
Hingga sampai di tempat parkir Aping masih menarik telinga Ocy.
"Lepas deh Ping sakit!" bentak Ocy.
Akhirnya Aping melepaskan Ocy alhasil telinga kiri Ocy memerah seketika.
"Lo apa - apaan sih narik - narik telinga gue kayak gitu?" menatap Aping kesal. Namun yang di tatap hanya diam dengan sorot mata dingin.
"Jadi ini rencana lo?" Ocy bingung arah ucapan Aping.
"Maksud lo?"
"Gak usah sok gak tahu deh," membuang muka sambil tersenyum sinis.
"Gue emang gak tahu maksud lo apa?" Ocy terbawa emosi.
"Lo yang udah rencanain pertemuan ini sama Kiran kan?" Aping menekankan kata - katanya.
Ocy mematung tenggorokannya kering kerontang sangat sulit mengucapkan pembelaan.
"Lo diam berarti membenarkan!" Aping bicara naik satu oktaf.
"Gue," Ocy bicara ragu - ragu.
"Lo mau gue matahin tangan dan kaki lo?" gertak Aping yang sukses membuat Ocy memundurkan kakinya beberapa langkah.
Aping menyeringai dan mendekat ke Ocy.
"Sorry Ping gue gak ada maksud apa - apa, Kiran yang meminta bantuan gue," ucap Ocy penuh getaran di setiap katanya. Kali ini dia benar - benar ketakutan. Singa di depannya sudah sangat buas. Pikirnya.
"Tolong seseorang selamatkan aku dari singa buas ini." Batin Ocy meronta - ronta.
Aping semakin mendekat ke tubuh Ocy, sedangkan Ocy semakin terpojok. Tubuhnya kini sudah membentur body mobil terkunci oleh tangan Aping.
"Gue bakal maafin lo."
__ADS_1
Ocy menghela nafas.
"Ternyata mudah naklukin si singa ini." Hati Ocy bersorak.
"Tapi dengan satu syarat?" ucap Aping penuh keyakinan.
Deg.
"Sepertinya hawa buruk mendekat," batin Ocy.
"Syarat?"
Aping mengangguk.
"Lo harus ikuti semua kemauan gue satu bulan dari sekarang sebagai hukuman mu, tanpa terkecuali."
Ocy menelan ludahnya kasar mendengar ucapan Aping.
"Lo gak bisa gitu dong Ping," Ocy hendak protes namun mata Aping mengisyaratkan lo diem dan nurut atau tangan dan kaki lo patah.
Fiuuuh
"Gue lapar," ucap Aping enteng.
"Mau makan dimana?" Ocy paham kode kata itu artinya Ocy harus mentraktir Aping makan.
" Di rumah lo."
"Haaah lo becanda?"
"Lo gak liat muka gue?" Aping menatap Ocy di sampingnya.
"Muka lo jelek tauuuuu!" cuma di batin Ocy berani berucap kali ini.
"Oke."
__ADS_1
Mereka kemudian melaju menuju rumah Ocy yang kebetulan hanya ada asisten rumah tangga dan sopir nya. Karena orang tua Ocy ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Tak sampai tiga puluh menit mereka telah sampai di rumah Ocy dan segera menuju ke ruang makan. Ocy membuka tempat makanan. Namun tak ada apapun.
"Bibi pasti tak masak karena tadi aku pamit makan di luar. Duh gimana nih gue gak bisa masak. Mana bibi udah tidur lagi." Ocy cemberut menatap meja makan yang kosong.
"Gue mau telur dadar tapi lo sendiri yang masak."
Ocy hanya bisa mengikuti kemauan Aping.
Dan segera menggoreng telur. Dengan kaku tangan Ocy akhirnya mulai memasak telor permintaan Aping.
"Nih makan lah," sambil menyodorkan telur yang sudah di masaknya.
Aping mengambil piring itu dan mencoba memakan telurnya.
"Gak ada rasa buat lagi," ucap Aping santai dengan mendorong piring berisi telur tadi.
Ocy menghela napasnya dalam dan segera memasak telur lagi.
"Nih coba pasti enak."
Aping mencobanya. Ocy gugup mendengar Aping menilai masakannya seperti lagi ikut acara M*st*r Ch*f aja. Pikir Ocy.
"Gak enak ganti." Hingga selusin telur Ocy memasaknya. Gak ada satu pun yang di bilang enak sama Aping.
"Lo ngerjain gue ya Ping?" Kali ini Ocy sudah kehabisan kesabaran.
"Babu di larang protes."
"What lo bilang gue babu?" Ocy terheran mendengar perkataan Aping.
"Lo lupa kesepakatan kita tadi sampai satu bulan kedepan?" Aping mengingatkan kembali.
Ocy pasrah tenaga dan kesabarannya udah terkuras abis hari ini.
__ADS_1
"Mati ajalah gue." Sambil garuk - garuk tembok.