
Usai menyelesaikan sarapannya Aping beranjak ke ruang kerja pak Jaya. Dalam langkahnya dia memikirkan apa yang akan di sampaikan oleh pak Jaya.
Tok tok tok.
Aping mengetuk pintu ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar mendiang tante Elin.
"Masuk Ping," ucap papanya Ocy dari dalam ruangan. Aping segera membuka pintu dan masuk ke dalam, ekor matanya memandang ruang kerja yang luasnya dua kali lipat kamar yang kini dia tempati. Banyak berkas-berkas yang bertumpuk di depan meja pak Jaya.
"Silahkan duduk Ping?" pak Jaya mempersilahkan Aping duduk di sofa ruang kerjanya. Kemudian dia melangkah mendekati sofa itu dan mendudukkan dirinya disana.
"Baik om," ucap Aping mengikuti langkah pak Jaya.
"Apa kamu tau kenapa saya panggil kamu kesini?" tanya pak Jaya serius,Aping menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu menyukai putriku?" pak Jaya menatap wajah Aping yang tiba-tiba menunduk setelah mendengar ucapannya.
"Mungkin kamu belum berani mengakuinya sekarang,tapi saya lihat di matamu bahwa kamu menyukai putriku." Pak Jaya melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Apa Om tidak mengizinkannya?" Aping akhirnya membuka suara. Dia merasa seperti sedang di sidang karena perasaannya.
Pak Jaya tersenyum dengan pertanyaan Aping itu,dia sebenarnya hanya mengetes seberapa besar perasaan Aping pada putrinya.
"Tanyalah pada hatimu, sepertinya kamu masih ragu dengan perasaanmu sendiri Ping. Om hanya minta kamu jangan melukai putri kesayangan Om saja," pak Jaya menghela napas dalam.
"Saya rasa saya belum pantas bersanding dengannya Om,dan lagi," ucapan Aping terputus,Aping menarik napas dalam.
"Apa itu Ping?" pak Jaya mengerti maksud perkataan Aping.
"Om mengerti, tapi bolehkah Om meminta satu hal kepadamu Ping?"
"Apa itu Om?" tanya Aping heran.
"Om mau kamu menjaga Ocy selamanya, om merasa sudah tua dan om takut dia sendirian saat om pergi meninggalkan dunia ini," kali ini tatapan mata pak Jaya sendu, ada harapan yang di tanamkan pada diri Aping.
"Om kenapa bicara seperti itu?"
__ADS_1
"Om sudah tua Ping, lagian om lihat Ocy sepertinya juga menyukaimu," ucap Pak Jaya.
Hingga dua jam berlalu mereka saling berbicara di ruang kerja pak Jaya. Ocy yang penasaran dengan pembicaraan papanya itu diam-diam dia menguping di daun pintu yang tertutup.
"Duh kok gak kedengaran sih," bisik Ocy pada dirinya sendiri. Telinganya kini sudah menempel di pintu,sayup-sayup mendengarkan pembicaraan mereka. Hanya ada sesekali gelak tawa mereka yang terdengar. Ocy semakin penasaran hingga saat Aping membuka handle pintu dan menariknya,tubuh Ocy terhuyung ke depan hingga ambruk di depan Aping. Sontak keduanya mendelik kaget.
"Lo ngapain sih di sini?" ucap Aping ketus sambil menahan tawanya melihat Ocy tersungkur ke lantai.
"Gue gak ngapa-ngapain kok," Ocy mencoba mengelak dan berdiri menghadap Aping.
"Lo nguping kan?" tuduh Aping pada Ocy.
"Gak lah,kurang kerjaan banget sih gue ngupingin lo!" Ocy segera berlalu dari hadapan Aping.
"Duh kenapa gue sial banget sih kalo deket tu bocah," Ocy menggerutu dengan kesialannya yang berkali-kali membuatnya malu di depan Aping.
Sedangkan Aping hanya tersenyum melihat tingkah Ocy yang sedang ketahuan telah menguping pembicaraannya.
__ADS_1