Aping

Aping
Pemilik Tato


__ADS_3

Setelah mengantarkan Ocy pulang ke rumahnya. Aping berpamitan untuk kembali tinggal di rumah miliknya. Tante Elin sebenarnya berat melepas Aping tinggal sendirian. Tapi karena Aping kekeh jadinya dia mengizinkannya.


Aping kembali ke rumah yang penuh dengan kenangan bersama orang tuanya. Canda dan tawa yang mereka lalui bertiga kini tinggal kenangan. Kenangan yang hanya terukir di memori Aping. Rasa rindu kini menyelimuti hatinya. Rindu akan nasihat bapak dan ibunya. Rindu dengan perlakuan mereka. Rindu ingin di peluk penuh kehangatan seperti saat dia kecil dahulu. Semuanya sesak dalam hati Aping, berjubel ingin keluar dari sarangnya.


"Aping janji akan menemukan siapa yang memisahkan kita ibu," sambil mengelus foto ibunya.


"Aping juga akan menjadi apa yang bapak inginkan," mengelus foto bapaknya.


"Aping akan berdiri kokoh dengan kedua kaki Aping sendiri," ucapnya lagi penuh dengan keyakinan.


Kini hanya ada kesunyian di dalam rumah itu.


Rumah yang menjadi saksi tumbuh seorang anak kecil yang menguat karena keadaan yang memaksanya. Seorang anak kecil yang saat ini sudah tumbuh menjadi pribadi yang sulit di tebak. Namun tangguh menghadapi kehidupan.


Aping berjalan menuju kamarnya. Membaringkan tubuhnya yang letih di atas ranjang miliknya. Hingga matanya terlelap menuju alam mimpi.


Braaaak


"Ampun tuan ampun," terdengar suara gaduh di luar rumah Aping. Berhasil mengganggu tidur Aping sore itu. Matanya menatap ke luar jendela. Sepertinya kegaduhan itu berada di rumah tetangganya. Suaranya semakin keras terdengar, Aping mencoba mencari tahu. Dilihatnya seorang wanita tua sedang bersujud meminta pengampunan kepada seorang pria bertubuh tegap dengan wajah yang sangar. Pemandangan yang menyakitkan mata Aping.

__ADS_1


Aping menatap tajam ke arah pria itu. Sebuah tato terlihat saat lengannya menarik tubuh wanita tua di depannya. Tato yang tak asing bagi Aping. Kemudian pria itu masuk ke dalam mobil dengan menarik wanita tua itu bersamanya. Entah masalah apa yang membuatnya masuk dalam masalah itu. Keadaan wanita tua itu tak lagi terlihat baik. Banyak luka lebam di wajahnya. Aping yakin pria itu yang melakukannya.


Saat mobil itu sudah bergerak menjauh, Aping baru menyadari tato yang di miliki pria itu sama seperti pria yang terekam CCTv yang telah merenggut nyawa ibunya.


"Bodoh!" Aping merutukki dirinya sendiri yang terlambat menyadari keberadaan pria itu.


Dengan cepat Aping menyambar motornya. Melajukan dengan kecepatan maksimum. Mencoba mengejar mobil pria itu. Jarak mereka terlalu jauh untuk saling terlihat. Aping kehilangan jejaknya.


"Sial sial sial!" Aping berhenti dan mengusap kasar wajahnya. Tinggal selangkah dirinya bisa menghancurkan pria itu.


"Mungkin bukan hari ini kematian mu." Batin Aping menyeringai. Menampakkan wajah yang penuh dendam. Hatinya benar - benar terbakar kebencian. Sekilas dia mengingat wajah pria itu dan menyimpannya di memori otaknya.


Aping kembali ke rumahnya menatap tajam seorang cewek yang berdiri di depan rumahnya.


Kemarahan Aping makin menjadi melihat sosok itu. Ingin rasanya menenggelamkannya ke dasar bumi yang paling dalam.


"Ngapain lo?" ucap Aping dengan ketus.


"Gue mau bicara sama lo," ucap Kiran.

__ADS_1


"Gue baru sadar ternyata lo itu cewek bodoh," Aping menampilkan senyum penuh kebencian.


"Maksud lo apa?" Kiran mulai terpancing kata - kata Aping.


"Lo kan yang udah rencana in semuanya, rencana teror dan insiden di camping itu?" ucap Aping datar.


Wajah Kiran membeku Aping ternyata lebih pintar dari dugaannya.


"Maksud lo apa sih Ping gue gak ngerti?" Kiran mencoba berkilah.


Aping menarik kerah baju Kiran.


"Ingat apa yang gue katakan baik - baik jauhi Ocy dan jangan pernah sentuh dia sedikitpun jika lo masih mau kulit lo yang putih ini melekat di tubuh lo!" suara Aping naik satu oktaf namun Kiran malah tertawa.


"Hahaha segitunya lo lindungi cewek itu, apa lo punya perasaan ke dia?" Kiran tak gentar sedikitpun.


"Bukan urusan lo!" mendorong tubuh Kiran hingga terjatuh.


"Gue yakin lo masih cinta sama gue Ping," sambil menatap mata Aping Kiran pergi menjauh dari rumah Aping. Meninggalkan Aping dengan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2