Aping

Aping
Membongkar


__ADS_3

Dua hari kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan kediaman pak Jaya, saat itu Aping dan Ocy tengah pergi bekerja, ada tiga orang keluar dari dalam mobil menuju ke arah pintu depan.


Seorang pelayan di rumah pak Jaya membuka pintu setelah suara pintu terketuk, terlihat ketiganya ingin bertemu dengan pemilik rumah, sang pelayan kemudian mempersilahkan mereka masuk dan menunggu di dalam ruang tamu.


"Tuan, ada tamu yang mencari tuan, sekarang mereka di ruang tamu," ucap sang pelayan. Pak Jaya mengerutkan dahinya siapa gerangan yang tiba-tiba bertamu ke rumahnya di siang hari seperti ini.


"Baiklah buatkan mereka minuman!" perintah pak Jaya.


"Baik tuan," si pelayan kembali ke dapur dan pak Jaya akhirnya menuju ke ruang tamu, saat di ruang tamu ekor matanya menatap ke arah ketiga orang yang sedang duduk menunggu di sofa. Dua dari ketiga orang itu pak Jaya mengenalinya, dia sangat terkejut dengan kedatangan mereka.


"Kalian," ucap pak Jaya mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Apa kabar Sanjaya?" tanya pria paruh baya seumurannya.


"Tentu saja baik Hamzah, bagaimana dengan kalian?" tanya pak Jaya sambil tersenyum.


"Kami sangat baik, oya perkenalkan ini anak saya, Wilian," ucap Hamzah.


"Halo om saya Wilian," ucap Wilian sambil menjabat tangan pak Jaya.


"Wah sudah dewasa ya kamu," ucap pak Jaya basa-basi.


"Iya om."


Wilian tersenyum penuh arti, dia merasakan pak Jaya sedang terkejut dengan kedatangan mereka.


"Sanjaya sebenarnya kedatangan kami kesini ingin bertemu dengan tunangannya Wilian, putrimu, kamu masih ingat itu kan?" tanya Hamzah tanpa basa-basi.


"Benar apa yang suami saya bilang, sudah cukup lama mereka terpisah sebaiknya kita satukan mereka," pinta istri Hamzah, Lidia.

__ADS_1


Pak Jaya terdiam sejenak mencoba menata kata yang akan dia ucapkan agar tak melukai hati mereka, tiba-tiba pintu utama rumah itu terbuka, dua orang masuk ke dalam rumah sambil bercanda gurau, mereka tidak mengetahui bahwa ada tamu penting yang sedang menunggu mereka, lebih tepatnya menunggu Ocy.


"Ocy, Aping," panggil pak Jaya, keduanya menoleh ke arah pak Jaya dan ketiga orang yang mereka tidak kenali, mereka berdua kemudian mendekat ke sofa ruang tamu.


"Papa, siapa mereka?" tanya Ocy pada pak Jaya ketika sudah duduk di sofa dekat pak Jaya, diikuti Aping yang duduk di sebelah Ocy.


"Mereka adalah orang tua Wilian, dan Wilian adalah pria yang di jodohkan untukmu," jelas pak Jaya dengan sehalus mungkin, wajah Ocy berubah seketika menjadi tidak senang.


Aping mengerti dengan penjelasan pak Jaya, dia memperhatikan Wilian dengan seksama.


"Di banding dia, gue juga lebih tampan dan berkarisma," batin Aping dengan kepercayaan diri level tingginya.


Wilian pun tak mau kalah menatap Aping, ada kilatan kebencian dari kedua pasang mata yang saling menatap itu.


"Hanya cowok biasa seperti itu, aku pasti bisa melenyapkannya," batin Wilian melihat tubuh Aping yang tak lebih kekar daripada dirinya.


Ocy menatap kedua pria di depannya itu dengan perasaan aneh, ada hal yang buruk terlihat dari pandangan mata Wilian.


"Kenapa kamu tidak mau nak Ocy, Wilian adalah pria tampan dan mapan," ucap Lidia memuji anaknya sendiri.


"Bukan begitu tante, Ocy sudah mempunyai pria pilihan Ocy sendiri," entah apa yang membuatnya berani mengucapkan itu, yang pasti dia sangat yakin untuk memilih jalan hidupnya sendiri, termasuk jodohnya.


