
Pak Jaya ternyata sedang menunggu mereka di ruang tamu, Aping dan Ocy dengan segera bergabung dengan beliau.
"Om," panggil Aping, orang yang di panggil Om itu menoleh ke arah Aping.
"Sini nak Aping dan Ocy putriku," pak Jaya meminta keduanya duduk di sofa ruang tamu, merekapun duduk di samping pak Jaya.
"Sebelumnya Aping mau minta maaf sama Om Jaya, kalau mungkin om kurang berkenan," ucap Aping memulai pembicaraan.
"Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan Ping?" tanya pak Jaya.
"Aping ingin melamar putri om untuk menikah sama Aping secepatnya," ucap Aping tanpa ragu, pak Jaya tersenyum mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh Aping.
Ocy menatap kedua pria yang dia cintai itu dengan hati berdebar-debar, papanya bukan lah orang yang mudah di rayu, jika dia tidak suka maka jangan harap akan di terima.
"Om tahu dari awal kalian bertemu sudah ada benih cinta yang kuat di antara kalian, tapi bagaimana dengan pria yang di jodohkan kakek Ocy nanti?" tanya pak Jaya membuat mata Ocy berkaca-kaca.
"Apa hanya sampai sini ping cinta kita,gue gak mau nikah sama pria lain selain lo," batin Ocy menangis, dia hanya mampu terdiam mendengarkan percakapan Aping dan papanya.
Aping menatap wajah Ocy yang berubah murung setelah mendengar pertanyaan papanya itu.
"Om percaya kan sama Aping bahwa Aping bisa menjaga Ocy dengan baik?" tanya Aping.
"Om percaya, menikahlah kalian, om yakin kamu yang terbaik buat putriku," jawab pak Jaya sambil menepuk pundak Aping, sontak Aping merasa mendapat kepercayaan begitu besar dari pak Jaya, dia kemudian memeluk pak Jaya seperti bapaknya sendiri.
"Makasih om," ucap Aping terharu, begitu juga dengan Ocy hatinya lega luar biasa bahwa papanya sudah memberikan mereka restu, tinggal kapan waktu yang tepat untuk mereka melangsungkan pernikahan mereka.
"Pilihlah hari yang akan kalian tetapkan untuk menikah, biarkan orang kepercayaan om yang akan mengurus semuanya, dan persiapkan diri kalian jika sewaktu-waktu keluarga mereka datang, kalian harus tetap bersama apapun yang terjadi," ucap pak Jaya pada keduanya.
"Baik om," ucap Aping antusias, sebentar lagi dia akan menikahi Ocy, berharap tidak akan ada yang mengganggu acara pernikahannya nanti, kalaupun keluarga yang telah di jodohkan untuk Ocy datang Aping tidak akan peduli itu, dia akan tetap memiliki Ocy sepenuhnya.
Disisi lain Diandra setelah hari itu mendengar pernyataan Aping padanya, dia seperti kehilangan semangat hidupnya kembali, hatinya remuk tak lagi berbentuk.
"Aping, kamu jahat sekali!" teriak Diandra di dalam kamarnya, banyak barang berserakan di lantai karena ulahnya.
Mamanya sangat khawatir dengan keadaan Diandra yang semalam tidak keluar dari kamarnya, tanpa makan dan minum sedikitpun.
__ADS_1
"Diandra buka dong sayang pintunya, ada apa denganmu?" pinta mama Diandra.
Diandra mendengarkan mamanya mengetuk pintu dan memohon agar dirinya keluar, namun Diandra sedikitpun enggan untuk keluar dari kamarnya.
"Aku gak rela kamu sama wanita lain Ping, kamu harus sama aku," ucapnya lirih sambil menangis di dalam kamar kemudian dia menelpon seseorang yang mungkin bisa membantunya.
"Halo, bisa kita bertemu di cafe Harmoni malam ini jam 8 malam," ucap Diandra di telepon.
"Baiklah aku bisa menjemputmu dahulu," balasan dari seberang.
"Tidak perlu kamu jemput, kita bertemu langsung di cafe aja," balas Diandra.
