
Malam telah tiba dengan suasana kota yang tak pernah lekang oleh hiruk pikuk keramaian.
Aping melajukan motornya pelan, menikmati hembusan angin malam menerpa tubuhnya. Ocy terdiam di belakang Aping. Membiarkan kedua lengannya menyatu memeluk tubuh Aping.
"Lo udah ngantuk Cy?" Aping mencoba membuka percakapan.
"Belum Ping," ucap Ocy.
"Ikut gue bentar yok," Aping membelokkan motornya menuju sebuah tempat.
"Kemana?" Ocy tak mendapat jawabannya.
Kini keduanya telah sampai di
tempat yang lumayan tinggi. Dari sana Aping dan Ocy bisa menyaksikan lampu-lampu serta kehidupan kota dengan nuansa yang berbeda.
"Wow keren banget Ping!" Ocy sejenak takjub dengan pemandangan yang di lihatnya. Lampu-lampu yang berwarna-warni. Bintang di langit yang berkelap-kelip,serta sinar rembulan yang terang menyinari malam itu.
Aping mengangguk dan menatap wajah Ocy yang teduh.Mereka menikmati suasana malam itu dengan ketenangan hati masing- masing.
"Ocy," panggil Aping.
Ocy menoleh ke arah Aping.
"Apa dia mau nembak gue di tempat seromantis ini?" batin Ocy senang.
"Kenapa Ping?"
"Gue, gue -" Aping terlihat ragu-ragu mengucapkannya.
"Lo kenapa?" tanya Ocy heran dan gugup.
__ADS_1
"Gue lapar cari makan yok?" ucap Aping sambil beranjak berdiri.
Ocy menghela napas dalam, cowok di depannya ini emang manusia langka.
"Gak tahu apa gue udah deg deg an nunggu lo bicara," batin Ocy kecewa.
"Ayo!" Ocy ikut beranjak melangkah menuju motor Aping menembus kembali jalanan kota.
"Gue lagi pengen makan sate lo mau gak?" tanya Aping.
"Boleh deh Ping."
Mereka kemudian berhenti di warung sate ayam dan memesannya.
Aping duduk menghadap pintu warung. Dari tadi dia menatap para pengunjung di tempat itu. Ada salah satu pria yang mengalihkan perhatian Aping. Dilihatnya punggung tangan pria itu, dia memiliki tato yang selama ini dia cari. Tiba-tiba Aping beranjak membuat Ocy bingung.
"Lo mau kemana?"tanya Ocy.
Aping kemudian berbisik di telinga Ocy.
Kemudian Aping berlalu mendekat ke pria tadi. Tanpa basa-basi Aping menarik kerah pria itu.
Bug
Satu pukulan mengenai rahangnya. Sontak para pengunjung berteriak histeris.
"Sini lo," sambil menarik kembali kerah pria itu Aping membawanya ke luar dari warung.
"Lo siapa?" tanya pria itu.
"Cih gue malaikat pencabut nyawa lo?" ucap Aping dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Ocy gemetar menatap Aping yang seperti kesetanan, dengan segera dia menelepon polisi.
"Lo ingat seorang ibu yang lo tusuk di depan sebuah toko satu bulan lalu?" Aping mencoba mengingatkan kejadian buruk itu.
Pria itu terkejut, ternyata ada yang mengetahui aksinya.
"Kenapa diam!" bentak Aping di sambung pukulan kembali di rahang pria itu. Kali ini sukses membuatnya mengalirkan darah segar.
"Darimana lo tahu?" tanya si pria itu sambil meringis kesakitan.
"Gak perlu lo tahu dari mana gue mengetahuinya, yang lo harus tahu ibu yang lo bunuh itu adalah ibu gue dan dengan senang hati kini gue akan ngebunuh lo?" ucap Aping santai sambil menyeringai.Tatapannya bengis seperti ingin menelan hidup-hidup lawannya.
Pria itu mencoba melawan Aping, namun lagi-lagi Aping bisa menangkisnya. Pukulan dan tendangan berhasil melayang ke arah pria itu. Membuatnya jatuh lunglai dengan darah di mana-mana.
"Ini buat ibuku yang udah lo bunuh."
Semua mata memandang iba namun tak berani mendekatinya. Aping benar-benar di luar kendali.
"Ping udah Ping lo sadar lo bisa bunuh dia." Ocy memeluk tubuh Aping yang siap memberi pukulan kesekian kalinya kepada tubuh tak berdaya itu.
"Aaarrggh!" Aping berteriak keras dengan bersimpuh di jalan, ada setetes air mata di kedua matanya.
Ocy masih memeluknya,menenangkan jiwa Aping yang telah terguncang. Ingatannya tentang kejadian itu membuatnya lepas kendali. Hingga sirine mobil polisi mendekat.
Mereka menatap Aping.
"Bawa dia dan hukum seberat-beratnya," ucap Aping saat menatap polisi yang menyelidiki kasus ibunya.
Polisi itu mengangguk dan segera membawa tubuh pria yang tak berdaya itu pergi.
"Satu keadilan untukmu ibu," batin Aping.
__ADS_1
Hingga benar-benar tenang Ocy membawa Aping pulang kerumah dengan motornya.
Sepanjang jalan hanya ada kediaman di antara keduanya.