
Trio dodol menghampiri Aping saat mereka melihat Aping dan Ocy datang berbarengan.
Seperti biasa mereka kepo dengan apa yang terjadi.
"Ping lo ngapain bareng tuh cewek?" menunjuk dengan ekor mata ke arah Ocy.
Aping masih diam. Malas mau jawab pertanyaan si Zai itu.
"Lo pacaran ya Ping?" melihat Aping tidak merespon pertanyaan Zai. Geo angkat bicara.
"Kapan jadiannya?" Cen menimpali.
Aping sekilas menatap ketiganya gondok. Ingin rasanya menelan mereka mentah - mentah.
Ketiganya bingung mendapat sorotan mata dari Aping.
"Gue jadi bodyguardnya Ocy."
Sontak semua menganga tak percaya dengan ucapan Aping.
"Lo serius?" Cen tak percaya.
Aping mengangguk penuh keyakinan.
Banyak telinga menguping pembicaraan mereka. Ocy pun tak perduli dengan apa yang mereka bicarakan.
Saat jam istirahat tiba. Ocy pergi ke kantin. Dari jarak lima meter Aping selalu mengawasi gerak Ocy.Ocy merasa sangat tidak nyaman dengan pengawasan Aping. Dia kemudian menghampiri Aping.
" Ping gue mau bicara?" sambil menarik tangan Aping. Membawanya ke bawah pohon di taman sekolah.
"Kenapa?" ucap Aping datar dengan menyilang kan tangannya ke dada.
__ADS_1
"Lo bisa gak sih kalau di sekolah gak usah ngawasin gue risih tau gak?"
Aping masih diam.
"Lo denger gak sih Ping jangan buat gue tensi deh?"
Aping masih diam.
Ocy makin gondok.
"Lo manusia apa bukan sih dasar kerempeng udik muka tembok," sumpah serapah Ocy dalam hati.
Melihat wajah Ocy yang mulai merah padam Aping angkat bicara.
"Udah belum?"
Ocy melongo responnya gitu doang.
Aping menarik rambut Ocy yang di kuncir di belakang.
"Aduh sakit Ping," Ocy meronta.
"Gue bodyguard lo ingat itu," Aping berbisik di telinga Ocy. Kemudian melepaskan tangannya dari rambut Ocy.
Cewek itu sukses cemberut.
"Balik kelas." Aping berbicara tanpa mau di bantah.
"Serah gue mau kemana lo gak bisa atur hidup gue!" sentak Ocy yang mulai emosi.
Aping menatap lekat ke arah Ocy.
__ADS_1
"Dasar keras kepala," batin Aping.
"Banyak orang mengincar mu," ucap Aping tiba - tiba.
"Sedikit saja gue lalai menjaga lo mungkin lo gak pernah lagi bertemu orang tua lo," imbuh Aping yang terdengar ngeri di telinga Ocy.
Ocy mencoba menelaah ucapan Aping. Benarkah apa yang dia bicarakan itu atau hanya menggertak nya agar Ocy menurut kepada Aping.
"Kalau gak percaya ya udah," seolah tahu isi pikiran Ocy.
Ocy termenung. Apa benar yang di ucapkan papa dan Aping itu. Bahwa keluarganya dalam bahaya. Lalu siapa orang yang ingin mencelakai keluarganya.
Aping menarik lengan Ocy membawanya ke dalam kelas mereka. Ocy menurut kali ini. "Mungkin tidak terlalu buruk berteman dengan si kerempeng ini," pikir Ocy.
"Tenanglah ada gue di samping lo," ucap Aping sedikit menenangkan Ocy yang terlihat gusar usai mendengar ucapannya tadi.
Ocy hanya terdiam di kursinya.
Entah pikirannya berkelana jauh menerka - nerka siapa orang yang mengincarnya.
Saat Ocy mengambil buku dari laci sebuah surat terjatuh dari dalamnya. Ocy mengambilnya dan membaca isi surat itu.
Deg jantung Ocy berpacu seiring isi surat itu.
Aping mengambil surat itu saat melihat expresi Ocy berubah tegang.Di bacanya surat itu yang isinya.
Hidupmu berada di ujung tanduk
Satu kalimat tertulis di surat itu. Aping meremasnya menjadi tak berbentuk. Melihat Ocy masih terlihat terkejut Aping menggenggam tangannya.
"Tenang lah semua akan baik - baik saja."
__ADS_1
Ada kekuatan yang tersalur dari tangan Aping yang Ocy rasakan.