
Sejak kejadian brutal kemarin Ocy tak lagi berbicara pada Aping.
"Mogok bicara gue ama lo." Ucap Ocy cekikikan dalam hati. Ocy sangat kesal pasalnya Aping segitu sombongnya dalam menghadapi kebrutalan musuh - musuhnya.
Dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah Ocy hanya diam. Aping tak begitu peduli. Kalo diam gitu lebih bagus pikirnya Aping. Gak kayak emak - emak yang banyak ocehannya. Aping tersenyum menanggapi ngambeknya Ocy. Dasar cewek aneh.
"Udah nyampek turun lo," dari belakang gak ada sahutan. Aping kemudian menengok melihat Ocy yang ternyata tertidur di punggungnya.
"Heleh malah ngorok ni anak," mencoba mengguncang - guncang punggungnya agar Ocy bangun. Ocy yang merasa tidurnya terganggu mengucek matanya. Tersadar ternyata dia tidur di punggung Aping.
"Udah ngilernya?" ucap Aping mengejek. Ocy segera turun dari motor dan berlalu pergi tanpa menengok Aping. Dengan bibir cemberut.
Aping menyeringai menatap punggung Ocy yang masuk ke dalam rumah. Satu tugas selesai.
Tiba - tiba hpnya berdering, seseorang menelepon Aping.
"Halo," ucapnya datar.
"......." penelepon.
"Oke." Aping menutup telpon itu dan berlalu ke sumber suara.
Aping melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Hingga beberapa menit kemudian dia telah sampai di gubuk kecilnya yang teramat kacau dari luar.
"Sial!" ucap Aping berapi - api.
__ADS_1
Kemudian berlari mencari ibunya. Memasuki rumahnya yang teramat kacau. Barang - barang berserakan di mana - mana. Bahkan vigura yang berisi foto Aping dan orang tuanya pecah dengan foto Aping tertancap pisau. Sepertinya seseorang mengincar Aping.
"Ibu!" panggil Aping saat melihat sosok ibunya yang terlihat trauma.
"Siapa yang melakukannya bu?" tanya Aping sembari memeluk ibunya.
"Ibu tidak tahu Ping," ibunya menyeka air mata yang beranak di pinggir matanya.
"Ibu takut Ping mereka mengincar mu sedari datang hanya menanyakan keberadaan mu," ucapnya penuh kekhawatiran.
Mata Aping memancarkan amarah. Siapa orang yang berani mengacak - acak rumahnya. Tangan Aping terkepal menahan marah.
"Apa sebaiknya kita pindah Ping ibu takut mereka datang kembali dan mencelakai mu."
"Tapi Ping ibu sangat takut."
"Percaya sama Aping bu."
Mereka saling berpelukan.
Tiba - tiba pintu di gedor sangat kuat dari luar.
"Keluar lo Ping!" teriak seseorang. Aping yang mendengarnya segera keluar untuk melihat siapa mereka.
"Nyari gue," dengan menahan emosi Aping keluar dari rumah.
__ADS_1
"Akhirnya lo keluar juga, lo masih ingat kan ama gue?" ucap Zero musuh Aping.
"Ingat banget lo yang selalu tersungkur dan lari terbirit - birit saat melawan gue kan?" ucap Aping sombong. Aping tanpa sedikitpun rasa takut menghadapi mereka, padahal kali ini mereka lebih banyak dari kemarin.
"Lo br*ngs*k!" sambil mengayunkan tangannya memerintah anak buahnya menyerang Aping.
Dengan sigap Aping menerima serbuan mereka.Perkelahian sengit pun terjadi. Namun tak imbang mereka main keroyokan. Aping sedikit kewalahan hingga akhirnya bahu sebelah kirinya terkena pisau dan mengeluarkan darah segar. Membuat tatapan Aping makin ganas. Kini dia mulai membrutal mengeluarkan semua jurus andalannya. Dan lagi - lagi Zero dan anak buahnya terpukul mundur dengan berbagai luka lebam serta beberapa tulang mereka patah oleh jurus maut Aping.
"Mundur!" teriak Zero sambil merintih merasakan lengannya patah.
"Gila ni orang gak ada lelahnya sama sekali," pikirnya melihat masih tegaknya Aping di depannya yang siap menghabisi mereka.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan Aping yang masih terbalut emosi.
Ibunya menghampiri Aping.
"Ping bahu mu nak sini ibu obati," membawa Aping ke dalam rumah dan segera mengobatinya.
"Sebenarnya mereka siapa Ping?"
"Musuh bebuyutan sekolahan bu," jawab Aping enteng.
Ibunya hanya menghela napas dalam. Anaknya benar - benar kelewat berani.
Batinnya.
__ADS_1