
Pemandangan pasar di depan mereka sangat kontras dengan apa yang tadi mereka berdua alami. Suasana di jaman modern serasa kental di sana. Aping berjalan ke arah seorang pedagang buah di salah satu stand di pasar itu.
"Permisi pak," sapa Aping pada bapak berkulit coklat dan bermata sipit itu.
"Iya dek ada apa?" jawabnya ramah.
"Saya mau tanya pak ini daerah mana ya?" Aping mulai bertanya di mana mereka sekarang.
"Loh emangnya kalian bukan orang sini ya?" bapak itu balik bertanya. Aping dan Ocy langsung menggelengkan kepalanya.
"Oh jadi kalian pendatang gitu?" bapak itu menerka kembali.
"Bukan pak lebih tepatnya kami sedang tersesat," Aping berbicara apa adanya. Sedangkan Ocy hanya diam dari tadi.
"Ini di kota xxxx Jawa Timur dek" ucap bapak tadi yang sukses membuat Aping dan Ocy terbelalak tak percaya.
"Jadi benar ini di Jawa Timur pak?" Ocy memastikan sekali lagi.
"Benar dek kalian dari mana?"
"Kami dari Jakarta pak."
"Wah jauh juga ya."
__ADS_1
"Kalo ke terminal sebelah mana ya pak?" Aping kembali bertanya.
"Terminal di sini deket dek, adik berdua bisa jalan sekitar 100 meter dari pasar ini menuju arah situ," sambil menunjuk sebuah jalan setapak yang katanya menembus jalan besar. Yang terhubung langsung ke terminal bus.
"Terimakasih pak untuk bantuannya."
"Iya sama - sama hati - hati bawa pacarnya dek sini banyak preman jahat."
Aping mengangguk.Ocy ingin menyanggah bahwa dia bukan pacarnya. Tapi Aping dengan cepat menarik tangannya.
"Lo beneran mau ke terminal?" ucap Ocy saat mereka berjalan di tengah pasar itu.
"Iya lah lo gak mau pulang?"
"Ya mau tapi masalahnya emang kita ada uang buat bayar bus nya?" Ocy teringat semua barangnya di tenda camping, tak sedikitpun membawa uang.
Kruyuuuk kruyuuuk, tiba - tiba suara perut Ocy membuat Aping tertawa terbahak - bahak.
"Lo lapar?" Aping masih tertawa. Ocy malu banget di depan Aping. Kenapa harus bersuara sih perutnya. Pikir Ocy heran.
"Bikin malu aja."
Ocy mengangguk pasrah. Aping segera membawanya ke sebuah warung makan di pasar itu. Ocy menurut saja. Udah terlanjur malu juga.
__ADS_1
Mereka kemudian makan siang di sana.
"Ping lo gak heran ya dari tadi?" tanya Ocy di sela - sela makan mereka.
"Heran kenapa Cy?"
"Tadi kita di rumah nenek itu kan udah sore kenapa saat sampai di sini malah masih pagi, rasanya kita kayak habis bangun tidur lama deh Ping ,tiba - tiba perut gue jadi lapar lagi padahal lo tau kan kita tadi baru makan di rumah si nenek itu." Ocy menjelaskan apa yang dia rasakan.
"Iya juga ya gue baru ngeh deh," ucap Aping datar tanpa rasa terkejut sama sekali.
"Jadi bingung gue," Ocy menatap Aping penuh tanda tanya.
"Apalagi gue udah ah makan dulu lo abis ini kita nyari uang buat bayar bus."
Ocy mengangguk entah rencana apa yang di pikirkan Aping.Yang penting mereka bersama.
"Eh Ping tadi lo kan di kasih kotak sama si nenek coba buka deh isinya apaan?" pinta Ocy teringat kotak pemberian si nenek.
Aping kemudian mengambil kotak itu di ranselnya dan membukanya.Alangkah terkejutnya mereka melihat isi di kotak itu. Satu bongkah emas entah berapa gram beratnya.
"Ping ini asli gak ya?"
"Gue gak tahu Cy," sambil menatap emas itu.
__ADS_1
"Ayo kita ke toko emas," Aping berdiri lalu membayar makanan mereka.
Kemudian mereka mencari toko emas di sana.