Aping

Aping
Gelap gulita


__ADS_3

Malam telah larut Aping baru terbangun dari tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya yang gelap gulita. Dia lupa menyalakan saklar lampu sore tadi.


Aping bangun dari ranjangnya dan berjalan ke arah saklar lampu. Menghidupkannya namun lampu masih tetap padam.


"Apa lagi ada pemadaman listrik ya?" tanya Aping dalam hati.


Dia berjalan ke luar kamar dengan bantuan cahaya dari rembulan yang masuk melalui celah-celah jendela kamar yang belum tertutup tirai. Saat membuka pintu kamarnya Aping melihat semua ruangan gelap termasuk kamar Ocy.


"Bibi!" panggil Aping. Yang di panggil tak ada jawaban.


"Mungkin bibi sudah tidur," batin Aping.


Kemudian dia berjalan menuruni anak tangga menuju ke arah dapur. Perutnya merasa sangat lapar. Aping berjalan mencari tempat penyimpanan lilin dan menyalakannya. Dia kemudian menuju ke arah meja makan. Mencari apakah ada sesuatu yang bisa dia makan malam ini.


Di kamar Ocy pun terbangun, dia terkejut dengan keadaan kamarnya yang gelap gulita. Jemari Ocy mencoba mencari hape miliknya dinakas. Namun sayang baterainya lowbat. Dengan meraba-raba tembok Ocy berjalan keluar kamar. Di ruang lainpun gelap gulita.


"Sepertinya malam ini ada pemadaman listrik, kok bibi gak nyalain lilin ya?" tanya Ocy dalam hati.


Ocy berjalan pelan menuruni tangga namun di tengah tangga Ocy tak sengaja terpeleset. Aping yang saat itu sedang berjalan menaiki tangga melihat siluet Ocy yang hendak terjatuh. Dengan cepat Aping menangkap tubuhnya. Namun karena keduanya tidak seimbang Ocy dan Aping terguling bersama hingga diujung tangga paling bawah.


"Aow," Aping merasakan sakit di punggungnya. Di tambah ada Ocy yang menindih tubuh Aping.


"Lo ngapain sih gelap-gelap gini keluar kamar?" Aping mulai protes.


"Gue mau nyari lilin Ping," ucap Ocy.


"Gak ada lilinnya gue udah nyari tadi,sisa setengah udah gue nyalain dan udah abis," ucap Aping.Posisi keduanya masih tergeletak saling menindih.


"Lo keenakan deh nindihin gue gini," Aping mengejek Ocy.


"Enak apanya punggung gue sakit nih," ucap Ocy.

__ADS_1


"Gue juga cepatan berdiri!"


"Iya iya." Ocy mencoba berdiri namun akhirnya terjatuh kembali karena kakinya terkilir. Dia tak sengaja jatuh di tubuh Aping kembali.


"Aduh lo sengaja ya!" teriak Aping yang menahan sakit di punggungnya.


"Sorry Ping kaki gue sakit banget." Ocy mendudukkan dirinya di samping Aping meraba lengan Aping dan membantunya untuk duduk.


"Lo bisa duduk kan?" tanya Ocy.


"Lo pikir gue selemah itu." Aping duduk di samping Ocy meraba kaki gadis itu yang terkilir.


"Yang mana kaki lo yang sakit?" tanya Aping.


"Yang kiri Ping."


Aping memijat kaki Ocy agar tak semakin parah lukanya.


Ocy menjerit kesakitan saat Aping menarik kakinya.


"Udah tahan aja besok gak bakalan bengkak kalo sekarang gue urut." Beberapa menit kemudian Aping telah selesai mengurut kaki Ocy.


"Coba sini gue bantu lo berdiri," Aping meraih tangan Ocy menaruhnya di pundak Aping.


"Masih sakit nggak?" tanya Aping.


"Lumayan baikan Ping."


Mereka kemudian menaiki tangga satu persatu untuk menuju ke kamar Ocy. Penuh perjuangan mereka sampai di anak tangga paling atas hingga ke kamarnya.


"Lo balik tidur gih!" Perintah Aping pada Ocy yang sudah berada di ranjangnya kembali.

__ADS_1


Jedeerrr.


Tiba-tiba suara guntur mengagetkan keduanya. Ocy yang sedari kecil takut dengan suara gunturpun berteriak dan menarik tangan Aping.


"Ping gue takut gelap dan guntur itu." Ocy tanpa sadar memeluk tubuh Aping.


Aping menghela napas panjang. Suasana itu benar-benar membuat sesuatu di bawah sana sesak. Dia pria normal yang akan bereaksi saat tubuhnya tersentuh wanita tulen seperti Ocy. Namun Aping harus menahan semua itu. Dia tidak mau merusak seorang gadis baik-baik. Begitu pula merusak dirinya sendiri.


"Ya udah sini gue temenin," Aping membawa Ocy dalam dekapannya tidur di atas ranjang Ocy. Tak ada lagi jarak di antara mereka selain hati mereka yang masih terdapat tembok pemisah.


Ocy merasa nyaman berada di dekapan Aping begitu sebaliknya. Mereka larut dalam dinginnya malam yang membalut tubuh mereka di tengah derasnya hujan di luar sana.


"Ping." Panggil Ocy pada pria di sampingnya.


"Kenapa Cy? tidur deh!" Aping mencoba meredam sesuatu yang terasa sesak. Ocy yang banyak bergerak di dekapannya membuatnya takut kehilangan kontrol diri.


"Apa lo pernah tidur berdua dengan cewek selain sama gue kayak gini?" tanya Ocy.


"Gak lah, gue gak sehina itu kali," ucap Aping.


"Gue gak lagi bilang lo hina Ping, tapi kok lo bisa nahan berada sedekat ini sama cewek kayak gue?" tanya Ocy memancing Aping.


"Apa lo mau lebih dari ini?" tanya Aping mengunci pertanyaan Ocy,membuat gadis itu gugup.


"Bukan itu maksud gue Ping," Ocy jadi salah tingkah,untung saja ruangan gelap jadi Aping tak akan bisa melihat rona wajah Ocy yang memerah.


"Terus?" Aping pura-pura tidak tahu maksud Ocy. Tanpa Ocy sadari Aping telah menarik tengkuknya dengan cepat.Menautkan bibir mereka, Ocy terkejut dengan perlakuan Aping padanya. Namun sekilas Ocy menikmati ciuman itu. Mereka saling menikmati bibir keduanya. Hingga Aping melepaskan tautan bibirnya.


"Udah tidurlah, gue gak mau ngerusak cewek baik-baik kayak lo." Aping meredam gairahnya yang mulai memuncak. Dia tahu ini salah dan dia mundur sebelum semuanya benar-benar salah besar. Ocy mengerti sikap Aping itu.


"Iya Ping gue tahu," Ocy mulai memaksa matanya untuk terpejam. Begitu pula Aping. Mereka saling menahan gejolak di antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2