Aping

Aping
Viko


__ADS_3

Hari pertama kembali ke sekolah telah tiba.


Aping dan teman-temannya bukan lagi anak kelas sebelas namun mereka sudah kelas dua belas. Satu tahap lagi mencapai titik memulai kehidupan. Tinggal beberapa bulan saja mereka akan menghadapi dunia yang sesungguhnya.


Aping berjalan santai di samping Ocy. Tatapan mata para gadis tak lepas dari pesona Aping. Mereka masih tidak mau menyerah untuk mencari perhatiannya. Satu hal yang berbeda dari tahun ini. Aping tak lagi bertemu dengan Kiran masa lalu Aping. Sejak terakhir pertemuannya dengan Aping, Kiran seperti di telan bumi. Entah kemana dan bagaimana keadaannya Aping tak perduli lagi. Setidaknya satu masalah hilang dari hidupnya.


"Aping," panggil wali kelasnya.


"Ya pak," Aping berjalan mendekati wali kelasnya.


"Ada apa pak?" tanya Aping bingung.


"Ikut saya ke ruang guru."


"Baik pak." Aping menatap ke arah Ocy memintanya masuk ke dalam kelas terlebih dahulu.


"Lo duluan aja," ucap Aping. Ocy mengangguk dan berjalan ke arah kelas barunya.


Aping tiba di ruang guru.


Pikirannya bertanya-tanya apa yang akan di sampaikan oleh wali kelasnya.

__ADS_1


"Silahkan duduk Ping," ucap pak Sano selaku wali kelas baru Aping.


"Iya pak." Aping duduk di kursi depan meja pak Sano.


"Kamu tahu kenapa kamu di panggil ke sini Ping?" tanya pak Sano. Aping menggelengkan kepalanya.


"Ini soal pengajuan kamu dua tahun lalu tentang beasiswa ke luar negeri itu."


"Apa pengajuan saya di terima pak?" tanya Aping.


"Sejauh ini masih di proses Ping tapi selama beberapa bulan terakhir ini kamu harus benar-benar sempurna dalam semua mata pelajaran, serta sikapmu harus di jaga. Untuk semester akhir kamu harus mengikuti tes beasiswa itu." Pak Sano menjelaskan dengan seksama.


"Bagus kamu harus bersemangat untuk meraihnya. Karena ini kesempatan langka buatmu," pak Sano memberikan semangat untuk Aping.


"Baik pak terima kasih."


Aping pamit untuk ke kelasnya setelah percakapan itu selesai. Dalam perjalanan Aping memikirkan satu hal. Bagaimana jika dia mendapatkan beasiswa itu,siapa yang akan menjaga Ocy selama dia kuliah? Pertanyaan-pertanyaan yang Aping belum bisa menemukan jawabannya.


Ocy menatap Aping yang berjalan gontai masuk ke dalam kelas.


"Lo kenapa Ping?" tanya Ocy.

__ADS_1


"Gue gak apa-apa kok," ucap Aping di bangkunya.


Tiba jam pelajaran di mulai. Pak Sano masuk ke dalam kelas dengan seorang cowok tampan bersamanya. Pak Sano memperkenalkannya sebagai murid pindahan sekolah dari luar kota.


"Silahkan perkenalkan dirimu?" ucap pak Sano.


"Baik pak." Anak baru itu berdiri menghadap semua murid. Banyak murid perempuan yang terpesona dengan ketampanannya.


"Hai nama saya Vikolas Elde, kalian bisa memanggil saya Viko," ucap anak baru itu.


"Baik kamu bisa duduk di sebelah sana." Pak Sano menunjuk bangku kosong sebelah kiri Ocy. Aping menatap ke arah Viko yang duduk di sebelah Ocy. Ada rasa tak rela bila dia harus duduk di sana.


"Hai." Viko mengajak kenalan dengan cewek cantik di sebelahnya. Ocy tersenyum dan meraih tangan Viko.


"Ocy," ucapnya.


"Cantik nama lo seperti orangnya," Viko memuji kecantikannya yang hanya di balas dengan senyuman oleh Ocy. Kemudian mereka larut dalam suasana kelas pagi itu.


"Nih cewek cantik banget sih gue harus bisa dapetin hatinya." Pikiran Viko mulai terisi dengan wajah Ocy. Aping memandang Ocy dan Viko dari bangkunya. Dia mengepalkan tangannya melihat pemandangan di depannya itu.


"Tatapan mata cowok itu tersirat sesuatu gue harus jagain Ocy dari dia," batin Aping.

__ADS_1


__ADS_2