
Dua jam berlalu, namun tak ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan operasi, Ocy semakin gelisah menantinya, kini papanya pun telah datang.
"Ocy apa yang terjadi?" tanya pak Jaya sambil memeluk putrinya.
"Pa, Aping pa?" Ocy menangis dalam pelukan papanya.
"Om sebenarnya Aping tadi menyelamatkan kami dari mobil yang ingin menabrak kami, tapi malah dia yang menjadi korbannya," jelas Lisa kepada pak Jaya.
"Sepertinya ada unsur kesengajaan, apa kalian ingat no plat mobil itu?" tanya pak Jaya kepada kedua gadis itu.
Keduanya menggeleng lemah, mereka benar-benar tak tahu siapa yang berusaha mencelakai mereka.
Beberapa menit kemudian para dokter telah keluar dari ruang operasi, Ocy segera mendekati mereka.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Ocy.
"Syukurlah pasien sudah melewati masa kritisnya, sekarang kita tunggu dia untuk siuman dulu ya," jelas sang dokter sambil tersenyum lega.
__ADS_1
"Tapi untuk sementara mungkin dia belum bisa berjalan karena tulang kakinya mengalami retak, serta mungkin sedikit memorinya bisa hilang akibat benturan keras mengenai kepalanya."
Penjelasan dokter itu membuat Ocy membeku seketika, Aping mengalami hilang ingatan menurut diagnosa dokter.
"Baik dokter, terima kasih," jawab pak Jaya yang melihat Ocy hanya terdiam dengan tatapan kosong itu.
"Aping apa lo akan lupain gue?" batin Ocy.
Sudah tiga hari Ocy berada di samping tubuh Aping yang telah terbaring koma, dengan bantuan alat-alat medis penunjang kehidupannya saat ini, sekarang yang bisa menjadi harapan Ocy adalah keajaiban yang membuat Aping kembali sembuh.
"Ping bangun dong, lo gak kangen apa usil ke gue, lo gak kangen apa marahan sama gue, lo kan dah janji jagain gue selamanya, gue mohon lo bangun sekarang, buka mata lo, gue di sini nunggu lo kembali Ping," ratap Ocy sambil memegang tangan Aping, air matanya tak mampu lagi berhenti.
*****
"Ocy," panggil sosok yang familiar di ingatan Ocy.
Gadis itu perlahan mendekat ke arah sosok yang memanggilnya, hatinya sangat senang saat mengetahui siapa sosok itu.
__ADS_1
"Aping!" teriaknya sambil berlari kearah sosok itu.
"Lo kenapa di tempat gelap seperti ini, ayo kita pulang Ping?" ajak Ocy sambil memegang lengan Aping yang terasa dingin.
Aping menggeleng pelan.
"Gue gak bisa balik lagi Cy, gue nyaman di sini," ucap Aping.
"Nggak boleh Ping! lo gak boleh ninggalin gue sendirian," Ocy mulai menangis namun air matanya tak mampu lagi keluar.
"Maafin gue Cy, gue harus pergi," Aping mulai berjalan menjauh melepaskan pegangan tangan Ocy pada lengannya.
"Tidak! jangan! jangan pergi!" teriak Ocy ingin mengejar Aping, namun kedua kaki dan tubuhnya terasa membeku di tempat.
"Aping!" teriak Ocy dalam keheningan saat Aping mulai menjauh dari matanya, tubuh Ocy melemas,jatuh lunglai tak berdaya tangannya ingin menggapai Aping namun tak urung semakin Aping menjauh.
"Tunggu gue Ping, gue mau ikut lo!" teriak Ocy namun suaranya tak bisa dengan keras keluar dari mulutnya, Aping semakin menjauh dan menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Ocy sendirian menatap sekitar, tak ada apapun dan siapapun menemani, hanya ada gelap menyelimuti dirinya.
"Kenapa? kenapa lo ninggalin gue Ping, kenapa lo gak bawa gue sekalian sama lo?kenapa?" ucap Ocy lirih.