
Suasana bahagia mengitari rumah sederhana diperkampungan nelayan itu. Bagaimana tidak? Mereka tidak menyangka kalau kedatangan sosok malaikat kecil menjadi jalan pembuka rezeki bagi mereka.
“Pak, mungkin dalam beberapa hari kedepan saya akan kembali ke Jakarta, tetapi setiap minggu kami akan selalu datang ke tempat emak. Nanti jika bapak ada waktu datanglah ke pondok emak pada saat kami berada disana, karena setiap hari Sabtu dan minggu Harin akan belajar silat di Padepokan emak. Sebelum saya kembali ke Jakarta, tentunya janji saya pada bapak dan Sulaiman akan saya selesaikan dulu.” Jelas Harvan.
“Baik Tuan, terima kasih atas kebesaran hati Tuan pada keluarga kami.” Kata pak Ahmad dengan rasa haru dan bahagianya.
“Ini om nya Harin sekaligus asisten saya, namanya Jodi, ia nanti yang akan mengurusi segalanya bersama bapak.” Kata Harvan menunjuk Jodi di sampingnya.
“Iya pak saya yang akan mengurusi segala yang bapak butuhkan nanti, bapak kan lebih tahu kondisi di sini dan dimana bapak bisa mendapatkan perahu yang akan bapak miliki nanti. Kemudian untuk menghubungi bagian pemasaran kios yang akan dijadikan untuk usaha ibu dan Sulaiman juga, tentunya bapak lebih hafal, jadi mungkin mulai besok, saya dan bapak akan sering berdiskusi membahas semua itu.” Jelas Jodi.
“Baik Tuan.” Kata pak Ahmad.
“Kalau bapak tidak keberatan besok datanglah ke pondok emak beserta keluarga bapak, kami tunggu disana.” Kata Harvan.
“Baik Tuan, saya bersama istri dan anak-anak akan mengunjungi Tuan di pondok emak besok pagi.” Jawab pak Ahmad.
“Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu untuk membawa putri kami kembali ke pondok emak.” Kata Harvan.
“Ayo sayang kita ke pondok emak, emak sudah menantimu disana.” Kata Harvan pada Harin yang duduk diatas pangkuannya, kemudian Harvan memandangi Revy yang terduduk dengan kepala menunduk.
“Revy, ayo kita ke pondok emak, kemasi barangmu.” Kata Harvan pada Revy.
“Ayo kak kita kemasi barang-barang kita.” Ajak Harin menghampiri Revy yang duduk disebalah bu Aminah.
Lalu Revy dan Harin masuk kedalam kamar Sulaiman yang dijadikan tempat tidur mereka malam tadi. Tak lama mereka pun kembali dari kamar tersebut dengan membawa tas mereka masing-masing.
“Ayo ayah kita sudah siap.” Senyum Harin menghiasi bibirnya. Sementara Revy hanya diam sembari menundukkan kepalanya.
Lalu Harin mendekati pak Ahmad, bu Aminah dan Sulaiman.
“Bapak, ibu, kak Sulaiman. Aku sama kak Revy mau ke pondok emak dulu ya?.” Kata Harin
“Iya anak pintar, hati-hati di jalan ya?.” Kata bu Aminah
“Besok ibu sama bapak datang kan ke pondok emak sama kak Sulaiman dan adik-adik?.” Tanya Harin.
“Tentu saja anak pintar, bapak bersama ibu akan datang ke pondok emak besok bersama kak Sulaiman dan adik-adik.” Kata pak Ahmad.
“Baiklah, kami pergi dulu ya.” Kata Harin
“Mari pak, bu, Sulaiman.” Kata Harvan.
“Iya Tuan, silahkan.” Jawab mereka serentak.
Akhirnya Harvan, Harin, Jodi dan Revy berlalu dari tempat itu menuju mobil mereka yang terparkir di ujung jalan.
Setelah sampai di depan mobil mereka, Jodi duduk di belakang kemudi dan Harvan di sampingnya. Sementara Harin dan Revy duduk di jok belakang.
Pak Ahmad dan keluarga yang mengantarkan mereka sampai memasuki mobil, melambaikan tangannya pada saat mobil itu melaju meninggalkan mereka.
Didalam perjalanan Revy hanya terdiam memandangi ke samping kaca mobil. Jodi yang sesekali mengintip dari kaca spion depan, merasa kasihan melihatnya.
Begitu pun dengan Harvan yang tidak melihat keceriaan dari wajah Revy membuatnya bertanya-tanya apa sebenarnya yang anak itu rasakan.
Sementara Harin terus saja ngoceh dengan celotehan-celotehan nya.
“Ayah, kenapa ayah cepat-cepat menjemputku, aku kan masih ingin berpetualang dengan kak Revy.” Ujarnya.
“Loh, memangnya mau sampai kapan kalian berpetualang, ayah kan sudah rindu padamu sayang.” Jelas Harvan
__ADS_1
“Iya, tapi tidak bisa kah ayah menyimpan rindu ayah itu sampai beberapa hari lagi?.”
