Aping

Aping
S 2 : Bertemu Tapi Terluka


__ADS_3

Malam yang dingin di negara Perancis yang katanya negara dengan sejuta cinta, Aping menyandarkan punggungnya di sebuah kursi sambil menikmati indahnya pemandangan malam hari di negara tersebut.


Dia merasakan hembusan kenyamanan saat pertama kali sampai di sini, entah hanya perasaannya saja atau memang tempatnya yang sangat indah.


Di hotel berbintang lima itu Aping menginap, dia datang sendiri di negara ini, karena sekertaris Obi harus menghandle perusahaan Aping yang berada di Indonesia.


Tiba-tiba Aping ingin berjalan-jalan di dekat menara Eiffel, menikmati keindahan menara itu dari dekat, kebetulan hotel yang dia tempati lumayan dekat, jadi dia memutuskan untuk pergi ke sana.


Saat dia sampai di bawah menara Eiffel dia menikmati keindahan itu, namun sayang matanya harus tercemar dengan pemandangan para muda-mudi yang berpacaran, sedangkan dia hanya sendiri, sebagai jomblo tampan dia merasa tertampar dengan pemandangan itu.


"Astaga apa ini efek menjomblo dua tahun, baru kali ini gue merasakan butuh pasangan," batin Aping nelangsa.


Matanya sekilas menatap ke arah seorang perempuan yang berada di depannya yang berdiri sendiri, perempuan itu membelakangi dirinya, entah kenapa sosok itu seperti seorang yang Aping kenal.


Aping berjalan ke arah perempuan itu, namun sebelum dia sampai di dekatnya, Aping harus kecewa karena dia begitu cepat pergi di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang , Aping menggaruk kepalanya, dalam hati dia bingung kenapa dia harus sepenasaran itu dengan perempuan tadi.


Aping kembali ke hotel untuk tidur, karena dia sudah sangat lelah.


Keesokan paginya Aping harus menemui seseorang yang merupakan rekan kerjanya di sebuah restoran, kebetulan saat sampai di sana seseorang yang dia kenal telah tiba beberapa menit yang lalu.


"Maaf tuan Aldo membuat anda menunggu," ucap Aping sambil menjabat tangan pria yang bernama Aldo itu.


"Tidak apa-apa tuan silahkan duduk," ucap Aldo sambil tersenyum, dia harus memberi hormat kepada Aping.


Aping duduk dan sesekali mengamati dekorasi restoran itu, nuansa tenang terlihat dari restoran bergaya Indonesia itu.


"Apa pemilik restoran ini orang Indonesia?" tanya Aping menatap ke Aldo.

__ADS_1


"Tebakan anda benar tuan, pemiliknya berasal dari Indonesia dan juga dia sangat cantik," jelas Aldo sambil tersenyum memikirkan kecantikan perempuan yang mendirikan restoran itu.


"Benarkah?" tanya Aping penasaran.


"Benar tuan."


" Baiklah kita bahas itu lain kali saja, sebaiknya kita kembali ke proyek kita, ya kan tuan Aldo?" ucap Aping tak ingin membicarakan wanita untuk saat ini, karena setiap melihat atau mendengar tentang wanita pikirannya hanya tertuju ke satu nama Ocy, wanita yang tak pernah bisa dia lupakan selama dua tahun ini, karena setiap dia mencoba melupakan semakin dia mengingatnya.


"Tentu saja tuan Aping," ucap Aldo.


Mereka kemudian sibuk membicarakan proyek keduanya, proyek besar yang melibatkan perusahaan besar milik Aping dan juga Aldo, keduanya menjadi relasi sudah dua tahun ini dan setiap proyek yang mereka pegang tak pernah sedikitpun mengalami kendala.


Selesai dengan pertemuannya dengan Aldo, Aping ingin segera kembali ke hotel, ketika berjalan ke luar restoran seseorang tak sengaja menabraknya karena dia berjalan terburu-buru.


"Maaf tuan saya tidak sengaja," ucap wanita itu sambil tertunduk karena merasa bersalah.


"Kalau berbicara lihat wajah orangnya, bukan menunduk!" teriak Aping.


