Aping

Aping
Rahasia


__ADS_3

Usai menghadiri pesta Aping dan Ocy memutuskan untuk kembali ke rumah milik Ocy, karena sebelum pesta tadi usai papanya meminta Ocy kembali ke rumah, karena ada hal penting yang akan beliau bicarakan.


Dalam hati Ocy bertanya-tanya hal penting apa yang akan papanya katakan, apa ini menyangkut perusahaannya yang terdahulu atau ada hal lain yang masih di rahasiakan oleh pak Jaya yang belum dia ketahui.


"Kira-kira apa yang papa lo mau bicarakan ya Cy?" tanya Aping sambil mengemudikan mobilnya.


"Entahlah mungkin sesuatu yang belum papa beritahu ke gue Ping," jawab Ocy.


"Apa om Jaya mau nikahin kita ya?" canda Aping membuat Ocy dengan cepat menatap ke arahnya.


"Lo gak usah bercanda deh Ping?" ucap Ocy sedikit kesal.


"Iya kan lo harusnya seneng bisa bersanding dengan cowok kayak gue gini!" ucap Aping penuh percaya diri sambil tersenyum ke arah gadis itu.


Ocy hanya menggelengkan kepala mendengar godaan dari Aping kepadanya.


Dua jam kemudian mereka sampai di rumah pak Jaya, perjalanan yang lumayan jauh membuat keduanya sangat lelah, apa lagi hari sudah sangat malam.


"Apa papa udah tidur ya?" tanya Ocy pada Aping di sebelahnya.


"Sepertinya begitu," jawab Aping sekenanya.


"Eheemm kenapa kalian baru sampai?" tanya pak Jaya di ujung tangga, ternyata beliau belum tidur dan sengaja menunggu kedatangan Aping dan Ocy.


"Papa, maaf kita tadi menghadiri pesta pernikahan salah satu teman dekat Aping, dan jaraknya lumayan jauh dari rumah kita," jelas Ocy agar papanya tidak marah.


"Ya udah kalian tidur dulu saja sudah terlalu malam!" perintah pak Jaya.


"Iya om kita permisi ke kamar," ucap Aping.


"Ingat jangan tidur satu kamar dan jangan berani macam-macam!" dengan suara lantang pak Jaya memberi peringatan kepada mereka.


Ocy dan Aping menelan ludahnya susah payah, ucapan pak Jaya kali ini tampak serius, meskipun keduanya tak pernah macam-macam saat bersama, tapi dari ucapan pak Jaya Aping mengira sesuatu telah mengganggu pikiran beliau saat ini.

__ADS_1


"Iya pa," jawab Ocy yang kemudian berjalan menaiki anak tangga, di susul oleh Aping yang hanya terdiam sepanjang jalan menuju kamarnya.


Aping sudah terbiasa hidup dengan pak Jaya dan Ocy, pintu rumah mereka sudah terbuka lebar untuk Aping, kapanpun Aping datang mereka akan menerima dengan senang hati.


Keesokan harinya mereka bertiga sarapan bersama di meja makan yang sudah di siapkan oleh pelayan rumah pak Jaya, mereka sarapan dalam keheningan hanya suara sendok dan garpu yang mendominasi meja makan itu.


"Papa ingin berbicara kepada kalian berdua," ucap pak Jaya usai mereka menyelesaikan sarapannya.


"Tentang apa itu pa?" tanya Ocy penasaran.


Pak Jaya menghela napas dalam, sejenak seolah mengumpulkan tenaga untuk membicarakan hal yang penting itu.


"Ocy , Aping om harap setelah pembicaraan ini kalian tidak boleh membenciku," ucapnya memulai pembicaraan.


"Apa sangat serius itu om?" tanya Aping melihat tatapan mata om Jaya yang seperti menanggung beban berat.


"Sebenarnya saat Ocy berusia delapan tahun dia sudah di jodohkan oleh kakeknya dengan cucu dari teman dekat beliau, saat itu kami sebagai orang tua Ocy sangat menentang perjodohan itu, namun karena posisi perusahaan keluarga kakek Ocy mengalami ketidakstabilan, keluarga mereka memberi bantuan dengan syarat menjodohkan Ocy dengan cucu mereka, kami terpaksa mengiyakan syarat itu karena hanya perusahaan mereka yang saat itu mampu menolong kami," pak Jaya menghela napas dalam.


