
Ocy merasa jengah pasalnya Felda benar-benar gencar mencoba mendekati Aping. Dengan terus terang meminta nomor hape Aping, dan Aping pun memberikannya tanpa sedikitpun merasa jual mahal. Aping memperhatikan raut wajah Ocy yang kesal saat melihatnya sedang mengobrol dengan Felda lewat kaca depan mobilnya. Dalam hati Aping tersenyum senang melihat Ocy terbakar api cemburu,meski status mereka belum jelas.Dia sengaja memberikan nomer hapenya pada Felda yang terlihat mengaguminya.
Mereka makan malam di sebuah restoran tak jauh dari toko tadi . Hanya ada percakapan tak penting diantara mereka. Ocy merasa sangat bosan. Hingga akhirnya mereka menghabiskan makan malam mereka dan kembali pulang. Aping mengantar Felda terlebih dahulu.
"Makasih ya Cy, kapan-kapan kita jalan lagi ya?" ucap Felda yang sudah keluar dari mobil.
"Iya Fel boleh kok,kita pulang dulu ya?" pamit Ocy pada Felda.
"Iya hati-hati ya?" ucap Felda tersenyum namun pandangannya menuju ke arah Aping.
Aping mengangguk dan mulai mengemudikan mobil.
Mereka saling diam di dalam mobil,Ocy yang memilih duduk di kursi depan hanya sesekali menatap Aping yang fokus mengemudi. Tak ada yang memulai membuka obrolan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kalau ada yang mau diomongin gak usah di simpan di dalam hati," ucap Aping tiba-tiba mencairkan suasana. Ocy menatap tajam kearah Aping.
"Gue gak lagi simpan apapun kok," ucap Ocy.
__ADS_1
"Lo yakin?" Aping menyeringai.
"Iya lah," Ocy bingung ingin berbicara apa, banyak hal di hatinya yang berduselan ingin dia katakan,namun bibirnya seakan kelu. Sulit sekali mengatakannya kepada Aping.
Aping tahu bagaimana perasaan Ocy padanya, tak mungkin Ocy tidak merasa cemburu saat Felda mendekatinya. Dia ingin melihat seberapa jauh rasa itu untuknya. Meski sebenarnya Aping pun mulai merasakan sesuatu saat berada dekat dengan Ocy. Rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan, rasa khawatir saat jauh dari gadis itu. Aping tahu mungkin saja dia mulai menaruh hati pada Ocy, namun dia tidak ingin gegabah dalam melakukan tindakan. Dia tidak mau terluka untuk yang kedua kalinya.
Hanya ada hening di antara keduanya hingga mereka tiba di rumah Ocy. Keduanya masuk kedalam rumah dan ke kamar mereka masing-masing.
Namun tiba-tiba Ocy berteriak,membuat Aping dengan cepat berlari ke kamar Ocy.
Melihat Ocy yang terdiam ketakutan Aping menghampirinya.
"Lo kenapa?" tanya Aping.
"Lihat itu Ping!" Ocy menunjuk sprei kamarnya yang penuh dengan darah. Aping melotot melihatnya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Aping namun Ocy pun tidak tahu jawabannya.
__ADS_1
Di rumah hanya ada dua pelayan, satu pembantu dan satu orang supir. Tapi tidak mungkin keduanya berani melakukan semua ini. Mereka sangat menyayangi Ocy seperti keluarganya sendiri.
Aping teringat sesuatu, dengan cepat menarik lengan Ocy dan membawanya ke dalam kamar.
"Ping lo mau apa?" tanya Ocy melihat Aping sibuk mengutak-atik laptopnya.
"Lihat ini?" ucap Aping menunjukkan sesuatu kepada Ocy. Sebuah rekaman CCTv depan kamar mereka terlihat seseorang dengan pakaian serba hitam dengan topeng di wajahnya. Dengan teliti Aping memperhatikan sosok itu. Sungguh sayang dia tidak mengenali siapa dia, dari postur tubuhnya yang tinggi tegap itu.
"Sepertinya ini satu jam yang lalu Ping?" ucap Ocy. Aping mengangguk membenarkan. Sepertinya memang belum lama orang itu masuk ke dalam kamar Ocy.
"Gue takut Ping?" ucap Ocy lagi.
Dengan cepat Aping memeluk Ocy membiarkan gadis itu tenang dalam dekapannya.
"Gue selalu jagain lo."
Aping menatap mata bulat Ocy.
__ADS_1