
Pak Jaya tersenyum ke arah Aping. Dia tahu bila Aping bukan anak orang kaya. Tapi dia tidak dengan mudah menerima imbalan dari bantuan yang dia berikan. Pak Jaya diam - diam kagum kepada Aping .
"Dimana kamu bersekolah ?" tanya pak Jaya ketika melihat Aping masih menggunakan seragam sekolahnya.
Ya Aping belum sempat pulang ke rumah . Memutuskan langsung ke kantor pak Jaya usai pulang sekolah.
"Di SMA Negeri Bina Bakti pak."
Pak Jaya sedikit berfikir sepertinya Aping satu sekolah dengan putri semata wayangnya. Tiba - tiba ide brilian muncul dalam kepala pak Jaya. Dia ingin membantu Aping sebagai balasan atas kebaikan Aping padanya.
"Bagaiman kalau kamu bekerja untuk saya nak?" tawar pak Jaya.
Aping sedikit berfikir apa dia perlu mengambil tawaran pak Jaya.
"Tapi saya masih sekolah pak."
"Gak papa pekerjaan kamu masih di area sekolahan mu."
Aping makin bingung menelaah ucapan pak Jaya.Melihat kebingungan Aping pak Jaya malah tertawa.Aping makin bingung lagi menatap pak Jaya yang tertawa kepadanya.
__ADS_1
Sebenarnya pak Jaya tertawa karena expresi muka Aping yang aneh. Exspresi bingung tapi campur memelas. Andai pak Jaya tahu memang seperti itu lah expresi setiap hari si Aping. Wajahnya udah di setel sedemikian rupa. Mau dia bahagia, bingung bahkan sedih pun seperti itu. Sama saja gak ada ganteng - gantengnya.
"Kamu akan menjadi bodyguard anak saya, dia satu sekolah denganmu. Bagaimana?"
Aping diam seribu kata. Otaknya berpikir keras.
" Saya ingin ada yang menjaganya. Entahlah sepertinya akhir - akhir ini ada seseorang yang mengincar keluarga saya."
Huuuuft pak Jaya menghela napas dalam. Terlihat begitu banyak beban dari raut wajahnya. Beberapa bulan ini hidupnya tak tenang karena beberapa teror yang menghantuinya. Entah itu dari musuh kerjanya atau dari orang masa lalu. Yang jelas ada yang iri dengan kehidupannya yang sekarang. Banyak cara sudah pak Jaya lakukan sampai menyewa detektif terbaik di negeri ini. Hasilnya belum juga ada. Rasa takut akan ada yang mencelakai putrinya membuat pak Jaya mencari bodyguard untuk anaknya. Namun belum ada satupun yang cocok untuk menjaga anaknya itu . Hingga akhirnya dia memilih Aping sebagai pilihan yang tepat. Pertemuannya dengan Aping seperti guratan takdir yang telah tertulis. Pak Jaya merasakan aura yang besar di diri Aping. Dengan yakin dia meminta Aping untuk menjadi bodyguard anaknya.
Mendengar kisah hidup pak Jaya membuat hati Aping meleleh. Pasalnya dia pernah kehilangan seorang anggota keluarga yang sangat dia sayangi. Akhirnya Aping memutuskan untuk menerima tawaran pak Jaya. Dengan satu syarat.
"Saya bersedia pak menerima tawaran bapak tapi dengan satu syarat," ucap Aping.
"Anak bapak tidak boleh mencampuri urusan pribadi saya."
"Baik itu mudah."
Mereka bersalaman tanda persetujuan dari keduanya.
__ADS_1
"Besok kamu akan saya pertemukan dengannya."
"Baik pak saya permisi dulu."
"Silahkan."
Aping kemudian pamit pergi dari kantor pak Jaya. Ada satu pertanyaan di benaknya. Siapa anak pak Jaya itu. Kenapa dia bodoh tak menanyakannya tadi. Aping merutuki dirinya sendiri.
Kemudian bergegas ke parkiran dan segera melajukan motornya ke jalanan kota yang sudah mulai padat oleh para pengendara yang pulang dari aktifitasnya. Senja mulai menenggelamkan cahaya matahari di ufuk barat. Membawa kegundahan tubuh yang penuh dengan rasa lelah.
Aping sampai di rumahnya beberapa menit setelah perjalanan. Pintu rumahnya tak di kunci. Seingat Aping tadi dia menguncinya.
Aping berjalan mengendap - ngendap . Perasaannya sedikit tak enak. Barangkali ada maling memasuki rumahnya. Namun tiba - tiba di tepis segera. Karena Aping ingat tidak satupun ada barang berharga di rumahnya.
Kreeeeeeet seseorang membuka pintu dari arah dapur. Aping sudah menyiapkan kuda - kuda nya.
"Aping!"
Aping mengernyit ternyata itu ibunya.
__ADS_1
Melihat gelagat aneh anaknya Rina hanya bisa nyengir.
"Dasar anak aneh," pikirnya.