen?.”


“(Untuk apa dia datang?.)” Kata Marlish dalam bahasa Jerman kepada Selvy, dengan mimik tidak suka melihat pada Reyhan.


“Mutter…”


“(Mama..).” Kata Selvy pada Marlish, tetapi Marlish langsung menimpali.


“Ich mag den typen nicht.”


“(Saya tidak suka lelaki itu.)”. Kata Marlish.


“Wir wollen reden”


“(Kami ingin Bicara.)” Kata Selvy, sementara Reyhan memperhatikan mereka.


“Sei vorsichtig mit ihm.”


“(Hati-hati dengan dia.)” Kata Marlish.


“Okay mutter, lass uns beide.”


“(Oke mama, biarkan kami berdua.)” Kata Selvy.


Dengan pandangan tidak suka Marlish pergi meninggalkan mereka. Kemudian Selvy mempersilahkan Reyhan duduk dekat anaknya.


“Dia sudah besar.” Kata Reyhan seraya mengarahkan pandangannya melihat Revy anak mereka.


“Ya, sekarang usianya menginjak 5 tahun.” Jawab Selvy.


“Ibu kamu sepertinya masih tidak suka padaku.” Kata Reyhan.


“Sudah biarkan saja, jangan dipikirkan.” Kata Selvy.


“Apa kabar kamu?.” Tanya Reyhan.


“Seperti yang kamu lihat.” Jawab Selvy.


“Disini kamu terlihat anggun.” Kata Reyhan yang menatapnya.


“Dirumah, kita harus menunjukkan citra baik.” Jawab Selvy.


“Ya baguslah. Oya apa kamu tahu? Istri si Harvan sudah meninggal beberapa bulan lalu, ia di bunuh seseorang.” Jelas Reyhan.


“Benarkah?.” Kata Selvy sedikit terkejut.

__ADS_1


“Iya, pada saat dia hendak melahirkan dirumah sakit, tiba-tiba seseorang menusuknya, tapi anaknya selamat.” Jelas Reyhan.


“Haha.. Tapi bukan kamu kan yang menyuruh orang itu untuk membunuh istri si Harvan?.” Tanya Selvy.


“Justru awalnya saya yang akan melakukan pembunuhan itu. Tapi orang itu sudah lebih dulu membunuhnya.” Kata Reyhan.


“Baguslah! Jadi kamu tidak perlu repot-repot membuang waktu untuk melenyapkan dia.” Ujar Selvy.


“Tapi saya ingin membunuhnya dengan kejam, bukan seperti itu.” Kata Reyhan.


“Lalu rencana kamu apa?.” Tanya Selvy.


“Aku berencana akan membunuh anaknya.” Jelas Reyhan.


“Caranya?.” Tanya Selvy.


“Entahlah, karena untuk mendekati anak itu susah, si Harvan mengawasinya cukup ketat, malah dia yang selalu bersama anaknya itu. Makanya saya datang kemari, untuk memikirkan caranya seperti apa, mungkin kamu punya ide?.” Tanya Reyhan pada Selvy. Selvy terdiam seperti memikirkan sesuatu.


“Kita jangan gegabah lagi, agar rencana berhasil, kita harus memikirkannya matang-matang, meskipun dalam waktu yang sangat lama, biarkan saja dulu sekarang mereka menikmati hidupnya, pada saat lengah baru kita bertindak!.” Jawab Selvy.


“Iya, saya terlalu terburu-buru karena sudah tidak sabar ingin segera mereka mati dan menikmati kekayaan mereka.” Jelas Reyhan.


“Kamu terlalu ambisius dalam hal apapun Rey.” Kata Selvy.


“Iya, termasuk menikmati tubuhmu.” Kata Reyhan yang sudah gatal melihat paha mulus Selvy.


“Baiklah, kita pikirkan rencana kita nanti, agar hasilnya maksimal. Sekarang saya ingin tidur bersama kamu.” Rayu Reyhan.


“Baik, tunggulah di hotel, nanti saya akan kesana mendatangi kamu.” Kata Selvy.


“Oke, saya tunggu, berdandanlah yang cantik dan puaskan nafsu saya selama saya disini.” Kata Reyhan.


“Oke, tidak masalah.” Jawab Selvy.


Reyhan memiliki sifat yang tidak suka pada anak kecil termasuk pada anaknya. Karena dalam niatnya Revy hanya akan dijadikan alat untuk menguasai harta milik Harvan.


Begitu pun dengan Selvy, Ia terkesan cuek pada Revy, sifat Selvy mirip Reyhan, karena itu Revy di rawat oleh Marlish dan Renold, orang tua dari Selvy.


*


*


Kembali ke Indonesia.


Jodi kini berada di markasnya bersama team. Ia tengah menginterogasi pemilik motor yang dipakai oleh orang yang membunuh Intan.


“Heh! Ayo sekarang elo ngaku!.” Kata Jodi pada pemilik motor itu.


“Sumpah om saya gak tahu apa-apa.” Jawab orang itu.


BRUK!!! Jodi menggebrak meja.


“Jangan bohong luh!! Ayo ngaku!!.” Tanya Jodi Tersulut emosi.


“Demi Tuhan om! Hari itu saya cuma disuruh menunggu depan rumah sakit.” Jawab orang itu ketakutan melihat muka Jodi yang mulai merah padam.


