Aping

Aping
S 2 : Ketuban Pecah


__ADS_3

Hari ini adalah akhir pekan, Aping, Ocy dan keempat temannya berencana akan bertemu di cafe, Aping sebenarnya telah melarang Ocy untuk ikut mereka namun wanita itu tetap ingin pergi bersama Aping.


"Kamu yakin sayang ikut kita, udah masuk bulan ke sembilan loh?" tanya Aping pada Ocy yang sebenarnya kasihan melihat perutnya yang sudah membesar, bahkan langkah kakinya mulai kesulitan saat berjalan.


"Iya dong sayangku, lagian aku bosen banget di rumah melulu," ucap Ocy sambil menggelayut manja di lengan Aping.


"Baiklah, tapi kamu tidak boleh jauh dariku ya," pinta Aping sambil mencubit pipi Ocy.


Sore hari mereka akhirnya ke restoran yang sudah di pesan oleh Aping khusus untuk mereka berkumpul, di susul beberapa teman mereka juga telah sampai di sana berbarengan dengan kedatangan Ocy dan Aping.


"Aping! Ocy!" teriak Cen dari ujung pintu masuk, membuat beberapa pasang mata memandang ke arah mereka.


"Astaga makhluk ini buat ulah aja," batin Aping sambil menggelengkan kepalanya.


Aping berpura-pura tak mendengarnya hingga Lisa dan trio dodol itu masuk ke meja yang telah di pesan Aping.


"Lo bisa gak sih jaga mulut lo itu," ucap Aping saat Cen tiba di meja mereka, namun Cen hanya nyengir tanpa dosa setelah membuat sumber perhatian bagi mereka.


"Oke-oke nanti akan gue ulangi," ucapnya santai.


Mereka serentak menjitak kepala Cen, membuat pria itu kesakitan.

__ADS_1


"Apaan sih kalian tega deh," ucap Cen sambil berekspresi menyedihkan, mereka menahan diri agak tak muntah di meja itu.


"Aduh," jerit suara Ocy memecah suasana seketika, pandangan mereka kini beralih ke arah Ocy yang telah memegang perutnya.


"Kenapa sayang?" tanya Aping sambil merangkul istrinya.


"Perutku sakit sekali," ucapnya dengan suara pelan.


"Jangan-jangan Ocy mau melahirkan?" ucapan Lisa membuat Aping gugup.


"Cepat bawa ke rumah sakit!" ucap Zai selanjutnya, Aping mematung seketika dia bingung sekaligus takut menghadapi itu yang baru pertama kalinya dia alami.


"Aping cepat!" teriak Lisa menyadarkan Aping kembali dengan sigap dia menggendong tubuh Ocy menuju ke luar restoran.


"Biar gue aja yang nyetir," ucap Geo setelah Aping masuk ke dalam mobil menemani istrinya.


Lisa juga masuk ke dalam mobil yang di tumpangi Ocy, dia duduk di sebelah Geo, sedangkan Cen dan Zai mengikuti mereka dari belakang dengan mobil milik mereka masing-masing.


Perjalanan terasa lama karena saat itu jalanan sedikit macet, Ocy semakin pucat, Aping semakin panik begitu juga Geo yang saat ini sedang mengemudi.


"Sial macet lagi," runtuk Geo.

__ADS_1


Butuh waktu setengah jam mereka untuk sampai di rumah sakit terdekat, Aping segera mengangkat tubuh Ocy di bantu oleh Geo, dan kemudian para tenaga medis mulai membantu mereka.


Aping berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin, tampak wajahnya begitu gelisah karena dia tidak diizinkan oleh dokter untuk ikut masuk ke dalam ruangan itu.


Beberapa menit kemudian pak Jaya tiba di rumah sakit dan menghampiri Aping yang masih saja mondar-mandir di depan ruang bersalin.


"Gimana Ping?" tanyanya.


"Papa, belum tahu pa dokter masih memeriksa Ocy," jawab Aping.


Keempat temannya juga masih ada di sana, menunggu penjelasan dari dokter tentang keadaan Ocy dan bayinya.


Dokter tiba-tiba keluar dan sedikit terburu-buru menghampiri Aping.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Aping pada dokter Asni.


"Ada sedikit masalah pada air ketubannya, kita harus segera mengambil tindakan operasi," ucapnya, bagai di sambar petir Aping seketika lemas mendengar ucapan dokter Asni barusan.


"Pembukaan dua, namun air ketubannya sudah pecah," imbuh dokter Asni.


"Lakukan yang terbaik dokter," ucap Aping mengambil keputusan.

__ADS_1


Dokter Asni segera memerintah para perawat memindahkan Ocy ke ruang operasi, Aping tak lagi bisa tenang, pikirannya menjadi kacau saat dokter Asni memberi tahu keadaan Ocy yang tidak sedang baik-baik saja.


__ADS_2