Aping

Aping
Nenek misterius


__ADS_3

Esoknya mereka kembali berjalan mencari rumah penduduk dan bantuan. Mereka kemudian melihat sosok manusia di depan mereka. Dengan segera mereka berjalan ke arahnya. Rupanya seorang nenek tua pencari kayu bakar. Dia sedang kesulitan menggendong kayunya. Aping dengan sigap mendekati nenek itu.


"Permisi nek boleh saya bantu membawanya" ucap Aping. Si nenek terdiam sesaat menatap keduanya.


"Kalian siapa?" tanya si nenek dengan sorot mata tajam. Hingga membuat Ocy tak berani menatapnya.


"Kita anak - anak sekolah yang tersesat di hutan ini nek," ucap Ocy.


"Kalo boleh kita bantu nenek buat bawa kayunya nek?" nenek itu mengangguk.


Aping segera membawa kayu bakar itu di atas kepalanya. Mereka kemudian berjalan mengikuti arahan si nenek.


"Ini rumah nenek kalian mau mampir dulu?" ucap nenek itu datar.


Aping meletakkan kayu bakar yang dia bawa tadi. Memandang sesaat sekitar rumah nenek itu. Tak ada lagi rumah lain di sekitarnya. Hanya satu rumah yang nenek itu tempati. Rumah yang terkesan seperti jaman dahulu.


"Apa nenek tinggal sendirian di sini nek?" tanya Aping.


"Iya nenek sendiri di sini ayo masuk lah!" nenek membawa mereka masuk ke dalam rumah. Aping menatap ke dalam rumah yang berisi banyak benda - benda antik jaman dahulu.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa nenek ini, kenapa banyak sekali benda - benda jaman dahulu di rumahnya." Batin Aping dan Ocy dalam hati.


Nenek itu kemudian menyuguhkan makanan yang sangat lezat untuk mereka berdua. Tanpa banyak bertanya mereka kemudian menikmati makanan itu. Karena sedari pagi hingga siang mereka belum makan apapun.


Melihat kedua tamunya lahap memakan masakannya. Si nenek tersenyum.


"Sebenarnya kalian dari mana kok bisa tersesat di hutan ini?" tanya si nenek.


Aping yang telah selesai makan pun menjawabnya.


"Kita sebenarnya dari Jakarta nek, tapi sedang camping di dekat hutan ini. Sampai akhirnya kita terpisah dengan rombongan kami."


Si nenek terlihat berpikir sejenak.


"Saat ini kalian sedang berada di Jawa Timur" ucap nenek itu penuh keyakinan.


"Hah!"


Aping dan Ocy melotot tak percaya, bagaimana bisa mereka berada di Jawa Timur.

__ADS_1


"Tapi gak mungkin nek?" Ocy mencoba mencari kebenarannya.


"Kalo kalian tak percaya coba kalian berjalan lurus ke arah itu," sambil menunjuk arah yang di maksud si nenek.


Aping dan Ocy mengangguk.


"Sebelum sore tiba kalian harus berjalan lurus ke sana bergandeng tangan dan jangan sekalipun terlepas. Dan jangan sedikitpun kalian menoleh ke belakang," ucap si nenek mewanti - wanti keduanya.Aping dan Ocy saling bertatap dan mengangguk menyetujuinya.


"Baiklah nek kami pamit dulu terima kasih atas jamuan nya dan bantuan nenek pada kami," ucap Aping sambil menyalami tangan si nenek di ikuti oleh Ocy.


"Iya hati - hati ya dan ingat pesan nenek tadi," ucap si nenek sambil memberikan sebuah kotak kecil kepada Aping.


"Bawa ini bersama kalian tapi buka saat kalian melihat kerumunan orang banyak."


"Baik nek."


Kemudian mereka berjalan ke arah yang di maksud oleh si nenek. Saling ber genggaman tangan dan tak menoleh sedikitpun ke arah belakang. Hingga suatu cahaya nampak menyilaukan mata mereka. Dan tubuh mereka terasa terhisap ke dalamnya. Hingga tiba - tiba mereka sampai di sebuah pasar yang penuh dengan keramaian. Aping dan Ocy saling menatap. Mereka bingung dengan apa yang terjadi kenapa tiba - tiba suasana menjadi ramai. Dan membalikkan badan mencari rumah beserta hutan yang tadi. Namun tak ada hanya ada para penjual dan pembeli yang sedang bertransaksi.


"Ping lo ngerasa aneh gak?"

__ADS_1


"Iya gue ngerasain juga ya udah kita tanya orang aja ini di mana."


"Iya."


__ADS_2