
Diandra memijit keningnya yang terasa nyeri, memikirkan permintaan sang mama membuatnya sangat pusing, andai saja dia bisa melupakan rasa sayangnya terhadap Aping dan mulai menyayangi laki-laki lain.
Mungkin saat ini dirinya sudah menikah, namun perasaan yang dia rasakan sangat mendalam kepada Aping, meskipun Aping belum mengetahui siapa dirinya saat ini.
"Aku harus mendekati Aping agar mama bisa berhenti mencarikan jodoh untukku," ucap Diandra pada dirinya sendiri.
Dia memilki tekat yang kuat untuk bisa mendapatkan Aping, tanpa dia ketahui bahwa Aping telah memiliki Ocy sebagai pilihan hatinya.
Pagi ini Aping berangkat dari rumah Ocy dengan terburu-buru karena harus memimpin rapat penting tentang proyek besar perusahaannya dengan perusahaan milik Diandra.
"Cy gue berangkat dulu ya, pamitin ke Om Jaya," pinta Aping sambil berjalan terburu-buru.
"Lo gak sarapan dulu Ping?" tanya Ocy.
"Gue sarapan di kantor aja, ada rapat pagi ini," ucap Aping yang sudah sampai di pintu keluar rumah Ocy.
Dengan kecepatan tinggi Aping melajukan mobilnya di jalanan pagi itu, beruntung jalanan sedang senggang, dengan cepat dia sampai di perusahaannya.
"Obi," panggil Aping pada sekertarisnya.
"Iya tuan," jawab Obi.
"Siapkan berkas-berkas untuk rapat pagi ini, jangan ada yang terlewatkan sedikitpun."
"Baik tuan," Obi membawa berkas-berkas beserta softcopy nya ke ruang rapat mengikuti Aping dari belakang.
Terlihat di dalam ruang rapat beberapa manager sudah tiba, di kursi sebelah Aping tampak Diandra telah duduk di sana.
Mata Aping dan Diandra bertemu, hanya sekilas Aping menatapnya namun tidak bagi Diandra, dia sangat merindukan wajah pria di depannya itu.
Entah apa yang membuat Diandra remaja dahulu bisa menyukai Aping yang masih buluk, masa-masa remaja Aping hanya di habiskan dengan berlatih taekwondo setiap hari, tidak ada waktu bagi Aping merawat diri.
__ADS_1
Namun sekarang perubahan drastis terlihat dari Aping, pesonanya mampu meluluh lantahkan hati Diandra, hingga ke lubuk hati paling dalam.
Rapat di mulai dengan dengan lancar dan berakhir dengan keputusan baik di antara mereka.
Usai rapat selesai Aping kembali ke ruangannya, tanpa memperdulikan tatapan Diandra yang masih mengarah kepadanya.
Diandra merasa kecewa dengan sikap Aping yang begitu dingin dengannya, namun hal itu tidak menghancurkan tekadnya untuk mendapatkan sosok pria seperti Aping.
Setelah beberapa menit Diandra masuk ke ruangan Aping tanpa ada sekertaris Geo di sana, hanya ada Aping dan Diandra.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Aping kaget dengan sosok di depannya yang tiba-tiba muncul dan berdiri di dekatnya.
"Aping apa lo benar-benar lupa dengan gue?" tanya Diandra tanpa mau basa-basi lagi.
"Maaf saya tidak mengerti maksud anda nona Diandra?" Aping benar-benar bingung dengan pertanyaan wanita di depannya itu.
"Huh baiklah akan aku ceritakan semuanya agar kamu ingat kembali kepadaku," Diandra menghela napas panjang, entah angin apa yang membawanya ke ruangan itu dan mengatakan semuanya.
"Aku adalah orang yang pernah kamu tolong tujuh tahun lalu saat kamu melintasi jalanan sepi di kota ini, kamu ingat lima pria yang sedang mencoba mengoyak harta paling suci dari seorang gadis berusia 14 tahun itu," ucap Diandra terhenti, Aping mencoba mencerna ucapan wanita itu dan mengingat kejadian di masa lalunya.
