Aping

Aping
Rencana


__ADS_3

Aping malam ini di minta oleh pak Jaya tinggal di rumahnya, dia mengiyakan permintaan pak Jaya, lagipula dia merasa rindu dengan keluarga itu.


Sesekali Aping menatap langit malam itu dari jendela kamarnya, memang rumah Ocy yang sekarang tak sebesar rumahnya yang dahulu, namun rumah ini mempunyai ketenangan tersendiri saat berada di dalamnya.


Ocy diam-diam membuka kamar Aping, menatap sosok yang berdiri di dekat jendela, rasanya ingin menyapa, namun Ocy mengurungkan niatnya, pelan-pelan dia berbalik dan ingin menutup pintu kamar.


"Selangkah lagi lo pergi, gue gak mau lihat lo!" ucap Aping dingin sambil memandang langit.


Langkah Ocy terhenti mendengar ucapan Aping.


"Kok bisa tahu dia ya?" batin Ocy.


Tubuhnya hanya membeku di pintu kamar, tanpa melihat ke belakang tiba-tiba Aping menarik tubuh Ocy dan menutup pintunya.


Aping memeluk tubuh Ocy dari belakang, menikmati aroma tubuh Ocy dari tengkuknya. Ocy gemetar merasakan sesuatu menghangatkan lehernya, deru nafas Aping.


"Ping lepasin gue?" ucap Ocy gemetar.


"Lepasin lo yang diam-diam menyelinap di kamar ini? apa ini yang lo mau?" Aping semakin mempererat pelukannya, membuat tubuh Ocy menegang seketika.


"Aroma ini menjadi candu yang membuat gue menderita menahannya selama empat tahun, akhirnya gue bisa menghirupnya kembali," batin Aping sambil menyeringai.


"Gue cuma mau sampaikan ke lo kalau papa mau bicara empat mata sama lo," ucap Ocy dengan susah payah mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Aping tak percaya.


"Gue gak bohong!" Ocy kesal dengan perlakuan Aping itu.


Tiba-tiba Aping membalik tubuh Ocy hendak mencium bibirnya, Ocy yang terkejut akhirnya menutup mata, namun hal lain terjadi.


"Gak usah di monyongin bibirnya!" ucap Aping sedikit keras ke wajah Ocy dan segera melepaskan pelukan mereka, dia berlalu meninggalkan Ocy.


Ciuman hanyalah khayalan dalam pikiran Ocy, gadis itu merapal sejumlah mantra untuk Aping, hatinya sungguh kesal lagi-lagi dia di permainkan olehnya.


"Dasar Aping jelek! dekil gak ada bagus-bagusnya! uuhh!" Ocy mengumpat habis-habisan sambil melempar bantal yang berada di dekatnya.


Aping tak memperdulikan itu, dia segera menemui pak Jaya di ruang pribadinya.


Aping mengetuk pintu.


"Masuk," ucap pak Jaya mempersilahkan Aping masuk ke ruangannya.


Aping dengan segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, terlihat pak Jaya yang sedang duduk santai di sofa ruangan itu.


"Duduklah Ping," sambil menepuk sofa sebelah pak Jaya, Aping menurutinya.


"Ada apa om?" tanya Aping yang penasaran dengan apa yang ingin pak Jaya bicarakan.

__ADS_1


"Apa kamu serius dengan putri saya Ping?" tanya pak Jaya menatap serius ke arah wajah Aping.


"Kenapa om tanya kayak gitu?"


"Om hanya ingin memastikan putri semata wayang om dengan orang yang benar-benar bisa menjaganya dan mencintainya," ada binar dalam mata pak Jaya mengucapkan itu. Aping menghela napas dalam.


"Tentu saja saya serius om, tapi masih ada hal yang harus Aping lakukan kali ini."


"Hal apa itu Ping?" tanya pak Jaya heran.


"Saya mau merebut kembali perusahaan milik om yang mereka rampas dahulu," ucap Aping yakin.


Pak jaya terheran dengan ucapan Aping bagaimana dia bisa merebut perusahaan sebesar itu dengan keadaannya yang sekarang.


"Tapi Ping bagaimana kamu bisa merebutnya dengan keadaan kamu sekarang ini?"


"Om ragu dengan saya?" Aping balik bertanya.


"Om tidak meragukanmu tapi bagaimana kamu akan melakukannya?"


"Soal itu serahkan pada Aping saja."


Pak jaya hanya terdiam memandang pria di depannya itu, ada semangat yang terpancar dari wajah Aping, sebuah keyakinan yang sangat lekat padanya.

__ADS_1


__ADS_2