
Aping mengacak frustasi rambutnya, dia sedang kalut menunggu para pengawalnya mencari keberadaan Zean, Aping tak tahu dimana Ocy berada saat ini, tapi dari telepon yang Aping dengar tadi sepertinya Ocy meneriakkan nama Zean.
"Dasar Zean brengsek!" teriaknya memenuhi ruangan tempat dia saat ini berdiri.
Pikirannya melayang ke tempat dimana kira-kira Zean menyekap anak dan istrinya, Aping tak akan memaafkan pria itu jika hal buruk terjadi pada dua orang yang paling Aping sayangi.
Satu jam berlalu sejak perintah Aping kepada pengawalnya mencari jejak Zean, mereka membawa hasil meski belum di pastikan kebenarannya, Aping segera menuju ke tempat yang mereka maksud, dia tidak sendiri beberapa pengawalnya mengikutinya demi menjaga keselamatan Aping.
Meskipun Aping tak mudah dikalahkan namun untuk berjaga-jaga jika musuh memiliki anak buah yang lebih banyak dari perkiraan mereka.
Sebuah basecamp tua saat ini Aping dan Obi serta beberapa pengawalnya berdiri, mereka menyusuri tempat itu dengan hati-hati, besar kemungkinan mereka sudah menyiapkan jebakan untuk Aping.
Perlahan para pengawal menyusuri basecamp itu dari beberapa arah, tak di temukan siapapun namun sekertaris Obi menemukan topi milik Zaka terjatuh di tempat itu, dia kemudian memberikan topi itu pada Aping.
"Tuan saya menemukan ini," ucap Obi sambil menyerahkan topinya.
Aping menerima topi itu dan memperhatikan dengan seksama, itu adalah topi pembeliannya yang dia berikan kepada Zaka.
"Ya Tuhan lindungilah anak dan istriku," batin Aping penuh kekhawatiran.
"Cepat cari di tempat lain!" perintah Aping, dia tidak akan menyerah begitu saja.
Informasi tentang Zean semua telah mereka cari, terutama dimana saja akhir-akhir ini pria itu tinggal, serta beberapa orang yang kemungkinan bekerja sama dengannya, Aping tidak akan mengampuninya kali ini, setelah menghancurkan perusahaan Zean ternyata tak cukup bagi pria itu menyerah mendapatkan Ocy, Aping akan menghancurkan sekalian hidupnya jika terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya.
Tiba-tiba handphone Aping berbunyi satu panggilan masuk dengan nomor tak di kenal, Aping segera mengangkatnya dan betapa terkejutnya Aping saat mendengar siapa yang berbicara di seberang telepon.
"Brengsek kamu Zean, dimana istri dan anakku!" teriak Aping penuh dengan amarah.
"Tenanglah Aping mereka baik-baik saja," ucap Zean di balik telepon.
"Dimana kalian?" Aping benar-benar di batas kesabaran kali ini.
__ADS_1
"Datanglah ke alamat yang ku kirim nanti, tapi ingat kamu harus datang sendiri, jika tidak-" suara Zean sedikit terputus.
"Jika tidak kamu hanya akan melihat jasad kedua orang yang kamu sayangi ini!" lanjut Zean.
"B*j*ng*n kamu!" teriak Aping namun percuma telepon sudah tertutup sebelumnya.
"Ada apa tuan?" tanya sekertaris Obi pada Aping yang terlihat menenangkan diri.
"Aku akan pergi ke suatu tempat sendiri, kalian jangan mengikuti, ini peringatan bagi kita, jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku, aku tak akan memaafkan diriku sendiri," ucap Aping, sekertaris Obi mengerti arti dari ucapan tersebut bahwa tak seorangpun boleh mengikuti tuannya.
Tapi perasaan mereka kali ini sangat tak tenang, meskipun mereka yakin tuannya tak akan mudah goyah dalam melawan mereka.
Aping meninggalkan sekertaris Obi dan para pengawalnya dengan mengemudikan mobil milik Aping, pikirannya fokus untuk menyelamatkan Ocy dan Zaka, Aping sudah menerima pesan dari Zean, entah apa yang di inginkan oleh pria itu sehingga benar-benar nekat dengan menculik Ocy dan Zaka.