“Ngaku gak luh!!! Elo mending ngaku sekarang! Atau elo mati! gue cincang disini!!.” Teriak Jodi dan BUGH Jodi memukul perut orang itu.


“Aw.. ampun om, ampun, demi Tuhan saya cuma diminta nunggu di depan rumah sakit itu sama teman saya, tolong om jangan siksa saya.” Kata orang itu mengiba sembari menahan sakit diperutnya.

__ADS_1


“Oke, Jadi temen elo yang nyuruh elo nunggu disana ya. Sekarang katakan siapa teman elo itu!! Ayo cepat katakan!!!.” Teriak Jodi dengan penuh amarah.


“Ba-baik om, a-akan saya katakan.” Jawab orang itu ketakutan.


“Ayo katakan!!!” Sentak Jodi pada wajah orang itu.


“Sa-saya di telepon teman saya saat itu. Nama dia Gery. A-awalnya dia meminta tolong agar saya menunggu di depan rumah sakit karena dia bilang, dia ada urusan kerumah sakit itu. Akhirnya sore itu sa-saya menunggu dia. Setelah saya menunggu 20 menit, dia datang menghampiri saya dengan memakai pakaian seragam operasi yang berlumuran darah. Kemudian saya disuruh antar dia ke TPS ujung kota untuk membuang seragam operasi itu dan membuang sebuah belati. Setelah itu saya antarkan dia pulang ke rumahnya.” Jelas orang itu.


“Oke, cukup! Dengar baik-baik! Kalau elo mau selamat!! Elo harus kerja sama dengan gue, paham gak luh!!.” Kata Jodi menarik kerah baju orang itu kemudian mendorongnya.


Akhirnya Jodi dan team berunding untuk terus mencecar orang itu. Dan menjadikan orang itu umpan untuk menangkap temannya itu yang diduga telah melakukan pembunuhan Intan.


Jodi beralibi bahwa temannya itu merupakan suruhan seseorang untuk membunuh Intan. Titik terang mulai Jodi dapatkan. Dengan matang Jodi merencanakan dengan team untuk melakukan penangkapan pada teman orang itu.


“Sebelum temen elo itu gue tangkap, elo gak bisa kemana-mana. Tunggu sampai gue tangkap teman elo itu. Faham luh!!!.” Sentak Jodi.


Kemudian Jodi menghampiri salah seorang team nya.


“Jangan sampe dia lepas sebelum gue tangkap pelakunya!.” Kata Jodi.


“Siap Boss!.” Jawab salah seorang team itu.


Kemudian Jodi berlalu meninggalkan markasnya. Memacu kuda besinya menuju rumah Harvan.


*


*


Dirumah besar Harvan, terlihat Harvan tengah bermain dengan Harin di taman samping rumah, kebetulan hari itu pak Budi dan bu Irma tengah berkunjung menengok cucunya.


“Sini sayang sama oma.” Kata bu Irma meraih Harin dari pangkuan Harvan.


Tapi Harin malah menangis tidak mau melepaskan pangkuan dari Ayahnya.


“Tuh kan, anakmu jadi gak mau sama siapa-siapa, itu karena kamu terlalu menguasai anakmu itu. Sama omanya saja seperti takut.” Kata bu Irma.


“Hehe, Harin kenapa gak mau di gendong oma sayang?.” Kata pak Budi mencoba meraih Harin dari pangkuan Ayahnya.


Tetapi tetap saja Harin menolak juga, iya malah nangis kejer tidak mau digendong oleh opanya.


“Hehe, anak kesayangan Ayah, gak mau ya jauh sama Ayah.” Kata Harvan sama putrinya seraya menciumi pipinya.


“Nanti kamu repot sendiri loh Har, apalagi kalau kamu lagi kerja.” Kata ibu Irma.


“Gak kok bu, sama sekali Harin gak bikin aku repot, iya kan sayang?.” Jawab Harvan seraya memeluk gemes putrinya itu.


“Ibu itu punya cucu cuman satu-satunya, tapi sedikitpun ibu gak bisa dekat sama cucu sendiri, teman-teman ibu kadang kalau rapat bawa cucunya, ibu juga pengen seperti mereka.” Kata bu Irma sedikit cemberut.


“Ibu jangan merajuk seperti itu dong, mungkin sekarang saja Harin belum mau, nanti juga saat Harin sudah besar pasti mau sama kita bu.” Hibur pak Budi.


“Iya bu, sekarang Harin belum mengerti, nanti juga besar sedikit dia bakal nanyain oma nya.” Kata Harvan.



Kemudian Harvan berlalu ke dapur, membuat makanan untuk Harin. Ia menyuapi putrinya itu dengan lembut, Harin dengan lahap mengunyahnya yang sesekali melemparkan senyum pada Ayahnya.


“Setelah makan, putri ayah harus mandi, biar wangi dan cantik seperti ibu.” Kata Harvan sambil menyuapi putrinya.


Pak Budi dan bu Irma memandangi anak semata wayangnya itu, yang tengah menyuapi putrinya. Muncul dalam hati mereka rasa haru melihat penampakan itu. Terenyuh hatinya, melihat anaknya mengurusi putrinya sendiri tanpa ingin dibantu oleh siapa pun.

__ADS_1


(Kau hebat putraku! Tidak semua lelaki bisa sepertimu! Aku bangga padamu!) Bathin pak Budi.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2