
Aping sampai di kantor setengah jam kemudian, sekertaris Obi sudah menunggunya di ruangan presdir.
"Maaf tuan, saya harus menelepon anda tentang masalah ini," ucap sekertaris Obi menyesal saat Aping telah masuk ke dalam ruangan.
"Sudahlah ini memang tanggung jawabku sebagai presdir utama di sini, siapkan berkasnya kita ke ruang rapat segera!" perintah Aping sambil melangkah menuju ruang rapat, sekertaris Obi mengikutinya.
Kini mereka sudah berada di ruang rapat, beberapa pemegang saham sudah berada di tempatnya begitu pula orang yang meminta Aping untuk hadir, seorang wanita anggun pemilik perusahaan CAO.
Wanita itu menatap intens ke arah Aping yang sedang memimpin rapat kali ini, pandangannya seperti terhipnotis oleh pesona Aping.
Tanpa berlama-lama dia menyetujui kerja sama mereka, dan mendatangani kontrak kerja sama besar di antara dua perusahaan itu, meski perusahaan milik keluarga Diandra tak sebesar perusahaan yang di pimpin Aping, namun karena reputasinya perusahaan itu mempunyai nilai lebih di kalangan pebisnis.
Saat rapat telah selesai semua pemegang saham keluar dari ruangan rapat, hanya tersisa Aping dengan sekertaris Obi serta pimpinan perusahaan CAO dengan sekertarisnya pula.
"Tuan Aping," sapa wanita yang di ketahui bernama Diandra itu, Aping menoleh ke arahnya.
"Ada apa nona Diandra?" kali ini sekertaris Obi yang berbicara mewakili Aping yang masih terdiam.
"Boleh kita bicara empat mata tuan Aping?" tanya Diandra tanpa menjawab pertanyaan sekertaris Obi dan tetap menatap ke arah Aping, sedangkan sekertaris wanita itu telah pamit keluar ruangan terlebih dahulu.
Namun berbeda dengan sekertaris Obi yang masih di tempatnya berdiri, Diandra menatap sekertaris Obi berharap orang tersebut pergi keluar.
"Anggap saja dia tidak ada, silahkan ingin berbicara apa nona Diandra?" tanya Aping tanpa basa-basi lagi.
Terlihat wajah Diandra yang kecewa dengan ucapan Aping barusan.
"Apakah besok tuan ada waktu, barangkali kita bisa saling lebih dekat, bukankah itu suatu hal yang baik dalam bisnis kita?" perkataan Diandra sudah bisa di tebak oleh Aping.
"Sepertinya anda salah orang nona, saya bukan presdir yang menghalalkan cara untuk bisnis, apa lagi tentang keakraban," ucap Aping membuat Diandra kalah telak.
"Sepertinya dia bukan orang yang mudah dekat dengan wanita, sikapnya begitu dingin, tapi aku semakin penasaran," batin Diandra.
"Kenapa kita tidak mencoba tuan?" dia tak mau kalah begitu saja.
"Maaf nona Diandra, jika pembicaraan ini bukan karena bisnis saya harus permisi dahulu, ada hal yang lebih penting di luar sana yang memerlukan penanganan saya!" nada bicara Aping naik satu oktaf.
__ADS_1
Dia kemudian berbalik dan meninggalkan Diandra seorang diri di ruangan itu, dalam hati sekertaris Obi menahan tawanya melihat bagaimana tuan besarnya membuat seorang wanita mati kutu, dia mengikuti Aping ke ruangannya.
"Sialan dia, belum pernah sekalipun pria menolak kecantikan ku, kenapa dia berbeda?" batin Diandra kesal.
Saat berjalan di luar ruangan Aping memperhatikan sekertaris Obi yang menahan tawanya.
"Tertawalah sebelum kamu di tertawakan!" suara Aping terdengar seperti mengejek.
"Maaf tuan, saya tidak ada maksud untuk hal itu, tapi sepertinya wanita tadi menyukai tuan Aping."
"Aku tidak peduli tentang hal itu," ucap Aping acuh.
Mereka kemudian menuju ruangan presdir, Aping harus menandatangani beberapa laporan perusahaan.
