Aping

Aping
S 2 : Tujuan Zean


__ADS_3

Aping menatap serius ke arah daftar nama investor yang akan di black list karena mempermainkannya terlebih dahulu, Aping tak ingin di anggap remeh oleh orang-orang yang sengaja menarik ulur bisnisnya, tanpa investor penghianat itu Aping masih bisa berdiri dengan kedua kakinya, ya siapapun yang berani macam-macam dengannya tak akan dengan mudah lepas begitu saja.


Sekertaris Obi berdiri di samping kursi tempat Aping duduk, dia menunggu perintah selanjutnya dari tuannya, mata Aping sedikit melotot melihat salah satu nama yang tertera di daftar black list yabg di beri oleh sekertaris Obi.


" Zean Rahardian? siapa dia!" tanya Aping pada sekertaris Obi, sekertaris itu sedikit mengkerutkan keningnya mendengar pertanyaan Aping.


"Dia adalah salah satu anak dari anak cabang perusahaan kita di Perancis tuan, dia juga salah satu investor di perusahaan kita, namun entah kenapa sejak dia pertama keluar dari daftar investor lalu beberapa investor mengikuti jejaknya," jelas sekertaris Obi pada Aping.


Aping menganggukkan kepalanya tanda dia memahami sesuatu yang sepertinya telah di rencanakan dengan baik oleh seseorang yang bernama Zean itu.


"Selidiki dimana keberadaan orang itu dan usahakan beberapa perusahaannya kita ambil alih," ucap Aping ingin segera menyudahi masalah ini, sekertaris Obi mengerti dengan perintah tuannya itu, meski beberapa investor kecil berusaha meninggalkan Aping, namun semua itu tak bisa mempengaruhi kedudukan Aping di ranah bisnis, dia masih menjadi sosok menakutkan bagi orang-orang yang berusaha menyingkirkannya.


Sekertaris Obi segera pergi meninggalkan ruang kerja Aping tersebut untuk mencari tahu keberadaan Zean sekarang.


Di tempat Aping berada dia tersenyum penuh arti.


"Kamu pikir semudah itu menghancurkanku, aku sudah memegang kartu matimu, dan jangan harap mendapatkan wanitaku," ucap Aping dalam hati menyadari apa tujuan Zean menarik investornya pergi menjauh darinya.


Tiba-tiba seseorang meneleponnya, tertera nama Ocy di layarnya.


"Iya sayang kenapa?" tanya Aping saat telepon mereka terhubung.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menjemput papa sayang?" tanya Ocy di seberang telepon mereka.


"Belum sayang, bentar lagi ya," balas Aping.


"Sekarang sayang papa udah mau sampai di bandara!" perintah Ocy kembali.


"Iya-iya, aku jemput nih sekarang," Aping tak bisa lagi menolaknya, setelah mendengar itu telepon ditutup sepihak oleh Ocy, Aping menghela napas dalam, semenakutkannya dia bagi kalangan pebisnis, ternyata diapun harus kalah dari seorang wanita bernama Ocy.


Aping segera melajukan mobilnya ke bandara, atas permintaan istrinya dia harus menjemput sendiri pak Sanjaya, sebagai mantu idaman Aping dengan senang hati melakukannya, meski harus membagi waktunya yang super padat.


Hanya cukup satu jam Aping telah sampai di bandara, sambil mengamati orang yang berlalu lalang kesana kemari barangkali salah satunya papa mertuanya tanpa sengaja Aping melihat seseorang yang di kenalnya.


Sama seperti Aping yang tak sengaja melihat pria itu, dia juga melihat ke arah Aping sambil tersenyum dan menghampirinya.


"Iya, ingatanmu bagus juga rupanya?" ucap Aping sambil menyilangkan kedua lengannya ke depan dada.


Zean tersenyum kecut dengan ucapan dingin Aping barusan, sepertinya ada guratan tak suka terlihat dari kedua mata pria itu, Aping masih menatap dingin Zean, dia enggan untuk mengobrol dengan pria itu lagi, suasana menjadi sangat canggung diantara keduanya, hingga Zean menanyakan hal apa yang membuat Aping berada di bandara saat ini.


"Apa ada seseorang yang anda jemput tuan Aping?" tanya Zean berbasa-basi untuk mencairkan kecanggungan.


"Ya aku menjemput papa mertuaku," ucapnya singkat tanpa berniat melanjutkan percakapan itu.

__ADS_1


"Em kalau begitu saya duluan ya tuan," ucap Zean sambil menarik kopernya menuju ke mobil yang menjemputnya.


"Silahkan," ucap Aping datar.


Beberapa menit kemudian Aping dikagetkan dengan sebuah tepukan di bahunya, dia menoleh siapa yang melakukannya.


"Papa," ucap Aping tak kala melihat pak Jaya yang menepuk bahunya tadi.


"Iya ini papa, kamu dipanggil malah ngelamun aja," ucap pak Jaya, Aping hanya nyengir mendengarnya.


"Maaf pa," ucap Aping sambil memeluk papa mertuanya, mereka saling melepas rindu karena lumayan lama pak Jaya meninggalkannya, kini beliau memutuskan untuk tetap tinggal dengan Ocy dan Aping karena ingin melihat tumbuh kembang cucunya nanti.


Mereka kemudian menuju ke rumah Aping dan Ocy, dimana anak semata wayang pak Jaya sudah menunggunya dengan tidak sabar.


****


Di sebuah apartemen tempat Zean kini tinggal, dia membaringkan tubuhnya karena kelelahan dengan perjalanan yang begitu panjang dari Perancis ke negara ini.


Sambil menatap langit-langit ruangan itu dia mengingat kembali pertemuannya dengan Aping barusan, mengingat tatapan dingin pria itu yang semakin membuatnya tak suka.


"Aku akan perlahan menghancurkan bisnismu dan juga mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Ocy kamu salah memilih Aping menjadi suamimu, tunggu saja aku akan menjemputmu kembali bersama ke Perancis," gumam Zean dalam hati.

__ADS_1


Dia tahu bahwa mencari masalah dengan Aping akan berdampak buruk untuknya di kemudian hari, namun dia tidak akan berhenti mempengaruhi beberapa investor yang berada di dalam perusahaan Aping untuk satu persatu membangkang pada pria itu, hingga akhirnya dia kehilangan semuanya.


__ADS_2