Aping

Aping
Sekutu


__ADS_3

Ocy memeriksa setiap jengkal tubuh Aping memastikan apakah ada yang terluka di tubuh pria itu, Aping menikmati perhatian Ocy padanya, bibirnya tersenyum sambil menatap ke arah Ocy.


"Gue gak apa-apa Cy, sepertinya malah Obi yang sedikit terluka," ucap Aping menghentikan pergerakan Ocy yang sedang memeriksa tubuhnya, keduanya menatap ke arah sekertaris Obi yang sedang mengemudi.


Merasa menjadi pusat perhatian sekertaris Obi mencoba memberitahu keadaannya.


"Saya baik-baik saja tuan, tidak ada yang terluka," ucap Obi memberitahu mereka.


"Baguslah kalau kamu baik-baik saja, cepat kerahkan anak buah kita untuk mencari tahu siapa yang sengaja membiarkan truk itu berjalan sendiri!" perintah Aping saat mereka sudah berhenti di depan rumah milik Aping.


"Baik tuan saya akan segera memerintah mereka," ucap sekertaris Obi.


Aping hanya menatap Obi dengan tatapan percaya dan dia kemudian turun dari mobil diikuti oleh Ocy di belakangnya.


"Ping apa yang sedang lo rencanain?" tanya Ocy penasaran dengan perintah Aping tadi.


"Gue mau mereka mendapat bukti bahwa insiden tadi bukan tanpa alasan, pasti ada seseorang yang berbuat di belakangnya," jelas Aping pada Ocy.


"Apa ada hubungannya dengan orang yang mengikuti kita?" Ocy menduga semuanya saling terkait, bukan sebuah alasan lagi bahwa akhir-akhir ini dia merasa seseorang mengikutinya saat berada di dekat Aping, kemungkinan dia menginginkan Aping celaka.


"Sudahlah kita istirahat dulu aja Cy," ajak Aping, Ocy menurutinya.


Di jarak sekitar sepuluh meter seseorang sedang memperhatikan rumah Aping dari dalam mobil, sedangkan di satu tempat kebetulan ada yang mengawasi dia kembali.


"Sepertinya ada senjata yang bisa ku kendalikan saat ini, tanpa bersusah payah aku akan menggunakannya," batin Wilian tersenyum senang, dia menghampiri pria yang berada dalam mobil itu dan mengetuk kaca mobilnya.


Pria itu menatap heran meski begitu dia tetap membuka kaca mobilnya.


"Siapa?" tanya si pria itu.

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Wilian, sepertinya kita punya tujuan yang sama," ucap Wilian mencoba memperalat pria itu.


"Maksud kamu?" tanya si pria.


"Aku tahu kamu sedang mengincar Aping bukan?" tanya Wilian.


"Bagaimana kamu tahu?" ucapnya sinis.


"Aku tahu siapa kamu dan apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini, kamu tenang saja kita di pihak yang sama, ingin menghancurkan Aping bersama bukan?" jelas Wilian sambil tersenyum.


"Rencana apa yang ingin kamu buat?" tanya si pria di dalam mobil itu sambil mengamati setiap jengkal sosok Wilian, dia merasa asing dengannya tapi mungkin dia bisa memanfaatkan Wilian untuk menjadi sekutunya.


"Sebelumnya bisa kita bicara di tempat lain," pinta Wilian, pria itu menyetujuinya.


Mereka kemudian memilih sebuah cafe tak jauh dari rumah Aping, keduanya membicarakan tujuan masing-masing serta cara yang akan mereka lakukan untuk menghabisi Aping.


Di dalam cafe keduanya tengah menikmati minuman yang mereka pesan, sambil sesekali mengamati sekitar mereka.


"Huuftt!" pria itu menarik dan menghembuskan napas panjang seolah ada beban berat yang mengisi paru-parunya.


"Namaku Brio, aku adalah kakak kelas Aping saat di SMA dulu, aku ingin membalas dendam karena dia mengambil perusahaan papaku dan juga membuat adikku menjadi kehilangan kewarasannya," jelas Brio.


"Adikmu? apa hubungannya dengan Aping?" tanya Wilian bingung.