“Tidak bisa sayang, ayah sangat khawatir sekali sama keadaanmu, makanya pada saat bapaknya Sulaiman memberitahu kalau kalian ada dirumahnya, langsung ayah datang. Apa kamu tidak merindukan ayah yang setiap waktu cemas karena kehilanganmu?.” Tanya Harvan.
“Aku rindu ayah, tapi petualanganku lebih seru ayah.”
“Apaaa?! Kau bilang petualanganmu lebih seru dari pada rasa rindumu pada ayah?, kau tega sekali sayang menyakiti ayah seperti ini.” Kata Harvan memelas.
“Cup cup cup ayah kesayanganku jangan sedih.” Ucap bibir mungilnya seraya mendekatkan kepalanya pada jok depan tempat ayahnya duduk, dengan tangan mengelus pipi ayah nya dari belakang.
“Tapi sebelum kak Revy kembali ke Jerman, aku ingin menghabiskan waktu bersama kak Revy dulu ayah. Nanti pasti aku akan sangat merindukan kak Revy karena kak Revy sebentar lagi akan pulang ke Jerman.” Sambung bibir mungilnya.
Harvan terdiam kala mendengar apa yang putri kecilnya ucapkan. Sementara Revy hanya terdiam sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dengan tatapan mengarah pada luar kaca samping mobil.
“Kan tiap hari kalian bisa teleponan nanti.” Kata Jodi.
“Iya om tapi sebelum kak Revy kembali ke Jerman aku ingin puas dulu bermain.” Jelas Harin.
“Kalian kan bisa berpetualang di pondok emak, kak Sulaiman juga nanti akan sering mengunjungi pondok emak. Jadi kalian bisa main bersama-sama.” Ujar Harvan.
“Tapi enggak seru kalau ada ayah sama om Ijong!.” Celoteh bibir mungilnya.
“WHAT!! Aku om mu yang paling baik sedunia ini, kau bilang tidak seru!! Oh Harin begitu cepatnya hatimu berubah pada om.” Kata Jodi.
“Aku kan sudah besar om, sekarang aku sudah bisa makan dan mandi sendiri. Iya kan kak Revy?.” Tanya Harin mencari dukungan Revy.
Lalu Revy tersenyum padanya dan menganggukan kepalanya.
“Tuh betulkan? Jadi om sama ayah jangan ikut campur urusan aku lagi!.” Sambungnya.
“Apa?! Oh Harin, jangan katakan itu pada ayah sayang, ayah tidak bisa hidup tanpamu nak, ayah merasa sendiri kalau kau bilang begitu.” Kata Harvan memelas.
Mendengar kata-kata putri kecilnya itu Harvan langsung terdiam melirik pada Jodi, Jodi yang mendengar kekonyolan Harin langsung menangkupkan bibirnya menahan tawa akan celotehan itu.
Seketika Harvan dibuat gugup pada saat putrinya akan melanjutkan celotehannya.
“Ayah tidak mau menjawab, berarti ayah masih suka ngompol, ternyata ayah masih seperti Ade bayi. Om Ijong lupa ya? Beli pampers untuk ayah?.” Tanya Harin pada Jodi.
Jodi tidak bisa menjawab, matanya melirik pada Harvan yang terlihat wajahnya sudah memerah. Ia bingung akan menjawab apa karena ada Revy yang tidal tahu apa-apa dengan apa yang Harin katakan itu.
Sampai akhirnya mobil berhenti karena sudah sampai di halaman pondok emak. Dan keadaan itu menyelamatkan kedua orang dewasa itu dari serangan celotehan seorang putri kecil.
“Horay.. kita sudah sampai.” Teriak Jodi.
“Ayo kita turun sayang.” Ajak Harvan pada Harin.
“Ayo kak kita turun, aku akan kenalkan kakak pada emak.” Ajak Harin pada Revy. Kemudian Revy pun turun memenuhi ajakan Harin.
Dan kedua anak itu lari bergandengan tangan meninggalkan dua orang dewasa dibelakangnya.
“Hahaha… memang lucu putri elo itu ya! Bikin mati kutu ayahnya haha.” Kelakar Jodi.
“Masih inget aja dia ya?.” Ujar Harvan sembari nahan malu didepan Jodi.
“Hahah lucu emang itu anak bikin kita gak bisa berkata-kata.” Kelakar Jodi kembali.
“Sial bener gue hari ini, udah rasa kangen gue gak ditanggapin, ditambah pake bilang gue suka ngompol lagi depan kalian, huh nasib.. nasib.” Kata Harvan mengusap pelipisnya.
“Haha.. makanya jangan ngompol terus haha.” Ledek Jodi.
__ADS_1
“Eh anjiiir! Mending gue ngompol ya!! Dari pada elo Solo karier di kamar mandi seumur hidup luh!.” Ujar Harvan seraya mengambil segenggam pasir lalu dilemparkan pada Jodi yang berlari meninggalkannya.
Sementara Harin dan Revy yang tengah memasuki pondok emak, memanggil-manggil sosok yang ia cari.
