Aping

Aping
Terjatuh


__ADS_3

Viko berjalan mengikuti Ocy yang sedang menuju ke toilet tanpa ada Aping di sampingnya. Viko menunggu Ocy dekat dengan toilet itu. Berharap ini adalah kesempatan baik untuknya. Beberapa menit kemudian Ocy keluar dari toilet hendak menuju kelasnya. Viko menghampirinya,meski mereka sebangku namun Ocy sangat hemat berbicara di dalam kelas. Viko pun merasa tak nyaman saat Aping berada dekat dengan Ocy.


"Ocy." Panggil Viko seraya berlari mendekatinya.


"Eh Viko dari mana?," tanya Ocy akrab.


"Gue dari toilet, lo mau ke kelas?" tanya Viko.


"Iya nih."


"Ya udah bareng yuk?" Viko mensjajarkan langkahnya dengan langkah Ocy.


"Boleh."


"Oya Cy gue boleh minta nomer hape kamu gak?" tanya Viko hati-hati.


"Boleh mana hape mu?" tanpa ada rasa curiga Ocy memberikan nomernya ke Viko.


"Makasih ya," sambil memegang hapenya yang telah terisi nomer kontak Ocy. Viko tersenyum senang. Satu langkah telah berhasil. Tinggal langkah berikutnya.


"Iya sama-sama, yuk masuk kelas!" dengan segera Ocy melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, di ikuti Viko di belakangnya. Aping menatap tajam Viko yang berada di belakang Ocy. Rasa curiga menyergapnya.

__ADS_1


Di dalam kelas.


"Gimana nih besok jadi kan?" Cen menghadap Aping dan Geo yang duduk di belakang bangku Zai dan Cen.


"Lo semua datang aja besok gue tunggu sama Ocy di rumahnya," ucap Aping santai.


"Siap bos!" Zai memberi hormat kepada Aping. Ocy menatap geli empat sekawan di dekatnya itu.


"Oe Cy jangan lupa ya buatin suguhan yang enak-enak buat kita," Cen dengan tanpa malunya berucap kepada Ocy.


"Beres." Ocy mengacungkan jempolnya.


Aping hanya geleng-geleng melihat temannya itu. Cen tidak pernah berubah selalu senang dengan hal-hal yang berbau gratisan. Padahal dia termasuk anak berkecukupan secara materi tapi sering minta traktiran teman-temannya terutama Aping.


Cen yang memiliki cita-cita menjadi dokter. Zai ingin menjadi tentara serta Geo yang ingin menjadi seorang pebisnis sukses.Mengantarkan mereka kepada semangat juang yang tak pernah lapuk. Sedangkan Aping memiliki satu tujuan yaitu bisa kuliah di London dan meraih gelar terbaik dan mempunyai perusahaan yang dia bangun dengan tangannya sendiri. Semua mimpi mereka telah terpatri di hati dan otak mereka.


Meskipun secara kasat mata mereka hanyalah anak-anak nakal yang sering keluar masuk ruang konseling. Namun semangatnya patut di acungi jempol.


"Ping yuk pulang!" teriak Ocy di telinga Aping. Membuat si empu mengelus telinganya.


"Biasa aja kali gak usah pake otot," ucap Aping sambil menjitak Ocy.

__ADS_1


"Auw main jitak aja lo! siapa suruh lo ngelamun aja?" ucap Ocy.


"Biarin, udah yuk pulang males lama-lama liat muka lo." Aping berucap dengan santainya tanpa menatap wajah Ocy dan berjalan mendahuluinya.


"Wah-wah pelecehan ini, lo kurang di timpuk ya?" Ocy mengepalkan tangannya bersiap memukul Aping dari belakang.


Dan dengan cepat Ocy mengejar Aping.


"Aping!" teriak Ocy. Aping berbalik badan melihat Ocy yang tengah berlari kepadanya.


Bruuukk.


Satu langkah sebelum sampai di tubuh Aping. Ocy terjungkal oleh kakinya sendiri dan mendarat di tubuh Aping, mereka terjatuh bersamaan dengan Ocy menindih tubuh Aping yang berada di bawahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aping sontak mata mereka saling melotot.


Kejadian itu sukses menjadi perhatian semua anak yang berlalu lalang keluar kelas mereka.


Mata Ocy dan Aping saling bertemu, jantung mereka beradu. Saling berdisko ria di dalam sana. Wajah Ocy pun merah merona dengan segera dia beranjak dari tubuh Aping. Memegang bibirnya.


Aping ikut berdiri dan mengambil tasnya yang terjatuh. Menatap Ocy yang canggung di depannya. Dia pun terlihat canggung dengan kejadian itu.


"Kalo mau mesra-mesraan di rumah lo aja."

__ADS_1


Aping berlalu setelah mengucapkan itu,yang sukses membuat Ocy semakin malu karena ulahnya sendiri.


"Dasar kaki sialan gak bisa lo di ajak kompromi." Ocy merutuk dalam hati kesialannya hari ini. Niat buruknya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


__ADS_2