
Ocy menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menangis sejadi-jadinya, setelah pertemuannya dengan Aping tadi Ocy tak bisa menghentikan air matanya, dia tahu dia melakukan kesalahan besar setelah meninggalkan Aping, tapi dia lebih kecewa dengan dirinya sendiri karena telah mengatakan bahwa dia memiliki pria lain, walau sebenarnya tidak ada satupun pria yang bisa menyentuh hatinya selain Aping.
Namun dia tidak ingin sesuatu melukai Aping kembali hingga mengancam nyawanya seperti dahulu, Ocy tak tahu harus bagaimana lagi dengan perasaannya, di sisi lain dia sangat mencintai Aping namun di sisi lainnya lagi dia tidak ingin karena dirinya Aping terluka.
"Aping maafin aku udah berkata seperti tadi, lebih baik itu pertemuan terakhir kita," batin Ocy.
Hingga larut malam Ocy masih tak bisa tidur memikirkan Aping, sedangkan Aping di dalam hotel yang sedang dia tempati juga tidak bisa tidur, dia memikirkan bagaimana cara agar mendapatkan bukti bahwa Ocy belum mempunyai pria lain, sepertinya dia harus meminta seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Ocy, beberapa orang kepercayaannya ada di kota yang sama,dengan cepat Aping menelepon salah satunya, meminta agar dia mencari tahu informasi tentang Ocy dan orang-orang di sekelilingnya, termasuk di mana dia tinggal.
Dengan foto yang di berikan Aping kepada kedua orang yang telah terpilih sebagai mata-mata Aping, mereka memulai pencarian tentang Ocy.
Dua hari kemudian mereka telah mendapatkan informasi dimana Ocy tinggal dan apa saja yang dia lakukan setiap harinya, kemudian mereka menghadap ke kantor Aping yang berada di Perancis.
"Bagaimana hasil kerja kalian?" tanya Aping ketika melihat keduanya sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ini tuan hasil yang anda minta," ucap salah satu dari mereka sambil memberikan sebuah map berisi data diri dan alamat wanita itu.
Aping menerimanya dan membaca dengan teliti, tertulis di sana alamat Ocy di Perancis serta usaha restoran yang telah di gelutinya selama dua tahun ini.
"Bagaimana tentang pria yang dekat dengannya?" tanya Aping penasaran.
"Maaf tuan selama saya mengawasi nona Ocy tak satupun ada yang bersamanya," jelas pria yang satunya lagi.
Mereka mengatakan apa yang sebenarnya tanpa menutup-nutupi dari tuan Aping, karena mereka tahu jika pekerjaan mereka sangat beresiko, sedikit saja kesalahan maka tidak akan ada ampunan dari tuan mereka.
"Terus awasi dia saat di luar rumah!" perintah Aping tegas.
"Baik tuan," ucap keduanya serentak.
"Pergilah!" pinta Aping sambil menatap foto Ocy di handphonenya.
"Kami permisi tuan," pamit keduanya yang kemudian melangkah keluar ruangan.
Aping tersenyum simpul, kali ini dia telah menemukan dimana Ocy dan pak Jaya tinggal, serta kemungkinan bahwa Ocy belum memiliki penggantinya, dia harus mencari tahu sendiri dari pak Jaya, karena beliau tidak mungkin akan membohonginya, meski selama ini mereka saling kehilangan kontak.
__ADS_1
"Aku gak akan menyerah dapatkan hatimu Ocyku," batin Aping sambil tersenyum, semangatnya kembali membara, bertemu dengan Ocy kembali membuatnya tak bisa melupakan wanita itu untuk selamanya.
Kini Aping telah menyusuri jalanan dengan mobilnya untuk mencari alamat yang telah di berikan orang terpercayanya tadi siang, Aping tahu mungkin Ocy akan mengusirnya tapi dia tidak peduli itu.
Satu jam berlalu Aping telah menemukan alamat rumah Ocy di Perancis, tidak terlalu megah namun cukup untuk pak Jaya dan Ocy, suasana rumah yang asri di padu padan gaya arsitektur negara itu membuat kesan semakin nyaman untuk di tinggali.
