
Hingga malam tiba Felda pamit pulang ke rumahnya,setelah dia meyakinkan Ocy untuk menemui Aping. Ocy yang teringat tentang pesan Aping segera mempersiapkan dirinya. Mengganti pakaian rumahannya dengan dress berwarna blue mint dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja. Dengan make up tipis dan lipstik merah bata yang dia oleskan di bibir mungilnya. Ocy bergegas menuju taman kota.
Aping sekali lagi menatap jam di tangannya,dia sudah menunggu Ocy satu jam lebih namun kenapa dia belum datang juga. Pikiran Aping menjadi tak tenang,berkali-kali dia mencoba menghubungi Ocy namun selalu tidak dia angkat.
"Apa lo benar-benar gak mau ketemu gue lagi Cy?" tanya Aping dalam hati.
Di sisi lain, Ocy mengumpat kesal pasalnya ban mobilnya tiba-tiba bocor di tengah jalan yang lumayan jauh dari keramaian. Sesekali dia menatap ke ujung jalan barangkali ada taksi yang melewatinya.
Sungguh naas menunggu hingga setengah jam tak ada taksi yang datang juga. Sialnya bertambah saat teringat hapenya tertinggal di ranjang kamarnya. Benar-benar malam yang sial baginya. Berharap seseorang bisa menolongnya kali ini.
Aping mulai resah,dilihatnya lagi hape miliknya. Pesannya pun tak di baca oleh Ocy.
Dia menghela napas berat,dengan langkah gontai dia menuju ke motor. Sekali lagi dia menatap di ujung jalan berharap Ocy akan muncul di sana.Namun tidak ada gadis yang di nantinya. Aping menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan sedang. Pikirannya melayang ke rumah Ocy,dia segera menuju ke sana.
Ocy berjalan menapaki jalanan sepi itu untuk menuju ke tempat yang mungkin lebih ramai di depan sana. Sekilas Ocy menatap ujung jalan itu, terlihat sosok yang dia kenal mulai mendekatinya.
"Ocy?" panggil Aping heran kenapa gadis itu berjalan di tengah malam sendirian.
"Aping!" berlari dan memeluk tubuh Aping yang masih di atas motor.
__ADS_1
"Lo kenapa di sini?" tanya Aping.
"Gara-gara lo gue jadi kayak gembel gini," ucap Ocy dengan bibir mengerucut.
Aping melihat mobil milik Ocy di ujung jalan di depannya, bibirnya tersenyum.
"Udah naik sini?" pinta Aping menunjuk motornya.
"Iya," tanpa melawan Ocy mengikuti perintah Aping.
Mereka melaju menembus dinginnya malam itu, Ocy memegang ujung jaket yang Aping kenakan.
"Ocy," panggil Aping menatap manik mata cokelat gadis itu.
Ocy menegang seketika saat tatapan mereka bertemu,belum pernah Aping seserius ini berbicara dengannya. Jantung keduanya berdetak sangat kencang.
"Kenapa Ping?" Ocy mencoba mengatur nafasnya.
"Gue-" ucapan Aping terhenti,ragu-ragu mengatakannya kepada Ocy.
__ADS_1
Ocy menautkan kedua alisnya,menatap heran cowok di depannya itu.
"Lo kenapa Ping?" tanyanya lagi.
"Gue besok ke London dan menetap di sana beberapa tahun," ucap Aping hati-hati.
"Gue udah tahu," Ocy berucap santai.
"Siapa yang bilang ke lo?"
"Gue tahu dari Felda,kenapa lo jahat banget gak jujur sama gue Ping?" mata Ocy berkaca-kaca menatap wajah manusia di depannya itu. Dalam hati dia ingin memakan Aping hidup-hidup,meluapkan kekesalannya selama ini. Namun sedikitpun Ocy tak berani melakukan itu.
"Gue gak mau lo kepikiran aja Cy," ucap Aping.
"Lo takut gue kepikiran tapi lo gak takut kehilangan gue," ucap Ocy disertai tangisannya.
Aping menghapus air mata Ocy dengan kedua tangannya dan membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Gue yakin lo gak akan pergi dari gue,meski gue jauh dari lo," Aping berucap dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Kenapa lo bisa yakin seperti itu Ping,sedangkan lo gak pernah mengikat gue,lo gak pernah tahu perasaan gue!" Ocy memukul dada bidang Aping dengan kedua kepalan tangannya. Tubuhnya bergetar hebat menahan luapan tangis yang siap meledak.