
Udah lima hari orang tua Ocy ke luar negeri, selama itu pula Aping tinggal di rumah Ocy.
Menjaganya seperti adiknya sendiri. Ocy juga merasa Aping seperti kakaknya. Meskipun kenyataannya mereka bukan saudara.
Mereka lebih seperti musuh bebuyutan.
"Ping," sapa Ocy saat di balkon kamar tamu. Melihat Aping berdiri memandang langit malam itu.
"Napa Cy?" Aping menatap Ocy yang berada di sampingnya.
"Lo ngapain di sini?" Ocy berbasa - basi sebenarnya dia merasa kesepian tanpa siapapun yang mengajaknya ngobrol malam itu. Rumah semegah ini namun tak banyak penghuninya, tak banyak suara canda tawanya. Ocy kadang membenci orang tuanya yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Hingga melupakan bahwa Ocy membutuhkan mereka. Membutuhkan kasih sayang mereka.
"Gue lagi mikirin masa depan," menatap langit yang penuh bintang.
"Lo terlalu dewasa berpikirnya ping masih lama juga mikir masa depan kita masih kelas dua SMA juga," cercah Ocy.
"Emang lo gak pernah mikir masa depan lo?" tanya Aping ke Ocy.
"Nggak gue ngalir aja nikmati prosesnya aja."
"Lo enak bilang gitu sebab lo punya segalanya," ucap Aping ngeremehin Ocy.
__ADS_1
"Kok lo bilang gitu?" Ocy mulai cemberut. Aping menahan tawanya melihat wajah Ocy.
"Ocy buka pikiran lo suatu saat lo juga akan mikir kemana kaki lo membawa lo ke masa depan, akan berakhir baik atau sebaliknya, dan lo harus punya mimpi yang ingin lo kejar, agar lo punya energi positif untuk menggapainya," ucap Aping penuh makna. Sekilas Ocy menyerap ucapan Aping.
"Lo sok bijak deh emang lo punya mimpi apa?" tanya Ocy penasaran.
"Rahasia."
"Lah gak asik lo."
Mereka membisu sesaat.
"Lo kenapa gak mau di deketin sama cewek - cewek di sekolah Ping?" dari dulu sebenarnya Ocy sangat penasaran alasan Aping yang sangat angkuh menolak cewek - cewek yang mendekatinya.
Ocy mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Aping atau lebih tepatnya sebuah ejekan.
"Ogah ngapain juga ngejar cowok kayak lo," ucapnya tegas.
"Terus ngapain nanya?"
"Kepo aja lo kok sombong banget sama mereka."
__ADS_1
"Mulai perhatian ya lo sama gue?" kali ini nada Aping sedikit menggoda Ocy. Terlihat semburat merah di pipi Ocy.
"Gila apa gue merhatiin lo."
"Sok ngeles lo Cy dari mata lo gue tahu lo suka sama gue," Aping percaya diri banget ngucapin itu ke Ocy. Membuat Ocy menghela napas.
"Lo itu manusia bukan sih pede lo tingkat dewa Ping?"
"Gak usah salting lo Cy," sambil mendekat ke arah Ocy. Mata mereka saling bertemu. Aping menggenggam tangan Ocy. Wajahnya mendekat ke arah Ocy hingga beberapa centi saja jarak mereka. Jangan di tanya Ocy saat ini benar - benar deg deg an.
"Apa lo mau cium gue Ping," batin Ocy.
Semakin dekat dan semakin Ocy gugup.
Hingga Aping berbisik ke telinga Ocy.
"Pegang jantung lo biar gak loncat dan lap juga tu iler lo," Aping terkekeh melihat Ocy mematung. Spontan Ocy memegang jantungnya dan mengelap sudut bibirnya.
"Tak ada iler kok sial gue di kerjain," ronta hati Ocy saat menyadari ucapan Aping.
Aping meninggalkan Ocy yang masih kesal di balkon itu.
__ADS_1
"Dasar cowok udik kerempeng jelek bau tengik lo kurang ajar banget!" sambil melempar apapun yang ada di sekitarnya ke arah punggung Aping yang berjalan keluar kamar.Ocy mengumpat dalam hati.
Aping hanya tertawa melihat tingkah Ocy yang di buat kesal olehnya itu.