
Aping dan Nisa berjalan ke arah sebuah cafe menunggu seseorang yang akan mereka jumpai. Kemudian memesan beberapa makanan dan minuman selagi menunggu.
"Hai sayang maaf ya lama," ucap seorang cowok sambil merangkul pundak Nisa dari belakang.
"Gak papa sayang duduk sini." Nisa mempersilahkan Mikko untuk duduk.
Mikko adalah teman sekelasnya saat Nisa SMP.
"Loh ini kan Aping?" Mikko menunjuk Aping di depannya. Aping mengangguk.
"Siapa sih kok kenal gue?" Aping bertanya pada diri sendiri.
Melihat wajah kebingungan Aping, Mikko akhirnya berbicara kembali.
"Gue Mikko kakak kelas lo dulu cowoknya Lisa."
Aping menepuk jidatnya.
"Ya ampun bang sorry gue pangling ama lo." Aping akhirnya bersalaman dengan Mikko.
"Makin ganteng ya gue?" ucap Mikko penuh kepercayaan diri.
Aping hanya tersenyum.
"Masih kayak dulu lo bang," ucap Aping dan Mikko menganggukinya.
__ADS_1
"Iya dong Ping oya jadi orang yang lo maksud kemarin malem si Aping Yang?" Mikko menatap Nisa.
"Iya yang."
"Ada apa sih?" tanya Aping penasaran.
"Gini Ping gue besok ada kerjaan di luar kota, pulangnya malem, nah kebetulan besok juga gue harus ambil baju pertunangan gue ke butik dan ngambil beberapa keperluan buat tunangan gue sama Nisa."
"Jadi?" Aping mendengarkan dengan seksama.
"Jadi gue mau nyewa lo jadi bodyguard gue buat sehari besok Ping," kali ini Nisa yang bicara.
"Lo bisa kan jagain calon tunangan gue ini?" Mikko tersenyum menatap Aping.
"Boleh bang tapi gue minta upah nih," ucap Aping sambil nyengir.
"Lo ini gak ada bedanya sama yang dulu Ping, lo mau minta berapa sebutin aja?" ucap Mikko sambil tertawa.
"Gue mau liburan gratis buat dua orang bang,"
ucap Aping tanpa merasa cangggung.
"Emm boleh sebutin aja di mana mau liburannya?" Mikko menyetujui permintaan Aping. Baginya permintaan Aping hanyalah hal kecil di banding keselamatan Nisa.
"Serius bang?" ucap Aping tak percaya.
__ADS_1
"Serius lah kapan sih gue bohong sama lo Ping."
"Oke deal!" mereka saling bersalaman tanda kesepakatan di terima.
****
Aping menghela napas dalam, pertemuannya dengan Mikko dan Nisa membawa kembali memori menyakitkan di masa lalu.
Masa lalu bersama Kiran cewek pertama yang berhasil mengoyak hatinya. Aping benar - benar menutup pintu hatinya.Membiarkannya membeku untuk waktu yang tidak Aping ketahui.
Aping tak pernah percaya perkataan Mikko dan Nisa tentang Kiran. Hatinya dulu tersihir oleh kecantikan wajah Kiran. Tanpa mengetahui isi hati pemiliknya. Aping mengacuhkan nasihat dua orang yang sudah di anggapnya kakak itu. Hingga akhirnya hatinya benar - benar remuk di buat oleh Kiran. Penyesalan datang namun tak pernah berarti. Semua telah terjadi dan Aping harus melewatinya.
"Kenapa gue sulit buat lupain semua ini, gue gak mau selamanya jadi jomblo, tapi gue belum siap."
Aping memegangi dadanya. Ada rasa trauma bila hatinya akan terluka lagi.
Di sisi lain Ocy menatap malam yang penuh dengan mendung.Mungkin bumi pun merasakan kesedihannya.
"Apa gue jatuh cinta sama Aping kenapa rasanya mencintai itu sakit begini?"
Ocy teringat bayangan Aping memeluknya saat mereka di hutan. Ada rasa rindu yang saat ini dia rasakan. Namun sejenak sirna karena bayangan Nisa yang menggenggam erat tangan Aping tadi,membuat senyum di bibir Ocy memudar seketika.
"Apa gue kalah sebelum perang?" Ocy bertanya dalam hati. Ada sejuta rasa yang tak bisa Ocy jelaskan. Dia ingin memiliki, namun dia takut jika perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Karena dari awal mereka tak pernah saling tahu perasaannya.
"Ngapain sih gue mikirin tuh cowok kerempeng gue bisa cari yang lebih dari dia." Ocy memukul kepalanya, menyadarkan otaknya untuk tidak memikirkan Aping terus menerus. Hingga malam semakin larut Ocy akhirnya terlelap di ranjangnya.
__ADS_1