"Obi," panggil Aping.
"Iya tuan," sekertaris Obi mendekat ke tempat Aping duduk.
"Menurutmu bagaimana jika kamu mengetahui wanita yang kamu cintai ternyata telah di jodohkan sebelumnya dengan pria lain?" tanya Aping serius, sekertaris Obi terhenyak dengan pertanyaan Aping.
"Astaga apa tuan sedang patah hati?" tanya sekertaris Obi pada hatinya sendiri.
"Lupakanlah itu, aku lupa kamu belum pernah merasakan jatuh cinta," ucap Aping dingin.
Glek.
Rasanya ngena banget di hati Obi, meskipun dia tidak bisa menyangkalnya, tapi dia merasa tak berguna jika berurusan dengan hati wanita dia tidak bisa membantu tuannya.
"Baik tuan," ucapnya.
"Apa ada hubungannya dengan nona Ocy tuan?" tanya sekertaris Obi melihat tuannya sedang melamun.
Aping tidak menjawab, dia hanya menghela napasnya panjang, kemudian dia teringat oleh perkataan pak Jaya yang masih terpotong karena dirinya, dengan segera dia mengambil kunci mobil.
"Obi, kamu urus sisanya," ucap Aping sambil berjalan ke luar ruangannya meninggalkan berkas-berkas di meja kerjanya begitu saja.
__ADS_1
"Baik tuan," sekertaris Obi hanya bisa menurutinya.
Setengah jam kemudian dia telah sampai di rumah Ocy, kembali mencari pak Jaya namun tak dia temukan.
"Cy di mana om Jaya?" tanya Aping saat melihat Ocy turun dari tangga.
"Papa sedang istirahat Ping, sepertinya dia sangat lelah memikirkan tentang percakapan tadi pagi," jelas Ocy.
"Apa semuanya akan baik-baik saja setelah hari ini Ping, gue dengar sebulan lagi keluarga itu akan kembali ke sini, itu artinya kita akan-" ucapan Ocy terhenti saat jari telunjuk Aping menyentuh bibir mungil gadis itu.
"Lo percaya sama gue kan Cy?" tanya Aping melihat manik mata Ocy sangat dalam seperti hendak menyelami hati gadis itu.
"Gue percaya sama lo Ping,tapi gue takut bakal kehilangan lo," ucapnya.
Aping kemudian memeluk tubuh Ocy, membawanya dalam pelukan yang penuh kehangatan.
"Gue gak akan biarin lo di rebut siapapun, gua gak peduli siapa orang yang telah di jodohkan sama lo itu, gue bakal lawan dia," Aping sangat serius mengatakan hal itu.
Hanya ada isak tangis yang Aping dengar dari gadis yang dia peluk itu, dalam hati dia berjanji akan menjaga gadis itu selamanya.
"Lo harus janji Ping," ucap Ocy sambil menjentikkan jari kelingkingnya ke udara, Aping meraih dengan jari kelingking miliknya.
"Gue janji!" tegas Aping.
Dari lantai atas diam-diam pak Jaya memperhatikan keduanya, senyum merekah di sudut bibir lelaki itu.
"Sepertinya cinta kalian benar-benar tulus, mana mungkin ada orang yang berani mengganggunya," batin pak Jaya yang kemudian kembali ke dalam kamarnya.
Di sisi lain Diandra sangat kesal telah di tolak mentah-mentah oleh Aping, sebagai wanita kelas atas dia seharusnya bisa dengan mudah mendapatkan pria manapun dia mau.
"Gue pasti bisa dapatkan hatimu Aping, apapun akan ku lakukan untuk meluluhkanmu," ucap Diandra sambil menyeringai menatap foto Aping di layar handphonenya.
Tidak ada kata menyerah pada dirinya ketika menginginkan sesuatu, dia harus bisa mendapatkan itu, entah kenapa pesona Aping begitu menyilaukan mata dan hatinya.
Diandra sebelumnya pernah bertemu dengan Aping dan pertemuan pertamanya itu yang membuat dia jatuh hati, dengan cara apapun dia harus berada dekat pria itu.
__ADS_1