"Adikku bernama Febri, dia saudara satu-satunya yang ku punya, karena suatu kejadian cintanya telah di tolak mentah-mentah oleh Aping, sejak kejadian itu perlahan-lahan dia sering menangis dan tak bisa di kontrol kembali, dia sering mengamuk memanggil nama Aping, mungkin dia terlalu mencintai pria itu meski pada akhirnya dia tak pernah mencintai adikku, Febri akhirnya meninggal dengan cara mengiris nadi nadi tangannya, kematian Febri membuatku benar-benar benci dengan sosok Aping," jelasnya.


"Lalu?" tanya Wilian mulai tertarik dengan cerita Brio.


"Aku pernah ingin menghabisinya saat kami masih sekolah dulu, namun siapa sangka kekuatannya sangat hebat, dia mampu menggertakku hanya dengan sekali tendangan saja, dan setelah kejadian itu adikku tak lagi mengenalku dan papa hingga dia meninggal, rasa benci kami merambat ke orang terdekat Aping, kebetulan papanya Ocy ternyata pemegang saham tertinggi di perusahaan yang papaku pegang, kami sengaja menjebaknya agak memberikan semua perusahaan secara percuma namun beberapa bulan ini Aping berhasil menghancurkan kami kembali, itu membuatku semakin ingin membunuhnya!" ucap Brio geram sambil menggertakkan giginya.

__ADS_1


"Ternyata dia punya kemampuan beladiri yang cukup kuat ya?" tanya Wilian.


"Itu bukan hal besar untukku lagi, karena beberapa tahun ini aku sudah berlatih beladiri juga, dan aku yakin bisa mengalahkannya nanti," ucap Brio yakin.


"Bagaimana denganmu, kenapa kamu ingin menghabisinya?" tanya Brio ke Wilian.


"Aku adalah orang yang di jodoh oleh kakek Ocy saat kami masih kecil, tapi sepertinya perjodohan itu akan berakhir jika Aping masih berada disisi Ocy."


Brio menatap serius ke arah Wilian dan tersenyum penuh arti.


"Kalau begitu mari kita bekerja sama menghancurkan Aping!" ucap Brio bersemangat.


"Tentu saja, namun kita harus berhati-hati agar rencana kita bisa berhasil kali ini," ucap Wilian.


Wilian akan menggunakan Brio sebagai senjatanya untuk menghabisi Aping, tanpa dia mengeluarkan keringat pekerjaannya akan di selesaikan orang lain, meski Brio terlihat kuat namun otaknya tak begitu pintar, dia hanya orang yang penuh dengan emosi namun tak bisa mengendalikannya, itu menjadi satu keuntungan untuk Wilian kali ini.


"Tunggu kami datang menghancurkanmu Aping!" batin Wilian tertawa senang.


Di sisi lain Aping merasa dirinya sedang terancam, perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan itu kini tiba-tiba hadir.


"Perasaan ini seperti saat gue kehilangan ibu, apa akan ada hal buruk di sekitar gue, atau gue yang jadi incaran mereka saat ini, siapa sebenarnya mereka?" pertanyaan-pertanyaan itu keluar begitu saja di batin Aping, membuatnya tidak fokus dengan kehadiran Ocy yang berulang kali memanggilnya.


"Aping!" teriak Ocy sambil memukul pundak Aping, sontak dia menjadi terhenyak kaget dengan apa yang di lakukan Ocy.


"Apaan sih?" tanya Aping sambil mengusap telinganya, sepertinya berada dekat dengan Ocy berlama-lama bisa membuat gendang telinganya pecah.


"Mikirin apa sih, gue panggil-panggil sampai gak nyahut gitu?" tanya Ocy.


"Gue gak mikirin apa-apa kok Cy," ucap Aping berbohong, dia tidak ingin membuat wanita itu khawatir, sebisa mungkin dia tidak melibatkan Ocy dalam hal yang membahayakannya.

__ADS_1


"Apa lo yakin Ping?" tanya Ocy, Aping mengangguk sebagai tanda bahwa dia yakin akan jawabannya.


Kemudian mereka makan malam bersama di rumah Aping, keduanya saling terdiam memikirkan apa yang akan terjadi setelah hari ini, Aping ingin segera menemukan orang yang mencelakainya.


__ADS_2