"Ya Diandra adalah Dian yang pernah kamu tolong dahulu," ucap Diandra.
Aping hanya terdiam mendengar apa yang di ucapkan Diandra, tiba-tiba wanita itu menggenggam tangan Aping.
"Selama ini aku selalu mencarimu kemanapun, namun tak bisa menemukanmu, kamu tahu sebenarnya sejak pertama kamu menolongku aku merasakan bahwa kamu lah orang yang tepat untukku," ucapan Diandra terhenti, ada rasa sesak dihatinya yang harus segera dia keluarkan, bertahun-tahun memendamnya sendiri bukan hal mudah bagi seorang wanita sepertinya.
"Maksud kamu?" tanya Aping bingung.
"Aku mencintaimu," ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Diandra tanpa ada lagi rasa malu bahwa dia harus terang-terangan mengatakan itu.
Di sisi lain Ocy yang libur bekerja sedang membersihkan kamar Aping, dia melihat di meja dekat ranjang Aping ada sebuah berkas, Ocy membukanya dan melihat isi dari berkas itu.
__ADS_1
"Sepertinya ini sangat penting buat Aping, sebaiknya gue antar aja ke kantornya," ucap Ocy pada dirinya sendiri.
Bergegas dia menyahut kunci mobilnya dan tak lupa dengan tas pribadinya, setengah jam kemudian dia telah sampai di kantor Aping, tanpa berlama-lama dia segera menuju ke lantai khusus presdir.
Aping dan Diandra masih terjebak oleh percakapan mereka tentang masa lalu itu, Aping merasa tidak bisa menerima hati wanita di depannya itu, dia tidak bisa membalasnya.
"Dian maafkan aku, tapi aku sudah memiliki tunangan, dan kami akan segera menikah," ucap Aping seperti sambaran kilat untuk hati Diandra.
"Kamu bercanda kan Ping?" tanya Diandra memastikan bahwa dia salah mendengar.
"Aku serius," jawab Aping tanpa ada keraguan dari matanya.
Sontak Diandra tak mampu menahan air matanya, hatinya benar-benar pilu mendengar kenyataan itu, tiba-tiba dia memeluk tubuh Aping seolah tak rela bila kehilangan pria itu.
"Diandra lepaskan pelukanmu ini!" perintah Aping, namun Diandra semakin kuat memeluknya.
Tanpa ada suara ketukan pintu Ocy masuk ke dalam ruang kerja Aping, matanya melotot tak percaya melihat Aping sedang berpelukan dengan wanita lain di kantornya.
"Aping!" teriak Ocy frustasi dengan apa yang dilihatnya, berkas yang dia bawa terjatuh begitu saja di dekat pintu.
Aping tersentak dengan suara yang sangat dia kenal, entah sejak kapan Ocy berada di sana, Aping tak menyadarinya.
"Ocy," panggil Aping, namun Ocy segera berlari keluar ruangan itu, air matanya berhasil membasahi pipinya.
Dengan kasar Aping melepas pelukan Diandra dan segera mengejar Ocy yang terlihat sangat marah, dia harus segera menjelaskan apa yang terjadi.
Aping berlari menuju lift, sialnya lift sedang digunakan oleh Ocy yang sudah tiba di lantai satu, Aping dengan cepat memencet tombol di lift, hatinya sangat gelisah melihat Ocy yang pergi dengan emosi.
"Please Cy jangan gegabah, gue bisa jelasin semuanya," gumam Aping lirih sambil menunggu lift sampai di lantai satu.
Saat lift tiba di lantai satu tak terlihat tanda-tanda Ocy masih di sana, dengan cepat Aping berlari ke parkiran mobil, namun tak menemukan mobil Ocy di sana.
__ADS_1
"Sial dia cepat sekali perginya," ucap Aping sambil mengacak frustasi rambutnya.
Dia segera menuju ke mobil dan melajukannya ke rumah Ocy, satu-satunya tempat yang mungkin di tuju Ocy saat ini.