Satu jam berlalu, Aping kini tengah berdiri di depan sebuah bangunan mewah di pinggir pantai, dia segera melangkah masuk ke dalam halaman rumah itu dengan langkah hati-hati.
Plok plok plok
"Besar juga nyalimu hah!" ucap Zean dengan nada penuh keangkuhan.
"Apa yang harus aku takutkan!" balas Aping tak perduli dengan Zean lagi.
"Hah bos besar yang terlalu banyak bicara!" Zean tak mau kalah.
"Sudah lah apa maumu? dimana anak dan istriku?" tanya Aping malas berbasa-basi dengan pria di depannya itu.
"Tenang saja mereka aman bersamaku."
"Bawa mereka keluar!" perintah Zean pada salah salah satu anak buahnya.
Ekor mata Aping mengikuti kemana utusan Zean pergi, tampak dari ruang yang sama keluar Ocy dan Zaka, kedua mata Ocy tampak sembab, dada Aping bergemuruh melihat kondisi Ocy saat ini. Dia berjalan mendekat ke arah keduanya, namun belum sampai tiga langkah dia berjalan beberapa anak buah Zean telah mengepungnya.
__ADS_1
Jangan mengira Aping lemah, baginya beberapa anak buah Zean hanya semut-semut kecil yang dengan mudah dia injak, perkelahian tak bisa terelakan, satu lawan delapan orang bertubuh kekar semua, dari gerakan mereka Aping sudah menduga seberapa kuat level bela diri mereka.
Kraak. Bruk!
Kraak. Bruk!
Kraak. Bruk!
Suara-suara tulang dan tubuh yang di jatuh ke lantai terdengar begitu cepat di ruang itu, Aping seperti harimau yang kelaparan, dia membabi buta mematahkan tangan dan kaki para anak buah Zean itu.
Zean yang melihat itu menelan ludahnya dalam-dalam sepertinya dia telah salah mengira siapa Aping sebenarnya, dia melebihi iblis bagi musuh-musuhnya, Zean tak mau menyerah dia kemudian menyandra Ocy tabg berada di sampingnya.
Dengan mengarahkan pistol ke kepala Ocy, wanita itu setengah mati ketakutan, air mata tak mau berhenti dari kedua matanya.
"Berhenti kamu!" teriak Zean, Aping berdiri kaku, menyaksikan istri dan anaknya di sandera oleh Zean.
"Dasar pria brengsek kamu, beraninya menggunakan istri dan anakku sebagai alat balas dendammu!" ucap Aping penuh amarah, kedua matanya sudah merah padam, tangannya mengepal mengeluarkan otot-ototnya yang mulai mengeras.
"Haha terserah apa yang kamu katakan, tapi sejujurnya aku ingin sekali mencium istrimu di depan matamu sendiri!" ucapan Zean benar-benar membuat Aping mendidih, dia tetap harus menahannya agar Zean tak menarik pelatuk pistolnya.
"Tapi wanita ini telah bodoh mencintaimu, bukan diriku," Zean berucap seolah-olah dia pria yang sangat buruk, Aping mengira bahwa pria itu benar-benar sudah gila.
"Aping aku takut!" ucap Ocy yang sudah di ambang kematian itu, sekali saja Aping melakukan kesalahan, mungkin kepala Ocy akan berlubang.
Zean menyeringai mendengarkan drama di depannya itu, dua sejoli yang begitu saling peduli dengan nyawa satu sama lainnya, cinta yang tak pernah Zean dapatkan.
"Aku akan membalas semua yang telah kamu ambil dariku, cinta, perusahaan juga keluargaku!" ucap Zean.
Aping mengerti kemana tujuan Zean berbicara seperti itu, mungkin dia berfikir Aping telah merebut Ocy, menghancurkan perusahaan dan membuat papa Zean meninggal karena serangan jantung setelah Aping menarik semua saham perusahaan mereka.
Sebetulnya bukan karena Aping sepenuhnya yang melakukan kesalahan, mereka sendiri yang menantang Aping, tapi Aping tak pernah mengira bahwa Zean akan berbuat nekat seperti sekarang, satu kata buat dia,benar-benar gila.
__ADS_1