"Oke kalau begitu mau mu," ucap orang di seberang sana.
Kemudian teleponnya di tutup sepihak oleh Diandra.
"Semoga kamu bisa membantuku kali ini," ucap Diandra lirih.
Malam pukul delapan Diandra sudah tiba di cafe Harmoni, seorang pria melihat wanita itu dari kejauhan dan berjalan menghampirinya.
"Sudah lah jangan bertele-tele, duduk dan dengarkan aku!" ucap Diandra tanpa mau berlama-lama di tempat itu, tujuannya adalah meminta bantuan dari pria itu.
"Apa gerangan yang membuat seorang Diandra harus meminta bantuan kepadaku?" pria itu mencoba mengorek emosi wanita di depannya.
"Diam kamu Wilian, kamu harus lakuin sesuatu buatku," ucap Diandra kepada pria yang bernama Wilian itu.
"Ada untungnya kah dengan ku?" tanya Wilian.
"Kamu bisa minta apapun jika kamu berhasil dengan tugas ini," Diandra memberi tatapan yakin dengan apa yang dia janjikan pada Wilian.
"Apapun?" tanya Wilian dengan senyuman smirknya.
"Tentu."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Wilian.
__ADS_1
Diandra kemudian membuka handphonenya, dia memperlihatkan sebuah foto kepada Wilian.
"Siapa dia?" tanya Wilian.
"Dia adalah wanita yang menjadi sainganku, aku ingin kamu menghabisinya!" perintah Diandra.
Wilian sejenak berfikir tentang wajah wanita yang ada di foto itu, mirip seseorang yang pernah dia kenal sebelumnya atau entah di mana mereka pernah bertemu.
"Baiklah, aku akan lakukan, tapi sebagai gantinya kamu harus turutin kemauanku sesuai yang aku ucapkan, bagaimana?" tanya Wilian mencoba membuat kesepakatan yang saling menguntungkan.
"Deal," mereka bersalaman sebagai tanda kesepakatan.
"Kapan aku akan memulainya?"
"Semakin cepat semakin baik," ucap Diandra sambil tersenyum.
Mereka kemudian pergi satu persatu, sejak saat itu Wilian memperhatikan gerak-gerik Ocy sesuai informasi yang dia dapat dari Diandra.
"Menarik wanita ini, dan sangat kebetulan seharusnya kamu menjadi milikku," ucap Wilian.
Setelah di selidiki ternyata Wilian adalah pria yang akan di jodohkan oleh Ocy oleh kakek mereka, namun sampai saat ini mereka belum bertemu, hanya dari info yang Wilian dapat dia di beri foto gadis yang akan di jodohkan dengannya, dan sebuah kebetulan Diandra menyukai pria yang di cintai oleh Ocy, dia harus ekstra kuat merebut miliknya dari pria yang cukup kuat di bidang bisnis maupun bela diri itu.
"Tunggu saatnya aku akan membawamu ke pelaminan wanitaku," ucap lirih Wilian.
Di sisi lain Ocy merasa gelisah, perasaannya tak tenang sejak pagi tadi dia merasa ada yang mengawasi gerak-geriknya, tanpa pikir berlama-lama Ocy menemui Aping di kantornya, menceritakan apa yang dia rasakan sejak pagi tadi.
"Apa lo yakin mereka mengikuti lo Cy?" tanya Aping pada Ocy selepas Ocy menceritakan apa yang dia rasakan.
"Gue yakin Ping, ada dua orang yang mengawasi gue, satunya gue kenal pengawal lo, tapi yang satunya gue curiga bukan orang lo," jelas Ocy.
"Tenanglah, selama lo sama gue semuanya akan baik-baik saja," ucap Aping menenangkan Ocy.
"Gue percaya kok Ping, tapi gue gak bisa selamanya berada di samping lo, gue juga harus kerja," ucap Ocy bingung.
"Gak papa gue akan tambah pengamanan lo dan kalau ada apa-apa lo secepatnya telepon gue," pinta Aping.
__ADS_1
"Iya Ping."