Aping

Aping
Di Butik


__ADS_3

Ocy melajukan mobilnya kencang, hatinya teriris melihat apa yang barusan terjadi, tak henti-hentinya air mata Ocy bercucuran.


"Dasar pria brengsek, lo mainin perasaan gue kayak gini!" teriak Ocy sambil memegang erat kemudi.


Sedangkan Aping telah tiba di rumah Ocy dengan cepat dia melangkah ke kamar Ocy, mencari wanita itu namun tak ada orang di sana, hingga dia bertemu dengan pak Jaya.


"Om, Ocy dimana ya?" tanya Aping dengan ekspresi datar agar pak Jaya tidak curiga dengan apa yang terjadi.


"Loh bukannya tadi dia pamit ke kantormu ya Ping, belum kembali kok ke rumah," ucap pak Jaya.


"Jadi ke kantor ya om, ya udah Aping pamit nyusul ke sana dulu om," ucap Aping pura-pura belum mengetahui Ocy kekantornya.


"Iya Ping hati-hati," ucap om Jaya tanpa menaruh curiga.


"Iya Om," Aping segera pergi meninggalkan rumah Ocy, pikirannya melayang kemana Ocy berada saat ini, sedari tadi dia menghubungi handphone milik Ocy namun tak pernah diangkat olehnya.


"Argh! Sial banget sih gue hari ini, ngapain coba Diandra peluk gue tadi!" teriak Aping di dalam mobil.


Diandra masih terduduk di ruangan Aping, matanya berkaca-kaca melihat betapa pedulinya Aping kepada gadis itu.


"Dia kah wanita itu Ping?" tanya Diandra dalam hati.


"Kenapa terasa perih di sini?" Diandra memegang dadanya, kemudian menghapus air matanya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan perusahaan milik Aping.


Sedangkan Ocy saat ini sedang di butik miliknya, duduk di sofa lantai atas tempatnya membuat design pakaian butik, disanalah dia bisa merasakan ketenangan tanpa seorangpun tahu.


Mata Ocy menatap sekilas layar handphone miliknya, tertera satu nama yang sedari tadi memanggilnya, Aping dialah yang menelepon Ocy, pria yang membuat Ocy jengkel berkali-kali namun juga bisa membuat dia merindukannya setengah mati.


"Penjelasan apa yang akan lo ucapkan pada gue Ping, sepertinya jalan kita sangat terjal dalam hubungan ini," gumam Ocy lirih sambil meringkuk di sofa.


Tiba-tiba Lisa datang dan mendekati Ocy, sahabat yang selalu tahu apa yang terjadi dengan Ocy.


"Pasti lagi marahan sama Aping!" batin Lisa.


"Lo kenapa Cy?" tanya Lisa pelan sambil duduk di dekat Ocy.

__ADS_1


"Lis," ucap Ocy sambil memeluk Lisa.


"Kenapa sih beb, lo jadi cengeng kayak gini sekarang?" tanya Lisa.


"Semuanya gara-gara Aping Lis, dia mainin perasaan gue, dia peluk cewek di kantornya Lis," jelas Ocy.


"Sepertinya lo salah paham deh Cy, gue tahu banget Aping cinta banget sama lo, coba kasih waktu dia buat jelasin ke lo," nasihat Lisa pada Ocy, gadis itu mendengarkannya.


"Iya Lis, mungkin nanti setelah gue tenangin diri gue dulu," ucap Ocy.


Aping masih menyusuri jalanan, memikirkan dimana Ocy saat ini, tiba-tiba pikirannya tertuju ke butik milik Ocy, dengan segera dia melajukan mobilnya ke sana.


Satu jam kemudian Aping telah sampai di depan butik milik Ocy, dia bergegas masuk ke dalam butik mencari sosok Ocy, namun hanya ada Lisa yang dia temui.


"Aping?" Lisa sedikit terkejut dengan kedatangan Aping yang tiba-tiba datang.


"Dimana Ocy Lis?" tanya Aping tanpa basa-basi.


Lisa mencoba tenang agar Aping tak mencurigainya bahwa Ocy berada disana, Ocy telah berpesan agar siapapun tidak mengganggunya yang berada di lantai dua butiknya itu.