"Maaf tuan saya tidak sengaja, tadi saya terburu-buru karena ada seseorang yang mengikuti saya," ucap wanita itu masih menunduk.


"Dimana yang sakit tuan biar saya periksa," ucap wanita itu sambil memegang jas milik Aping,tangan Aping memegang kedua tangan wanita itu, saat kedua pasang mata mereka bertemu betapa kagetnya mereka.


"Ocy!" ucap Aping kaget, sedangkan Ocy mencoba untuk mengelak dari Aping, sekuat tenaga Aping memegang lengan Ocy yang hendak melangkah meninggalkannya, kemudian memeluk tubuh wanita itu erat.


Ocy hanya terdiam, dia tak bisa lagi mengelak dari Aping, mereka terlanjur bertemu saat ini, yang dipikirkan Ocy adalah bagaimana dia akan memberi penjelasan kepada Aping tentang kepergiannya.


Aping memeluk erat tubuh Ocy, harumnya masih sama seperti dahulu, melepaskan kerinduan selama dua tahun itu, cukup lama mereka berpelukan, perasaan yang sama yang mereka rasakan akhirnya bisa terobati, Ocy meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu ninggalin aku?" tanya Aping sambil melepas pelukan mereka dan memegang pundak Ocy, dia menatap kedua manik mata Ocy yang begitu dia rindukan, sedangkan Ocy terkejut dengan ucapan lembut Aping, panggilannya tak lagi seperti dahulu, tapi Ocy menyukainya.


"Sepertinya dia mulai dewasa, meninggalkan panggilan yang seperti dahulu," batin Ocy.


"Aku gak mau kamu terluka karena kehadiranku," ucap Ocy menyeimbangkan ucapan Aping.


"Bahkan seribu kali aku terluka pun bukan hal yang bisa meruntuhkan perasaanku terhadapmu," ucap Aping sambil mendekatkan dahinya ke dahi Ocy, membuat mereka tak ada jarak lagi.


"Aku mencintaimu," ucap Aping pada Ocy.


"Aku tahu itu, tapi sebaiknya kita berteman saja," ucap Ocy dengan begitu berat.


"Kenapa? apa karena sudah ada penggantiku?" nada bicara Aping terdengar sangat kecewa.


"Iya aku telah memiliki penggantimu," ucap lirih Ocy, sebenarnya dia tak tega mengatakan hal itu kepada Aping, tapi dia harus melakukannya.


Bagaikan tersambar petir, hati Aping hancur seketika, di saat dia bertemu kembali dengan belahan hatinya, di saat yang sama dia kembali terluka.


"Kenapa Tuhan tidak adil padaku!" teriak Aping dalam hati, tatapannya kosong seolah tak lagi ada kehidupan, dia tak pernah menginginkan luka yang seperti ini, tapi dia tak bisa memaksakan sebuah hati yang gak lagi menjadi miliknya.


"Apa tak ada lagi di hatimu ruangan untukku?" tanya Aping serius, sekali lagi Aping menatap Ocy lekat ke arah kedua matanya, ingin sekali dia menemukan kebohongan di mata itu.


"Maaf, aku bukan Ocy yang dulu lagi," ucap Ocy menolak kembali kehadiran Aping, lebih baik mereka berpisah agar tak saling terluka, meskipun mereka saling merasakan luka yang begitu dalam di hati keduanya.


"Baiklah," ucap Aping melepaskan tangannya dari Ocy, dia kemudian melangkah meninggalkan Ocy dengan perasaan yang tak bisa lagi di jelaskan, sungguh dia harus menjahit kembali hatinya yang teriris, dia harus memulainya lagi dari nol, entah dia bisa melakukannya lagi atau membiarkan semuanya seperti itu.


Aping mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak ada lagi semangat dan harapan untuk Aping, dia seperti seorang anak kecil yang di tinggal ibunya untuk selama-lamanya.

__ADS_1


"Aku tahu ini semua hanya mimpi, aku tahu kamu berbohong Ocy, aku akan mencari tahu kebenarannya?," batin Aping bertekad menemukan siapa pria yang telah memiliki hati Ocy.


__ADS_2