Aping

Aping
Kembali


__ADS_3

Kini Aping dan Ocy berada di sebuah pesawat untuk menuju ke kota Jakarta. Dengan uang hasil penjualan emas dari si nenek. Mereka akhirnya bisa kembali ke kota mereka.


Dalam penerbangan Ocy tertidur di bahu Aping. Aping pun tak terlalu risih akan hal itu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.


Meski kenyataannya bukan begitu.


Saat pesawat sudah mendarat,Aping segera membangunkan Ocy.


"Cy bangun deh," Aping menggoyang bahunya.Ocy pun terbangun dari tidurnya. Mengerjap kan matanya menatap Aping.


" Empuk ya bahu gue?" ledek Aping.


"Eeh maaf gue gak sengaja tidur di bahu lo," Ocy sedikit kikuk.


"Biasa aja deh yuk turun mau balik nggak?"


"Iya Ping," Kemudian mereka turun dari pesawat dan segera memesan taksi yang berada di kawasan bandara itu. Mereka menuju ke rumah Ocy.


Ocy berlari memasuki rumah disambut dengan heran oleh asisten rumah tangga dan sopirnya.


"Non Ocy beneran ini non Ocy dan den Aping?" tanya asisten rumah tangga Ocy.


"Bener bi ini Ocy papa sama mama mana bi?" tanya Ocy.


"Ayo non mereka ada di ruang keluarga,"


Ocy segera menghampiri mereka di ikuti oleh Aping di belakangnya.


"Ma pa!" ucap Ocy.

__ADS_1


"Ocy," sambil memeluk anak semata wayangnya, mama Ocy mengelus rambut Ocy lembut.


"Ya Alloh sayang kamu kemana aja mama sama papa khawatir banget," ucap mama Ocy.


Papanya pun ikut berkaca - kaca.


"Ceritanya panjang ma dan ini ada kaitannya dengan Gres," ucap Ocy.


"Gres?" tanya pak Jaya.


"Iya pah dia mau nyakitin Ocy untung Aping datang nolongin Ocy.Tapi pas mau balik ke rombongan kita tersesat di hutan."


"Ya udah kalian istirahat dulu aja Aping kamu tinggal di sini dulu ya," pinta pak Sanjaya.


"Baik Om."


"Yuk Ping kita istirahat dulu."


"Iya," ucap Aping datar.


"Permisi om tante," Aping berpamitan menuju kamarnya.


"Iya Ping," jawab mama Ocy.


Keduanya menuju kamar masing - masing membersihkan diri mereka dan tidur karena kelelahan.


Siang berganti malam, Aping dan Ocy masih tidur dikamar masing - masing seolah beberapa hari mereka tidak tidur.


"Bi tolong bangunin Ocy dan Aping ya suruh mereka makan malam dulu," perintah nyonya Elin.

__ADS_1


"Baik nyonya,"


Kemudian dia menuju kamar Aping dan Ocy.


Beberapa menit kemudian keduanya nampak sudah turun menuju meja makan.


"Malem ma," sapa Ocy.


"Iya sayang sini makan dulu."


"Malam om tante," ucap Aping yang baru tiba.


"Iya Ping sini makan dulu," kini pak Jaya yang berbicara.


"Iya Om."


Mereka kemudian menikmati makan malamnya bersama. Aping merasa keluarga yang hangat di rumah Ocy. Dia jadi teringat oleh orang tuanya.


"Bapak ibuAping rindu kalian," batin Aping.


"Kenapa Ping ngelamun makannya?" tanya pak Jaya.


"Nggak ko pak cuma lagi ingat bapak ibu aja," Aping menghela napas dalam.


"Kamu boleh kok menganggap kita orang tuamu juga Ping," ucap tante Elin sambil menepuk bahu Aping.


"Bener Ping," pak Jaya setuju dengan ucapan istrinya. Dari dulu mereka sangat mendambakan anak laki - laki, namun karena sebuah insiden di mana istrinya harus mengalami pengangkatan rahim, alhasil mereka hanya mempunyai satu anak saja.


"Iya Om tante makasih banyak," Aping sangat bersyukur bertemu dengan keluarga baru itu setidaknya dia tidak kesepian.

__ADS_1


__ADS_2