Aping

Aping
S 2 : Menikah


__ADS_3

Aping dan Ocy duduk terdiam di depan pak Jaya di ruang tamu, mereka kini seperti sedang di sidang, pak Jaya menghela napas panjang, ini saatnya peran dia di mulai, mereka berdua harus bersatu apapun yang terjadi, pak Jaya menatap keduanya, Ocy menelan salivanya susah payah, dia mencium bau-bau tak baik menyeruak di hadapannya.


Sedangkan Aping masih duduk santai tapi masih bersikap sopan di depan pak Jaya.


"Besok kalian harus menikah di sini!" ucap pak Jaya membuat keduanya tercengang.


"Pa ini terlalu cepat?" bantah Ocy.


"Gak papa om Aping siap kok!" ucap Aping lantang, membuat Ocy mencibir kearahnya.


"Papa gak mau di bantah lagi, papa tahu bagaimana perasaan kalian berdua, menikah di sini dan kembali ke Jakarta," ucap pak Jaya mantap.


Ocy dan Aping saling memandang, wajah Ocy terlihat kesal sedangkan Aping tersenyum penuh kemenangan, matanya mulai nakal mengedipkan ke arah Ocy, wanita itu kemudian memalingkan wajahnya.


Akhirnya mereka menyetujui keinginan pak Jaya, mungkin ada alasan khusus kenapa harus menikah di negara ini.


Satu hari persiapan pernikahan Aping dan Ocy tidak begitu sulit, karena hanya pernikahan sederhana yang mereka lakukan di Perancis sedangkan pesta sesungguhnya di lakukan di Jakarta yang telah di siapkan oleh sekertaris Obi sesuai dengan permintaan Aping.


Kini keduanya telah berada di depan penghulu, Aping merasakan jantungnya seperti berlari maraton, sedangkan Ocy dia yang telah di make up terlihat cantik namun hanya terdiam, jantungnya juga merasa berdetak lebih cepat dari biasanya.


Pak Jaya tersenyum bahagia melihat keduanya akan menikah, di saksikan beberapa orang kepercayaan Aping dan pak Jaya mereka melakukan ijab kabul, hanya sepuluh menit mereka telah sah menjadi suami istri.


Meski tanpa persiapan yang matang namun prosesinya berjalan lancar, Aping merasa lega hatinya berbunga-bunga dapat mempersunting Ocy.


"Selamat ya kalian telah resmi menikah, papa senang sekali," ucap pak Jaya memeluk putrinya, dia hari ini harus melepas putri satu-satunya untuk pria lain.


"Makasih pa," ucap Ocy membalas pelukan papanya.

__ADS_1


"Aping jaga putri papa baik-baik, kalau sampai dia terluka saya tidak akan memaafkan mu!" perintah pak Jaya.


"Tentu saja pa, Aping akan menjaganya dengan baik," balas Aping.


Mereka larut dalam kebahagiaan hari itu meski hanya bertiga, Aping mengingat kedua orang tuanya yang belum sempat melihat dia menikah, semoga mereka tenang di surga saat ini.


"Apa kamu bahagia?" tanya Aping tiba-tiba kepada Ocy saat mereka sedang berdua di ruang tamu.


"Apa aku terlihat bersedih?" tanya balik Ocy.


"Ku harap tidak akan sedikitpun kamu bersedih setelah hari ini," ucap Aping sambil memeluk Ocy lembut.


"Aku sangat sangat bahagia Aping," ucap Ocy dalam hati.


Seharian mereka menghabiskan waktu dengan bersenda gurau di taman belakang rumah, mengingat kembali masa-masa saat mereka bersama dahulu, hingga malam tiba keduanya kembali ke dalam rumah untuk makan malam bersama.


Usai dengan makan malam, mereka membahas rencana pulang ke Jakarta besok, Aping telah menyiapkan semua keperluan penerbangan untuk mereka nanti.


***


Malam hari yang di tunggu oleh Aping telah tiba, di ranjang king size Aping telah siap menunggu Ocy melakukan pertempuran malam ini, sedangkan Ocy berada di dalam kamar mandi, dia berkali-kali menghela napas menenangkan dirinya, bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua.