"Cepat katakan!" bentak Aping pada Lisa.


"Lisa, lo tahu kan siapa gue!?" nada suara Aping meninggi.


"Dia di lantai dua Ping," dengan terpaksa Lisa memberitahu Aping dimana Ocy.


"Maafin gue Cy, gue takut lihat Aping marah kayak gitu," batin Lisa menyesal.


Aping segera menaiki anak tangga menuju ke lantai dua, pelan-pelan dia membuka pintu yang berada di lantai, kedua matanya sayu menatap ke arah wanita yang sedang meringkuk di sofa itu.


Ocy sedang tertidur di atas sofa itu, pelan-pelan Aping mendekati tubuhnya, duduk di sebelah Ocy sambil memandangi wajah wanitanya, terlihat kedua pipinya masih basah oleh air mata.


Dada Aping bergemuruh, rasa bersalah menyelimutinya saat ini, dia lah yang membuat Ocy meneteskan air mata itu, dia merasa gagal.


"Maafin gue Cy, semua yang lo lihat gak sama dengan apa yang terjadi, gue hanya sayang sama lo," ucap Aping.

__ADS_1


Waktu semakin berlalu, Aping yang lelah ikut meringkuk di atas sofa, memeluk tubuh Ocy dari belakang, posisi yang kurang nyaman jika untuk tidur, namun karena lelah Aping tak menghiraukannya.


Yang terpenting bisa merasakan harumnya tubuh Ocy, hanya itu yang bisa membuatnya tenang saat ini hingga perlahan matanya ikut terpejam.


Lisa tak berani melihat Ocy dan Aping di lantai dua, sepertinya terjadi sesuatu atau mereka tidur berdua, pikiran-pikiran Lisa mengarah pada hal-hal yang negatif tentang keduanya, namun dia tak berani mengganggu mereka.


Karena sudah malam Lisa menutup butik segera dan mengunci pintu dari luar, seingat Lisa Ocy mempunyai kunci duplikatnya, jadi seharusnya tak masalah jika harus menguncinya, kemudian dia segera pergi kembali ke rumahnya.


Saat senja mulai memudar di gantikan oleh gelapnya malam, hanya rembulan yang mampu menerangi langit di atas sana, Ocy merasakan sesuatu menindih perutnya, dia mencoba membuka matanya yang sedikit sembab karena menangis cukup lama.


Ocy menengok ke sampingnya, terlihat Aping tengah memeluknya, Ocy hanya bisa terdiam dari siang hingga sore dia belum makan sedikitpun, sekarang perutnya sangat lapar.


Pelan-pelan Ocy memindahkan lengan Aping namun tak di sangka Aping merasakan pergerakannya, kedua mata pria itu terbuka.


"Ocy," ucap Aping sambil terus mempererat pelukannya.


"Ping lepasin gue!" ucap Ocy masih kesal dengan kejadian tadi siang.


"Jangan marah lagi dong, dengerin dulu, dia itu Diandra, gue dan dia gak pernah ada perasaan apapun," jelas Aping sambil menatap mata Ocy.


"Terus ngapain sampai pelukan kalau gak ada apapun?" tanya Ocy ketus.


"Bilang aja lo cemburu," ucap Aping di telinga Ocy lebih seperti berbisik.


"Gue gak cemburu, gue cuma kesal aja gak lebih!" Ocy mencoba menyangkalnya.


"Benarkah?" tanya Aping yang kini berada di atas tubuh Ocy mengunci pergerakan tubuhnya.


"Lo mau ngapain Ping?" Ocy merasa gugup dengan posisi Aping itu.


"Gue mau lo percaya sama gue, hanya lo Ocy orang yang paling gue cintai," ucap Aping menyakinkan Ocy.


"Iya-iya tapi lo gak harus kayak gini," Ocy mencoba melepaskan diri.


"Jangan banyak gerak kalau lo gak mau punya gue yang di bawah bangun dan meminta haknya," ucap Aping sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Lo!" Ocy berteriak mendengar ucapan vulgar Aping tadi.


Aping tiba-tiba mencium bibir Ocy, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu, rasa yang semakin lama semakin membuncah membuatnya sulit menjauh dari tubuh Ocy.


__ADS_2