Aping

Aping
Musuh bersembunyi


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah di negara tetangga, dua orang berada di kamar, ayah dan anak saling berbincang tentang rencana mereka.


"Papa, ayolah kita kembali dan menghancurkan mereka!" ajak si anak pada ayahnya.


"Kamu ini bodoh sekali, mereka tidak mudah untuk kita serang," ucap si ayah.


"Aku pasti bisa membunuhnya untukmu dan akan ku bawa kepalanya di hadapanmu," si anak berucap penuh semangat.


"Kamu kira semudah itu, dia memang bukan dari keluarga militer, tapi rekam jejaknya perlu menjadi pertimbangan, dia bukan orang biasa," ucap si ayah memperingatkan anaknya lagi.


"Terserah apa katamu pa, aku akan tetap kembali dan menghancurkannya dengan tanganku sendiri."


"Tenanglah jangan gegabah, kita harus membuat rencana yang matang dahulu," si ayah memberi keyakinan pada anaknya.


"Baiklah kali ini aku menurutimu, tapi jika gagal lagi aku tak mau mendengarkanmu lagi!"


Setelah percakapan mereka selesai, si anak pergi meninggalkan ayahnya sendirian di dalam kamar itu.


"Dasar anak bodoh, mau mengantarkan nyawa tanpa rencana yang matang kepada si harimau itu, sia-sia aku membesarkanmu," gumam si ayah itu pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, Geo sedang sibuk menangani kasus yang menimpa sahabatnya, banyak bukti mengarah kepada satu orang, namun pihak kepolisian belum bisa menangkap pelakunya sebab mereka masih menjadi buronan.


"Bagaimana apakah kalian menemukan jejak mereka?" tanya Geo kepada bawahannya.


"Belum pak, sepertinya pelaku di lindungi oleh seseorang yang berpengaruh di kota ini, sedikitpun jejaknya belum bisa kita lacak," jelas salah satu bawahan Geo.

__ADS_1


"Sial kemana sebenarnya mereka!" Geo menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruang kerja mereka.


"Astaga kasus ini benar-benar menguras tenaga dan pikiranku!" teriak frustasi Geo sambil mengacak rambutnya.


Sebuah telepon masuk membuat Geo beranjak mengangkatnya.


"Halo?" ucap Geo.


"Mereka belum bisa di lacak, lo sabar dulu dong serahkan semuanya pada kami," ucapnya lagi menyakinkan seseorang di seberang telepon.


"Astaga iya-iya, lo gak usah ngancam gue kayak gitu!" nada suaranya mulai meninggi.


"Halo! halo!" penelepon menutup percakapan mereka, terlihat Geo sangat kesal dengan perlakuan si penelepon itu.


"Brengsek main tutup aja teleponnya! awas kalau ketemu gue hancurkan wajahnya yang jelek itu!" ucap Geo dengan suara yang menggebu-gebu.


*****


"Astaga apa sih kerjanya mereka, menangkap satu kutu saja tidak bisa?" umpat Aping sambil melempar ponselnya ke atas ranjang.


"Lebih baik gue hati-hati bisa saja mereka masih mengincar gue dan Ocy," gumamnya lagi.


Aping menatap jam di tangannya sejenak.


"Ya ampun gue lupa malam ini harus menghadiri pesta pernikahan si Jesi," ucap Aping pada dirinya sendiri, dengan segera dia menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Satu jam kemudian Aping telah selesai bersiap-siap, dia kemudian menuju kamar Ocy.


"Cy lo di dalam?" tanya Aping sambil mengetuk pintu kamar Ocy.


"Iya Ping, bentar!" suara Ocy di dalam kamar sedang menuju pintu.


"Kenapa sih?" Ocy membuka pintu.


"Aargh!" Aping terkejut melihat wajah Ocy yang sedang memakai masker untuk kulit wajahnya.


"Apaan sih lo teriak-teriak?"


"Lo kayak hantu aja, bersihin tuh muka lo!" perintah Aping pada Ocy.


"Ogah ah, baru juga gue olesin nih muka lo malah minta menghapusnya."


"Cepat lakuin atau gue bakal lakuin sesuatu ke lo!" Aping mendekat ke tubuh Ocy, membuat gadis itu mundur perlahan.


"Eits jangan macam-macam lo ya Ping!" teriak Ocy.


"Udah gak usah mikir aneh-aneh, gue kasih waktu setengah jam buat lo siap-siap," ucap Aping sambil melempar paperbag berisi gaun yang sebelumnya dia pesan untuk Ocy.


"Apaan nih?" tanya Ocy sambil mengintip isi paperbag itu.


"Gaun?" ucap Ocy bingung.

__ADS_1


"Udah cepetan!" Aping mendorong tubuh Ocy masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Aping memutuskan untuk menunggu di ruang tamu rumahnya.


__ADS_2