Ocy melihat Aping tengah duduk bersandar di ranjang mereka, dia sedang memainkan handphonenya, Ocy mendekati Aping dengan memakai piyama tidurnya Ocy mencoba berpura-pura langsung pergi tidur.


"Udah siap Ocyku?" tanya Aping yang tiba-tiba sudah menindih tubuh Ocy.


"Em aku takut Ping?" ucap Ocy grogi.

__ADS_1


"Kita pelan-pelan saja ya?" ucap Aping sambil mengedipkan satu matanya menggoda Ocy, sedangkan wajah wanita itu bersemu merah mendengar Aping menggodanya.


Mereka memulai pemanasan di atas ranjang, saling menikmati satu sama lainnya, mulai dari mengecup bibir Ocy hingga ke area sensitifnya, Aping melakukannya dengan sangat lembut, hingga saat mereka sudah saling melucuti pakaian masing-masing, saat pakaian bawah Ocy dilepas oleh Aping sebuah tragedi merusak acara malam itu.


Di celana dalam Ocy nampak bercak darah segar, sudah jelas itu adalah darah datang bulan, Ocy yang menyadari perubahan wajah Aping akhirnya melihat ke arah tatapan mata Aping.


"Astaga Ping aku datang bulan," ucap Ocy yang baru mengetahui bahwa hari ini dia kedatangan tamu bulanan, dengan segera dia pergi ke kamar mandi meninggalkan Aping begitu saja.


Tubuh Aping lunglai, bagaimana nasib adik kecilnya di bawah sana yang sudah on sedari tadi dan tiba-tiba harus terhenti karena tamu menjengkelkan ini, malam pertama yang kacau, Aping menghela napas panjang lagi-lagi harus menahannya kembali.


"Sabar ya kamu, bukan malam ini waktunya kamu beraksi," ucap Aping pada adik kecilnya.


Ocy keluar dari kamar mandi dengan wajah bersalah, membiarkan suaminya di malam pertama mereka kecewa, tapi bagaimana lagi ini kan memang sudah kodratnya wanita, yang menjadi langganan bulanan mereka.


Ocy melihat Aping tengah berbaring di ranjangnya, Ocy pun ikut berbaring di samping Aping, tanpa ada kata-kata apapun keduanya tidur dalam perasaan tak lega karena tidak bisa menuntaskan hasrat mereka malam ini.


Pagi menjelang Aping dan Ocy serta pak Jaya telah bersiap-siap untuk melakukan penerbangan ke Jakarta, setelah sebelumnya Aping menyelesaikan urusannya di Perancis terlebih dahulu.


Tiga jam penerbangan akhirnya mereka sampai di Jakarta, Ocy sangat rindu kota itu dia tidak sabar ingin kembali ke rumahnya yang dahulu, namun Aping meminta mereka untuk tinggal di rumah milik Aping, pak Jaya menyetujuinya lagi pula Aping tidak punya siapa-siapa selain Ocy dan pak Jaya sebagai keluarganya sekarang.


"Rumah ini masih sama seperti dulu Ping?" ucap Ocy pada Aping, sedangkan pak Jaya sudah memilih kamarnya sendiri dan beristirahat karena merasa sangat lelah.


"Semua masih sama Cy, termasuk kamar kita masih sama seperti dahulu terdapat foto-foto kita berdua," jelas Aping sambil berjalan ke arah kamar.


"Benarkah?" tanya Ocy tidak percaya, selama dua tahun kenapa Aping tidak berusaha melupakannya dan malah seolah tidak terjadi apa-apa diantara hubungan mereka.


"Tentu saja, karena aku yakin kamu akan kembali ke rumah ini dan menjadi milikku seutuhnya," ucap Aping saat mereka sudah sampai di kamar.

__ADS_1


Ocy menatap kedua mata Aping dalam-dalam, terdapat ketulusan di sana, tanpa canggung lagi Ocy mencium bibir Aping, membuat Aping merona.


"Apa kamu berniat menggodaku?" ucap Aping pada Ocy yang dia pikir semakin menggoda itu.


__ADS_2