Aping

Aping
Kenapa Papa?


__ADS_3

Ocy sampai di sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari tempatnya kuliah, rumah yang lumayan rapi jika di lihat sekilas. Dia menarik dua kopernya dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah itu.


Rumah yang telah di beli oleh pak Jaya, meski dia mengatakan bahwa Ocy hanya mengontraknya dan harus membayarnya per bulan. Pak Jaya sengaja mengatakan hal tersebut karena ingin melihat seberapa besar tanggung jawab Ocy dengan hidupnya sendiri.


Ocy membuka pintu rumah itu dengan kunci yang di serahkan oleh papanya, memandang seisi rumah kecil itu.


"Sepertinya tidak terlalu buruk, mungkin perlu sedikit dirapikan saja," batin Ocy kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya, merebahkan diri di ranjang berukuran kecil yang terlihat tak begitu nyaman untuk di tiduri. Tapi Ocy harus bisa menerimanya, dia akan membuktikan kepada papanya bahwa dia mampu hidup tanpa sepeserpun uang dari pak Jaya.


Tiba-tiba wajah Aping muncul dalam lamunannya, membawa secercah rindu di hati Ocy.


"Lagi apa lo sekarang Ping?" tanya Ocy dalam hatinya yang kesepian.


Di sisi lain Aping yang sedang kuliah merasakan dirinya sedang di pikirkan seseorang.


"Pasti lo kan yang lagi kangen gue, Ocy?" gumam Aping sambil tersenyum membayangkan wajah manis Ocy.


Waktu terus bergulir, Ocy telah mendapatkan pekerjaan part time menjadi kasir sebuah minimarket yang berada dekat kampusnya. Dari hasil kerja dia bisa membeli kebutuhannya, meskipun tak banyak hasilnya namun Ocy selalu mensyukuri itu.

__ADS_1


"Ocy!" panggil Lisa dari kejauhan, dia berjalan mendekati Ocy yang sedang melamun di taman kampus. Ocy menoleh melihat siapa yang memanggilnya.


"Lisa."


"Lo ngapain di sini? ngelamunin Aping ya?" tanya Lisa. Ocy hanya mengangguk.


"Gue kangen dia, tapi akhir-akhir ini kita lost kontak, gue gak tahu dia di sana ngapain," ucap Ocy pasrah menghela napas dalam, semakin hari semakin sulit berkomunikasi dengan Aping.


"Lo harus sabar Cy, mungkin dia sibuk jadi belum sempat ngabarin lo, lagian ini emang ujian hubungan jarak jauh kalian," jelas Lisa.


"Lisa bener mungkin ini ujian, tapi kenapa gue ngerasa ada yang hilang di hati gue," batin Ocy.


"Iya Ocy apa sih yang gak buat lo, yuk balik!" ajak Lisa.


Mereka kemudian melangkah menuju parkiran motor, selama ini Ocy belum memiliki motor maka dari itu dia nebeng dahulu sama Lisa, lumayan uangnya bisa buat kebutuhan lain, sedangkan Lisa dengan senang hati menjemput sahabatnya itu.


"Yuk Cy!" ajak Lisa sambil memberikan helm kepada Ocy.

__ADS_1


Tiba-tiba hape Ocy berbunyi, nomor tak di kenal tertera di layar hape tersebut.


"Bentar Lis ada yang telpon," ucap Ocy sambil menerima telepon itu.


"***Halo? siapa ini?"


"Halo ini dari perusahaan pak Jaya, beliau tiba-tiba pingsan dan kami membawanya ke rumah sakit Kasih Cempaka, tolong anda segera datang***!"


Deg.


Hati Ocy seperti tersayat pisau tajam, tak terasa air matanya meleleh memikirkan kemungkinan apa yang terjadi dengan papanya.


"Lo kenapa Cy?" tanya Lisa yang melihat perubahan wajah Ocy.


"Papa gue Lis," ucap Ocy sambil menangis.


"Papa lo kenapa?" tanya Lisa bingung.

__ADS_1


"Papa masuk rumah sakit, kata sekertaris nya papa pingsan tadi."


"Ya udah ayo gue anterin ke rumah sakit!" Lisa meraih tangan Ocy agar naik ke motornya, Ocy menuruti Lisa, mereka kemudian menuju rumah sakit Kasih Cempaka.


__ADS_2