"Ini gak mungkin beneran kan pa? papa pasti lagi bercanda, Ocy gak mau pa di jodohkan kayak gini!" teriak Ocy, hatinya terpukul dengan penjelasan papanya, tanpa dia mau air matanya meleleh begitu saja.


"Lalu dimana mereka saat ini Om?" tanya Aping yang sedari tadi terdiam mencerna penjelasan pak Jaya.


"Om kehilangan kabar mereka Ping, setelah sepuluh tahun mereka pindah dan setelah mereka memberi bantuan kepada perusahaan kami, mereka seperti menghilang entah kemana, namun yang menjadi pikiran om saat ini, om takut mereka akan muncul dan mengambil Ocy dari om," ucapnya lirih menatap wajah putrinya.


"Pa Ocy gak mau di jodohkan kayak gini, papa harus bisa batalin semuanya!" pinta Ocy.


Pak Jaya terdiam cukup lama, begitu pula dengan Aping sedangkan Ocy hanya terisak di tempat dia duduk, mereka sedang memikirkan apa yang harusnya di lakukan agar perjodohan itu bisa di batalkan.


Bagi Aping ini adalah sebuah ujian cintanya pada Ocy, tapi tak sedikitpun dia gentar untuk maju mendapatkan Ocy,dia akan tetap mempertahankan cintanya, apapun yang akan terjadi meski malaikat maut memisahkan keduanya sekalipun Aping akan tetap bersama Ocy.


"Ada satu hal yang bisa kalian lakukan agar perjodohan itu batal," ucap pak Jaya tiba-tiba.


Aping dan Ocy menatap ke arah pak Jaya, seolah dari mata mereka memancarkan pertanyaan tentang bagaimana mereka bisa membatalkan perjodohan itu.

__ADS_1


"Maksud papa?" tanya Ocy bingung.


"Ya semua tergantung kata hati kalian, karena setahu papa kalian saling menyayangi, apakah itu benar?" tanya pak Jaya kepada keduanya.


Aping dan Ocy saling beradu pandang, kemudian keduanya saling mengangguk.


"Kalian tentu tahu maksudku bukan?" tanya pak Jaya.


Namun tiba-tiba percakapan itu terhenti karena hape Aping berbunyi, sekertaris Obi meneleponnya.


"Maaf Om, Aping angkat dulu telponnya," ucap Aping sambil beranjak dari duduknya untuk menjauh dari Ocy dan pak Jaya.


"Halo ada apa?" ucap Aping saat telepon di terima.


"Maaf tuan mengganggu, ada sedikit kendala di perusahaan yang membutuhkan tuan selaku pemilik untuk menyetujui kontrak kerjasama ini," ucap sekertaris Obi di seberang sana.


"Apa kamu tidak bisa mengurusnya dahulu?" tanya Aping kembali.


"Maaf tuan, tapi pemilik perusahaan grub CAO hanya mau bekerja sama selama tuan yang memimpin rapatnya," jelas sekertaris Obi.


"Ya udah saya akan ke perusahaan sekarang, tolong kamu urus persiapannya dahulu," ucap Aping sambil menutup teleponnya.


Aping tidak bisa mengelak karena ini memang kerjasama yang sangat besar dan penting baginya, dia kemudian kembali ke tempat pak Jaya dan Ocy.


"Om maaf sepertinya Aping harus pergi dahulu ada sedikit kendala di perusahaan yang harus Aping tangani," ucap Aping.


"Pergilah selesaikan dulu pekerjaanmu nak, Om akan menunggumu untuk membahas hal ini, kamu jangan terlalu terpikirkan tentang semua yang kamu dengar tadi, kita pasti bisa mencari jalan keluarnya."


"Iya Om, Aping percaya sama Om, kalau begitu Aping pamit ya?" Aping kemudian mendekati Ocy.


"Jangan nangis lagi, lo jelek kalau nangis gini," ucap Aping sambil mengusap air mata di pipi Ocy.


Gadis itu hanya bisa tersipu karena mendapat perlakuan seperti itu dari Aping.

__ADS_1


__ADS_2