
"Aaaarrghh!" teriak pak Teo penuh emosi di ruangannya, kali ini barang-barang di meja menjadi incarannya hingga berserakan di lantai.
"Tuan sebaiknya anda tenang, tidak baik untuk jantung anda," ucap si sekertaris.
"Bagaimana aku bisa tenang hah! semua telah hancur dalam sebentar saja karena anak ingusan itu," ucap pak Teo.
"Anda masih bisa memulai lagi tuan," ucap hati-hati sekertaris itu.
Pak Teo mengacak rambutnya frustasi, dia benar-benar di ujung kehancuran.
"Cari tahu tentang anak ingusan itu, aku mau hari ini sudah ada laporannya," perintah pak Teo.
"Baik tuan, saya undur diri dahulu," pamit sekertaris itu pada atasannya.
"Pergilah," ucap pak Teo lirih sambil memegang kepalanya yang berdenyut kuat.
Empat jam kemudian sekertaris itu kembali ke ruangan pimpinannya, menyerahkan sebuah kertas berisi informasi yang atasannya minta.
"Ini tuan informasi tentang anak itu," ucap sekertarisnya, pak Teo menerima kertas itu dan membaca setiap detail tentang Aping.
"Jadi dia hanya anak yatim piatu yang kebetulan bisa mendapat beasiswa di London, dan hanya dalam setahun bisa memiliki perusahaan sendiri sambil menyelesaikan kuliahnya," gumam pak Teo.
"Ternyata dia bukan orang sembarangan," batin pak Teo.
"Masih berapa persen saham kita yang tersisa saat ini?" menatap sekertaris nya.
"Hanya ada dua puluh persen tuan."
"Sial, dia benar-benar ingin menghancurkan ku!" sentak pak Teo geram dengan keadaannya.
__ADS_1
"Cari tahu orang terdekatnya, aku ingin memberi peringatan kepadanya!" perintah pak Teo.
"Baik tuan."
Pak Teo tersenyum sinis, dia ingin menghancurkan Aping dengan cara kotornya sendiri.
Di sisi lain Ocy sedang gelisah menunggu kabar dari Aping, setelah pembicaraan Aping dan papanya pria itu tak lagi memberi kabar kepadanya, dengan ragu Ocy mengirim pesan kepada Aping terlebih dahulu.
"Gue kok bisa sih mikirin dia terus-terusan gini," batin Ocy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo ngapain Cy, geleng-geleng kayak gitu?" tanya Lisa melihat sahabatnya tengah bertingkah aneh seperti itu.
Ocy hanya tersenyum ke arah Lisa tanpa berucap apapun, membuat Lisa hanya heran dalam pertanyaannya sendiri.
"Oya Cy, ini berkas pengajuan kerja sama dengan perusahaan APOC Group, kita harus datang ke sana besok untuk membicarakan bagaimana kesepakatannya," jelas Lisa.
"Baiklah Lis, gue harap kita bisa dapatkan kerja sama ini," ucap Ocy.
Lisa menatap wajah Ocy penuh keyakinan.
"Makasih ya Lis lo selalu dukung gue apapun kondisi gue," Ocy memeluk tubuh Lisa.
"Udah tugas gue Cy buat jagain lo," Lisa terharu dengan perlakuan Ocy.
*****
Keesokan harinya Ocy dan Lisa bersiap-siap untuk pergi ke APOC Group untuk bertemu dengan presdir utama perusahaan itu.
"Gimana Lis udah siap semua berkasnya?" tanya Ocy.
__ADS_1
"Udah Cy, yuk kita langsung berangkat aja," ucap Lisa.
"Oke."
Mereka kemudian berangkat bersama dengan menggunakan mobil Ocy, satu jam kemudian mereka sampai di depan perusahaan itu.
"Wow besar banget gedungnya Cy," Lisa terkagum dengan apa yang dilihatnya.
"Udah ah kagumnya yuk masuk," ajak Ocy sambil menarik lengan Lisa.
"Permisi bisa kita bertemu dengan presdir kalian," sapa Ocy saat berada di ruang resepsionis.
"Apakah nona sudah buat janji sebelumnya?" tanya wanita cantik di depan Ocy yang tak lain petugas resepsionisnya.
"Kemarin kami sudah buat janji nona, hari ini kita akan bertemu dengan beliau," ucap Lisa mewakili Ocy karena dia yang mengurus semuanya kemarin.
"Baiklah kalau sudah kalian bisa langsung ke lantai lima belas, nanti kalian akan di antar oleh sekertaris presdir," ucap wanita itu.
"Baik terima kasih," Ocy dan Lisa menuju ke salah satu lift karyawan untuk naik ke lantai lima belas.
Sesampainya di lantai lima belas, mereka bertemu dengan sekertaris Obi kemudian mereka di antar menuju ke ruangan presdir.
"Permisi tuan mereka sudah datang," ucap Obi saat berada di ruangan presdir.
"Kamu boleh keluar sekertaris Obi," ucap presdir.
Saat itu presdir sedang duduk membelakangi mereka, Ocy merasa sangat familiar dengan suara itu.
"Selamat datang nona Ocy dan Lisa," presdir membalikkan kursinya menghadap dua wanita cantik itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aping!" serentak keduanya sambil mata mereka membulat, tak percaya siapa yang di depannya itu.
"Presdir?" tanya Ocy dalam hatinya.