
Di kegelapan malam di sebuah jalanan kota, seorang gadis berusia lima belas tahun tengah berlari sekuat tenaga, lima orang pria berbadan kekar sedang mengejarnya, entah apa yang mereka mau dari gadis itu.
"Kenapa jalanan ini sepi sekali, apakah aku akan mati di sini?" batin gadis itu saat tak bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya saat ini.
Kemalangan apa yang menimpa gadis itu hingga bisa terjebak dalam pemburuan lima pria bengis.
"Tolong!" teriak gadis itu saat tak lagi kuasa menahan lelahnya berlari, dia terjatuh ke jalanan aspal, kedua lututnya terluka.
Kelima pria itu tertawa bahagia melihat buruannya tak lagi berdaya, lima pasang mata yang siap mengintimidasinya, sang gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, apakah dia benar-benar akan menghembuskan napas terakhirnya saat ini.
Sekeras apapun dia berteriak tak seorangpun mendengarnya, dia kini hanya berpasrah kepada Tuhan.
Di sisi lain Aping sedang berjalan terburu-buru melewati jalanan sepi, dia ingin menuju ke rumah temannya karena sebuah keperluan mendesak.
Telinganya tiba-tiba mendengar suara minta tolong di ujung jalan, dengan cepat dia berlari ke arah sumber suara, terlihat seorang gadis sedang ketakutan karena lima pria ingin menyentuhnya.
Aping berjalan semakin mendekat, tangannya telah siap memasang kuda-kuda, sudah sekian lama dia tak bermain-main dengan kemampuannya.
"Dasar pria pengecut, beraninya menindas perempuan!" teriak Aping dengan lantang.
Kelima pria berbadan kekar itu menoleh ke sumber suara, tatapan mereka menjadi beringas setelah mendengar perkataan Aping.
"Heh siapa lo? mau jadi pahlawan hah!" bentak salah satu pria itu.
"Gak usah banyak bacot kalo berani lawan gue!" teriak Aping menantang, sedangkan si gadis itu masih terpaku di tempatnya, kedua kakinya sangat lelah dan nyeri sekali.
"Brengsek dasar bocah ingusan, maju semua habisi dia!" teriak pria yang terlihat seperti pimpinan mereka.
Kelima pria itu secara serentak menyerang Aping seorang diri, namun serangan mereka bisa dengan mudah di tangkis oleh Aping, mereka tidak tahu siapa orang yang mereka hadapi saat itu, di usianya yang menginjak empat belas tahun tepatnya satu tahun yang lalu Aping telah menyabet sabuk hitam taekwondonya.
Hanya hitungan menit kelima pria itu satu persatu terkapar di aspal jalan, dengan luka memar di wajah dan sekujur tubuhnya, serta beberapa tulang yang telah dipatahkan oleh Aping, sudah dia pastikan beberapa minggu atau bahkan sampai sebulan luka-luka itu baru benar-benar sembuh seperti sedia kala.
Aping menatap ke arah gadis yang dia tolong itu, terlihat raut wajah ketakutan yang begitu dalam, dia berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aping sedikit berjongkok menghadap si gadis itu, belum ada jawaban gadis itu hanya menunduk dengan tubuh gemetar.
"Tenanglah kamu sudah aman sekarang," ucap Aping, gadis itu mendongakkan wajahnya, Aping tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Ayo ku antar kamu pulang!" ajaknya.
Dengan ragu gadis itu menatap Aping, sedangkan yang ditatap mengangguk memastikan bahwa dia orang baik.
"Di mana rumahmu?" tanya Aping pada gadis itu.
"Di jalan xxx no 21 kak?" jawab si gadis lirih kemudian menerima uluran tangan dari Aping.
Dengan sedikit terhuyung dia berdiri, Aping membantu memapah lengan gadis itu berjalan ke ujung jalan lain yang lebih ramai kendaraan, meninggalkan kelima pria yang terkapar tak berdaya di tempatnya.