Sesuai info yang di dapatkan oleh kedua orang kepercayaan Aping, rumah tersebut bukanlah milik Ocy namun dia menyewa selama dua tahun ini, menurut Aping seharusnya Ocy mampu untuk membeli rumah seperti itu, tapi kenapa dia memilih hanya menyewanya, dan lagi perusahaan yang telah Aping rebut dari pak Teo sudah Aping berikan kepada pak Jaya kembali, meski bukan mereka sendiri yang mengurus perusahaan itu namun mereka memilih Lisa untuk mengurusnya.
"Apa mungkin dia memang berniat kembali ke Indonesia suatu saat, jadi mereka tidak membeli rumah dan lebih memilih menyewa saja," gumam Aping dalam hati.
Dia kemudian melangkah ke arah pintu utama rumah itu dan mengetuknya, seseorang membuka pintu dari dalam, pandangan mereka bertemu siapa lagi yang membuka pintu itu kalau bukan Ocy, wajahnya nampak terkejut dengan kedatangan Aping, dengan gerakan cepat dia ingin menutup pintu kembali.
Namun Aping tak mau membiarkan itu terjadi, dia menahan pintu itu dengan kedua tangan dan satu kaki menerobos masuk, Ocy yang tak bisa mengimbangi tenaga Aping akhirnya membiarkan Aping menerobos masuk ke dalam rumah.
"Apa seperti ini cara menerima tamu?" tanya Aping sambil menatap heran ke arah Ocy.
"Sebaiknya kamu pergi, diantara kita sudah tidak ada apapun lagi!" ucap Ocy ke arah Aping, pandangan mereka bertemu tapi dengan cepat Ocy membuang muka.
"Apa maksudmu?" Ocy tak berani menatap Aping, hatinya akan dengan mudah luluh jika menatap kedua mata pemikat milik Aping.
Aping yang tak menyukai Ocy saat berbicara dengannya,kemudian dia memegang dagu Ocy dan menghadapkan wajahnya ke arah wajah Aping.
"Lihat, aku tidak peduli semua yang ada dalam pikiranmu tentang kejadian yang telah berlalu, yang harus kamu tahu aku tidak akan pernah melepaskan mu begitu saja," ucap Aping serius.
"Semuanya sudah berakhir Ping, aku udah punya kekasih," ucap Ocy.
"Aku tidak percaya hal itu, aku akan membawamu kembali ke Indonesia," ucap Aping membuat Ocy terbelalak, Aping tidak percaya bahwa dia mempunyai pria lain dan berencana membawanya kembali.
"Tapi Ping," ucapan Ocy terhenti saat telunjuk Aping menempel di bibir Ocy.
"Aku mohon," Aping sudah sampai di titik paling rendahnya hingga rela memohon kepada Ocy, kedua lututnya menempel ke lantai, dia memohon sambil berlutut.
Ocy merasa kikuk dengan apa yang dilakukan Aping.
__ADS_1
"Ping berdiri dong jangan kayak gini!" pinta Ocy sambil memegang kedua pundak Aping agar berdiri.
"Terima aku kembali Cy," melas Aping.
Dari lantai atas terlihat pak Jaya mengusap kedua matanya yang sedikit berair melihat pemandangan yang begitu mengharukan itu, serta rasa kesal kepada Ocy yang masih keras kepala karena mengira dirinya sendiri adalah penyebab dari kesialan Aping yang bertubi-tubi itu.
Beliau kemudian menuruni anak tangga dan menyambut Aping dengan baik.
"Aping," panggil pak Jaya saat tiba di dekat mereka.
Aping menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Om Jaya," Aping segera menghampiri beliau dan memeluknya, sama seperti memeluk ayahnya sendiri, Aping sangat merindukan pak Jaya.
Pak Jaya menepuk punggung Aping.
"Ocy terimalah dia, anggap ini permintaan papa kepadamu," ucap pak Jaya saat menatap Ocy di depannya.
Ocy hanya terdiam, dia tak bisa berkata apapun kali ini jika papanya sudah mengatakan hal seperti itu.
Visual Aping
Visual Ocy
Hanya itu yang bisa author kasih buat visualnya ya, oya jangan lupa like dan vote terus Aping.
Makasih semua.
__ADS_1