“Emak.. emak… dimana kau!.” Dengan bibir mungilnya ia mencari emak dengan tangan masih menggenggam tangan Revy.
“Ada apa buyutku yang manis.” Jawab emak yang menampakan dirinya keluar dari pintu dapur.
“Hai emak, aku datang, aku bersama kakakku, namanya kak Revy mak.” Kata Harin dengan pelukan hangat nya. Lalu Revy mencium punggung tangan emak.
“Oya? Ini kakakmu? Pantas saja kalian mirip, kenapa kamu baru ajak kakakmu kemari sayang?.” Kata emak seraya mengajak mereka duduk lesehan di ruang tengah.
“Karena kak Revy tinggal di Jerman mak jadi aku baru sempat bawa kakak sekarang menemui emak.” Jawab bibir mungilnya.
Lalu Harvan dan Jodi datang kearah mereka dan duduk lesehan bersama, tapi sepertinya ada sesuatu yang ingin Harvan bicarakan dengan Revy. Akhirnya Harvan meminta ijin pada emak dan putrinya untuk membawa Revy keluar hendak berbicara empat mata.
Sementara emak dan Harin juga Jodi bercengkerama di dalam pondok. Harvan dan Revy berbincang duduk diatas dipan pondok emak.
“Revy, om mau ngucapin makasih banyak sama kamu, karena kamu sudah menjaga Harin dengan baik seperti pada adikmu sendiri.” Kata Harvan yang duduk di sebelah Revy.
“Iya om sama-sama.” Jawab Revy canggung.
“Oya Revy, bagaimana keadaan oma sama opa di Jerman?.” Tanya Harvan.
“Alhamdulillah baik om, mereka sehat, hanya saja mereka sekarang pasti sedih seandainya tahu kalau aku di culik sama mama. Mama bilang sama oma hanya akan membawa aku liburan saja. Selesai liburan mama janji akan membawa aku kembali ke Jerman. Padahal semua itu bohong.” Jelas Revy dengan wajah sedihnya.
“Syukurlah kalau oma dan opa mu sehat. Kamu tenang saja Revy om nanti akan mengurus kepulanganmu ke Jerman dengan selamat.” Kata Harvan.
“Makasih om.” Jawabnya.
“Om maaf ya atas kejahatan mama dan lelaki itu pada keluarga om.” Sambungnya.
“Kamu gak perlu minta maaf pada om Revy. Sebenarnya mamamu itu baik, mamamu melakukan itu karena pengaruh dari luar.” Kata Harvan menghibur Revy.
“Tapi om. Aku pernah menguping pembicaraan mama dan lelaki itu, katanya akan membuat om dan Harin menderita. Aku sedih mendengar mama mengatakan itu om, malah aku mendengar mama akan menjadikan aku alat untuk merebut semuanya dari om.” Jelas Revy polos.
Harvan Menganalisa apa yang dikatakan Revy itu.
“Mereka akan menjadikan arsip aku sebagai alat bukti untuk memindahkan semua kekayaan om menjadi atas nama aku.” Jelasnya kembali.
“Kamu jangan terlalu khawatir Revy, om akan mengatasinya.” Kata Harvan sembari berfikir.
“Aku benci mereka om, aku tidak ingin hidup bersama mereka, makanya aku ingin kembali saja bersama oma dan opa yang jelas-jelas menyayangiku. Mama dan pria itu tidak menyayangiku sama sekali mereka hanya memanfaatkan keberadaanku saja.” Ucapnya lirih.
“Revy apa kau tahu lelaki itu siapa?.” Tanya Harvan menyelidik.
“Aku tahu om, dia adalah ayah biologisku. Tapi aku dan oma juga opa sangat tidak suka padanya, karena dia orang jahat.” Jelas Revy.
“Sejahat apa pun mereka, kamu tidak boleh memendam kebencian dalam hatimu Revy, karena mereka adalah orang tua mu, sebagai anak yang baik, sebaiknya doakan saja mereka agar mereka menyadari kesalahannya.” Kata Harvan.
“Tapi mereka tidak menyayangiku om. Hanya opa dan oma yang sayang padaku. Hanya mereka yang selalu memperhatikan aku. Mereka hanya sibuk dengan ambisinya, tidak layak mereka aku sayangi.” Kata Revy dengan air mata yang menetes di pipinya.
“Masih banyak yang Menyayangimu Revy, Harin sangat sayang padamu, om juga sayang padamu, karena kamu adalah anak baik, kamu bisa anggap om sebagai ayahmu juga Revy. Tanpa mereka minta om juga akan memberikan sebagian harta om buat kamu, karena kamu telah menjaga Harin dengan baik.” Jelas Harvan sembari memeluk gadis yang kurang kasih sayang itu.
Pecah tangisan Revy dalam pelukan Harvan. Luluh hatinya kala ia mendapatkan kali pertama pelukan dari seorang ayah yang begitu menghangatkannya. Yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dari ayah biologisnya.
Sungguh luar biasa hati seorang Harvan Hartawan yang lembut dan penyayang.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
__ADS_1