Tak lama kemudian sebuah taksi melintas di jalan dekat kedua anak itu berjalan, Aping segera memanggilnya dan mereka menaiki taksi itu.
"Ke jalan xxx no 21 ya pak!" pinta Aping.
"Baik den," jawab si bapak sopir taksi yang terlihat seumuran dengan bapaknya Aping.
"Ini kah rumahmu?" tanya Aping, si gadis itu mengangguk.
Setelah Aping membayar ongkos taksinya mereka kemudian turun dari taksi dan menuju ke gerbang rumah gadis itu.
"Sudah sampai, sepertinya kamu sudah baik-baik saja dan itu ada seorang pelayan rumahmu," ucap Aping.
"Iya terima kasih banyak kak."
Aping melepaskan tangan gadis itu dan berpamitan karena dia terburu-buru harus bertemu temannya.
"Oke, saya harus pergi, sampai jumpa!" ucap Aping sambil berjalan meninggalkan gerbang rumah megah itu.
"Kak siapa namamu?" teriak si gadis.
__ADS_1
"Aping! kamu siapa?" balas Aping dari kejauhan.
"Aku Dian kak!" si gadis itu tersenyum memperhatikan punggung penyelamatnya yang semakin menjauh.
"Semoga kita bisa bertemu kembali suatu saat kak Aping," batin Dian penuh dengan harapan, sepertinya dia jatuh hati pada si penyelamatnya itu.
Tak lama setelah kejadian hari itu keluarga Dian harus meninggalkan kota ini karena sebuah bisnis keluarga.
Dian yang berharap bisa kembali bertemu dengan Aping hanya bisa menggigit jarinya karena tak pernah ada kesempatan untuk bertemu kembali.
Dia terpaksa harus mengikuti kedua orang tuanya ke luar negeri, hanya tangis di malam terakhir yang bisa dia lakukan, berharap bisa bertemu dengan Aping hanya menjadi angannya.
"Aku akan kembali dan mencarimu kak Aping," Dian berdoa dalam hati.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu kamar Diandra membuyarkan lamunannya tentang kejadian tujuh tahun silam yang terjadi padanya, ya gadis yang bernama Dian itu adalah dirinya, Diandra Alfiza Sutomo pewaris utama perusahaan AOC yang sekarang di pimpinnya.
Selama tujuh tahun dia telah mencari jejak Aping ,namun baru kali ini dia mengetahui bahwa dia adalah pebisnis muda yang menjadi rekan bisnisnya, seperti sebuah takdir mempertemukan mereka kembali.
Diandra berjalan ke arah pintu kamar membuka siapa yang mengetuk pintunya barusan.
"Mama," panggil Diandra.
"Sayang apa kamu sudah tidur tadi, kenapa lama sekali membuka pintu?" tanya Farah pada putrinya.
"Mama ngapain sih malem-malem ketuk pintu Diandra?" tanya gadis itu dengan expresi wajah mengantuk, sebenarnya dia hanya berpura-pura mengantuk karena dia mengetahui apa tujuan sang mama ke kamarnya.
"Sayang kok gitu sih kamu sama mama? mama kan cuma mau bilang besok kamu harus bertemu seseorang di cafe A," ucap Farah.
"Ma Diandra capek deh mama selalu jodoh-jodohkan Dian kayak gini, udah berapa puluh pria lagi ma?" tanya Diandra.
"Mama takut kamu tak mau menikah sayang, mama dan papa sudah semakin tua, mama gak mau di usia mama yang semakin tua tidak bisa melihat anak mama menikah terlebih dahulu," ucap Farah dengan sedikit terisak.
__ADS_1
Diandra tak tega melihat mamanya berkata seperti itu, namun hatinya berontak ketika mamanya harus mencarikan pria yang mau menikahinya, sepertinya beliau berfikir Diandra tak mampu mendapatkan laki-laki pilihannya sendiri.
Sedangkan di hati Diandra hanya ada satu nama Aping, meski hubungan mereka belum begitu dekat tapi Diandra terlanjur jatuh cinta kepada pria itu.