Aping

Aping
Merebut kembali


__ADS_3

Setumpuk kertas berada di meja kerja seorang pria, dia menatap kertas-kertas yang telah di bacanya sambil menyunggingkan sudut bibirnya ke atas, pikirannya tertuju kepada satu orang nama di kertas itu. Teo Wijaya Sedono satu nama yang akan dia hancurkan kekuasaannya saat ini juga.


Pria itu adalah Aping.


"Tunggu kehancuran mu!" ucapnya lirih.


"Obi," panggil Aping.


"Iya tuan," Obi mendekat, dia adalah sekertaris kepercayaan Aping.


"Lakukan tugasmu sekarang!" perintahnya.


"Baik tuan, sebentar lagi tuan akan mendengar kabarnya," Obi telah berjanji setia dengan Aping sejak tiga tahun lalu.


Dia menjalankan tugas yang di berikan oleh Aping dengan baik.


Di sisi lain seorang pria menahan kepalan tangannya.


Brakk!!


Dia menggebrak meja kerjanya, menatap laporan yang baru saja dia terima.


"Siapa yang berani main-main denganku hah!" teriaknya sambil melempar kertas-kertas itu kepada sekertaris nya itu.


"Maaf tuan dia adalah anak muda yang baru terjun ke dunia bisnis sekitar tiga tahun yang lalu," jelas sekertaris itu.

__ADS_1


"Baru tiga tahun sudah menghancurkan perusahaan ku!?" pertanyaan yang membuat gugup sekertaris nya.


"Dia bukan orang sembarangan tuan, banyak perusahaan besar yang berhasil dia kuasai hanya dalam tiga tahun itu, semua investor ada dalam kekuasaan mutlaknya."


"Brengsek bawa aku bertemu dengannya!" perintah pria itu dengan penuh amarah, sekertaris nya hanya mengangguk, tak berani membantahnya.


*****


"Sepertinya kita akan kedatangan tamu spesial hari ini," Aping menyeringai melihat tampilan CCtv di lobi dari ruangannya.


"Apa perlu kita adakan penyambutan spesial tuan?" tanya sekertaris Obi.


"Tentu saja kita bisa menyambutnya hangat bukan?" lagi-lagi Aping menyeringai.


Braakk!


Dia menggebrak meja di depannya, dan menuju ke arah Aping, sekertaris Obi mendekat ingin membereskan pria itu, namun sorot mata Aping mengurungkannya.


"Silahkan duduk dulu tuan Teo Wijaya Sedono," ucap Aping sambil tersenyum.


"Ciih dasar anak ingusan, apa yang kamu lakukan dengan saham perusahaan saya hah!?" bentak pak Teo penuh emosi.


Aping malah tertawa sinis, membuat seisi ruangan menjadi meremang seketika.


"Pria yang anda bilang ingusan ini, kenapa anda harus takut menghadapinya?" pertanyaan Aping seperti sindiran bagi pak Teo.

__ADS_1


"Kamu?" Teo hampir kehilangan kendali, lengannya tertahan oleh sekertaris Obi sebelum mendarat di pipi Aping.


"Apa mau mu sebenarnya?" tanya pak Teo geram.


"Saya hanya ingin mengambil alih apa yang seharusnya bukan menjadi milik anda, bukankah itu yang anda lakukan tiga tahun lalu?" Aping menatap tajam kedua manik mata pak Teo, terlihat guratan di dahinya saat mendengar ucapannya.


"Sial jadi dia bagian dari pria brengsek itu!" batin pak Teo.


"Hahaha jadi kamu bersekongkol dengan Sanjaya untuk menghancurkan ku, begitu tujuanmu?" pak Teo tak gentar.


"Semua ini murni keinginan saya, jadi anda harus bersiap-siap hancur atau lebih tepatnya merasakan kehancuran yang sama."


"Obi bawa tamu kita keluar, mata saya sakit melihatnya!" perintah Aping kepada sekertaris Obi.


"Baik tuan."


"Silahkan kalian keluar dari ruangan ini," ucap Obi pada pak Teo dan sekertaris nya.


"Lepas, saya bisa jalan sendiri!" pak Jaya menepis tangan sekertaris Obi.


Mereka berjalan keluar ruangan itu.


"Kerja bagus Obi, kita sudah menghancurkannya," Aping tersenyum puas, satu permainan telah usai.


"Tentu saja tuan, tidak ada yang berani mengganggu tuan sekarang."

__ADS_1


__ADS_2