
"Aping!" panggil Cen.
Aping mencari sumber suara. Cen berlari menghampiri Aping di depannya.
"Lo kemarin pulang sekolah kemana sih,gue ke rumah lo gak ada?" Cen berjalan menyejajari langkah Aping menuju kelas mereka.
"Gue cari kerja," ucap Aping santai.
"Lo bukannya udah kerja di toko froozen food ya?"
"Buat sampingan lain Cen."
"Oh gitu," Cen mengangguk paham bagaimana sahabatnya ini berjuang untuk hidupnya. Tak mustahil Aping harus membagi waktunya untuk sekolah dan bekerja. Tapi Aping tidak pernah mengeluh. Karena itu banyak sahabatnya yang kagum padanya.
Mereka sampai di dalam kelas. Aping tak sengaja bersitatap dengan Ocy. Si anak baru.
"Apa lo liat - liat?" ucap Ocy saat melihat Aping menatapnya.
"Songong banget ni cewek." Batin Aping.
"Suka - suka gue masalah buat mata lo!" Aping menyeringai.
"Dasar udik lo," Ocy meruntuk.Sejak pertama bertemu Aping rasanya ingin mencabik - cabik muka si kerempeng itu. Biar agak mulusan dikit. Atau makin hancur.
Aping menghampiri mejanya tanpa memperdulikan perkataan Ocy.
__ADS_1
Pelajaran di mulai namun entah kenapa kali ini Aping tidak tertidur di kelas. Pikirannya melayang jauh memikirkan siapa anak pak Jaya itu. Jangan - jangan dia salah satu cewek alay yang mengejar - ngejar dirinya.
Geo,Cen dan Zai saling menatap ke arah Aping. Mereka saling bertanya dalam hati. Apa gerangan yang merasuki Aping hingga dia ogah tidur di kelas hari ini. Suatu hal yang berdampak positif bagi Aping. Semoga. Pikiran mereka masing - masing.
Usai pulang sekolah Aping bergegas ke kantor pak Jaya setelah mendapat telepon dari sekertaris nya.Sesampainya di sana Aping di suruh menunggu di ruang pak Jaya .Karena beliau masih ada rapat direksi.
Beberapa menit menunggu akhirnya pak Jaya mememui nya.
"Maaf ya Aping kamu harus menunggu lama," sapa pak Jaya.
"Gak papa pak."
"Mau minum kopi atau jus dulu biar sekertaris saya ambilkan?"
"Tidak perlu repot - repot pak."
"Pah ngapain sih suruh aku kesini?"
"Papah mau mengenalkan kamu dengan seseorang." Menunjuk ke arah Aping duduk.
Anak pak Jaya berbalik menengok siapa tamu papahnya.Mereka saling tatap.
"Lo!" ucap mereka berbarengan.
"Ngapain lo disini?" Ocy heran kenapa Aping bisa kenal sama papahnya.
__ADS_1
"Loh kalian udah saling kenal ya?" tanya pak Jaya.
"Dia temen sekelas aku pah," pak Jaya tersenyum mendengar ucapan Ocy.
"Ngapain sih pah dia kesini?"
"Papah mau Aping jadi bodyguard kamu di sekolah sampai kamu pulang kerumah."
Ocy menatap heran dengan papahnya. Kenapa harus pakai bodyguard sih.
"Gak mau pah Ocy bisa jaga diri sendiri kok," melirik ke arah Aping. Yang di lirik duduk tenang di sofa.
"Papa takut kamu kenapa kenapa nak, kemarin papa udah hampir kehilangan nyawa papa jika saja Aping tak datang waktu itu."
"Jadi cowok yang nolongin papa itu Aping," pak Jaya mengangguk. Ocy mengerti kekhawatiran papa nya. Pasalnya Ocy juga merasa akhir - akhir ini dia di ikuti seseorang.
"Tapi pa apa perlu segitunya Ocy di jagain nya?" Ocy mencoba membujuk papa nya. Sebenarnya Ocy tidak nyaman jika harus di awasi bodyguard terus. Apa lagi bodyguardnya Aping.Bisa makin eneg ngeliatnya.
"Duh sial banget sih gue kenapa coba harus dia," gerutu Ocy dalam hati.
"Papa tidak mau tahu mulai besok kamu berangkat bareng Aping dan kamu harus di jaga olehnya," ucap pak Jaya tegas tanpa mau di bantah.
"Paaah," masih memelas berharap papa nya berubah pikiran.
"HARUS!" ucap papa nya lagi.
__ADS_1
Ocy pasrah entah bagaimana nasibnya menjalani hari - hari setelah ini. Di hantui si kerempeng tiap hari.