Hamzah dan Lidia tertegun dengan ucapan Ocy, mereka merasa sangat di rendahkan oleh keluarga Sanjaya.


"Apa maksudmu?" tanya Hamzah dengan nada suara tegas.


"Maaf om tante, Ocy sudah memiliki kekasih dia adalah Aping," jelas Ocy sambil memegang tangan Aping yang berada di sampingnya.


"Sanjaya apa maksud semua ini, bukannya kamu sudah memberi tahu putrimu tentang perjodohan ini!" suara Hamzah naik satu oktaf.

__ADS_1


"Maafkan aku Hamzah mereka saling mencintai, aku hanya bisa merestuinya," ucap Sanjaya.


Braaak!


Hamzah menggebrak meja di depannya, dia tidak terima dengan penghinaan keluarga Sanjaya kepada keluarganya, sedangkan Wilian hanya memperhatikan apa yang sedang di bicarakan di depannya, dia telah mengetahui apa hubungan yang telah Ocy dan Aping jalani.


"Om maaf sebelumnya, tapi masalah ini menyangkut dengan saya, kami saling mencintai om, jadi tolong lepaskan Ocy dari perjodohan ini," ucap Aping dengan sangat berani.


"Diam kamu!" sentak Hamzah pada Aping, namun jangan tanyakan bagaimana Aping menghadapi suasana ini, dia sangat terlihat santai, seolah hanya dia yang berkuasa.


"Obi masuk lah!" panggil Aping, ternyata sejak tadi sekertaris Obi berada di depan pintu, dia sedang menunggu Aping memanggilnya.


"Iya tuan," jawab sekertaris Obi memberi hormat.


Semua orang terdiam menatap ke arah Aping, kenapa harus memanggil sekertarisnya.


"Tunjukan kepada mereka berkas perusahaan pak Jaya 15 tahun yang lalu," perintah Aping, dengan segera Obi membawa berkas yang di minta oleh Aping dan memberikan kepadanya.


"Di dalam sini telah tercatat semua pembukuan keuangan tentang seseorang yang mengambil keuntungan perusahaan untuk keperluan pribadinya, setelah saya selidiki ternyata yang membuat perusahaan keluarga pak Sanjaya jatuh terpuruk adalah ulah para penghianat," penjelasan Aping terhenti sambil menatap ke arah Hamzah, membuat wajah Hamzah memucat seketika.


"Apa yang kamu ucapkan Ping?" tanya pak Jaya dalam kebingungan.


"Om sebenarnya perusahaan keluarga om pada saat itu tidak kekurangan dana, namun karena seseorang dengan sengaja mengambil uang perusahaan secara diam-diam yang membuat krisis keuangan di perusahaan, akhirnya mau tidak mau kalian harus menghutang kepada keluarga pak Hamzah, hal yang paling mengejutkan pelakunya adalah pak Hamzah sendiri, dia ingin mengambil keuntungan dengan mengincar putri anda, dan menguasai semua aset milik anda, namun sebelum semuanya jatuh kepada mereka pak Teo terlebih dahulu merebutnya dan harus pak Jaya tahu, pak Teo adalah orang kepercayaan pak Hamzah." Penjelasan Aping benar-benar membuat pak Jaya terkejut, bahkan dia tidak pernah mengetahui tentang hal ini.


"Semua sudah tertera jelas di berkas-berkas ini!" Aping menunjukkan berkasnya ke pak Jaya, dia meneliti laporan keuangan yang telah di laporkan itu, banyak sekali dana gelap yang keluar tanpa sepengetahuannya.


"Ternyata kamu mencurangiku Hamzah!" teriak pak Jaya.


"Hahaha, ternyata calon menantumu sangat pintar sekali, namun sayang semua itu belum cukup untuk menggertakku, kalian kira masalah seperti itu bisa di buka kembali di depan pengadilan? jangan mimpi!" ucap Hamzah.

__ADS_1


"Tentu saja bisa dengan sedikit pengakuan dari anda, semuanya akan menjadi mudah!" ucap Aping tak mau kalah.


__ADS_2